Menampilkan pendapat yang bisa jadi tercipta setelah meminum hal yang memabukan
Semoga netizen segera sadar untuk Report/laporkan orang2 yang opininya sampah !
Jika 6 juta adalah nilai dari pajak sebesar 5%/bulan, maka keuntungan total per bulan dari bakul bakso itu adalah sebesar 120 juta perbulan atau setara 4 juta per hari!
Bakul bakso mana yang untung bersih 4 juta per hari?
Itu pegawai pajak atau anggota ormas ya? Koq sama-sama hobi malak ya! 🙄
In this economy in this economy...
In this economy tuh harusnya kita USIR tu para bule-bule yang buka bisnis dan melakukan gentrifikasi terhadap warga lokal!
“Kosong” bukan berarti pemerintah tidak melihat ada orang yang hidup di Papua. Tapi, pemerintah melihat tiap tanah yang masih ditutupi hutan tak ada pemiliknya.
Persis seperti kolonial melihat Indian atau Aborigin.
Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Bapak Slamet Suradio (Mbah Slamet), masinis legendaris dari KA 225.
Sejarah takkan pernah melupakan Tragedi Bintaro 1987 yang kelam, di mana beliau merasa tidak pernah mendapatkan keadilan yang semestinya sebagai masinis selama hidupnya.
Kini, biarkanlah beliau beristirahat dengan tenang. Semoga beliau mendapatkan keadilan sejati di hadapan Tuhan Yang Maha Adil. Terima kasih atas segala dedikasi dan pengabdian panjang Bapak di dunia perkeretaapian Indonesia. Doa terbaik kami menyertai almarhum dan keluarga yang ditinggalkan, amin 🙏🏻 🥀🕊️
@creeping5ilence Lagi siap-siap ya mau perang dengan rakyat??? Jadi rakyat nanti tidak bisa demo atau protes lagi 😔😭 bukannya fokus pada masalah malah main tembak-tembakan
foto PAK DADAN di mana-mana, terlihat menyedihkan. tapi ironinya, sebetulnya dia gak senaas itu.
sejak dulu sering bilang, hukuman terberat untuk koruptor itu hanya pada saat ditangkap dan jadi berita.
jadi samsak hujatan seindonesia raya, tapi bentar doang.
setelah vonis pengadilan, apapun hukumannya, hidupnya akan kembali enak.
masih bisa menjalani hidup nyaman di lapas, keluarganya tetap bergelimang harta, tau-tau sudah keluar penjara menikmati hasil jarahan yang "telah diamankan" 😄
kelak status residivis koruptor gak akan membuatnya dikucilkan, tetap dihormati lingkungannya karena masih dianggap golongan elit, punya pengaruh, banyak uang, dan banyak teman sesama elit.
masyarakat pun bisa mudah lupa.
bahkan, gak sedikit mantan koruptor bisa kembali menjadi pejabat publik. contohnya ada yang menang pileg dan sekarang jadi wakil ketua komisi VI DPR, ada pula yang dapat jabatan jadi ketua tim pakar danantara.
realitanya memang gak pernah ada sanksi hukum yang tegas dan bisa bikin jera, membuat negara kita selalu jadi surganya para koruptor.
sudah jadi rumus alam, sebuah tempat bisa jamuran karena lingkungan memberi ruang dan segala hal yang dibutuhkannya untuk hidup. :)
Fun fact: 1 USD sekarang = Rp 18.000 = dapat sepiring nasi warteg + es teh
terus ada yang bilang
Politik gak ngaruh di hidup gw.
Justru karena lu cuek, makanya yang di atas santai aja ngatur hidup lo.
Lu gak ikut main bukan berarti lu gak di dalam permainan.
Lu cuma jadi bidaknya.
Guys, ada satu orang di debat Head to Head CNN Indonesia yang menurut gue paling berani dan paling jujur dalam menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia sekarang.
Prof. Ferry Latuhihin pakar ekonomi dan analis pasar modal tidak basa-basi.
Tidak diplomatis.
Langsung ke inti.
Dan apa yang dia katakan sangat sulit dibantah.
Pertama tentang prediksi yang bikin banyak orang tidak nyaman:
Ferry memprediksi rupiah bisa menyentuh Rp20.000 di Juni, Rp22.000 di Juli, dan Rp25.000 di akhir tahun.
Banyak yang langsung menolak prediksi ini.
Tapi Ferry punya alasan yang sangat spesifik dan yang paling penting:
track record-nya selama ini benar.
Dia sudah prediksi IHSG ambruk benar.
Dia prediksi rating Indonesia di-downgrade benar. Dia prediksi dolar menembus Rp17.000 malah lewat.
Dan ini argumen intinya yang paling kuat:
"Kalau kamu bilang ini semua gara-gara faktor eksternal global coba lihat angkanya.
Saat mata uang negara-negara Asia lain menguat terhadap dolar rupiah tetap melemah.
Saat bursa Asia menghijau IHSG kita turun hampir 5% dalam sehari."
"Jadi kalau kamu taruh semua blame di faktor global
you must be wrong.
Karena boroknya ada di kita sendiri."
Dan ini tentang apa yang Ferry sebut sebagai borok internal yang paling mengejutkan:
Sebelum perang Iran bahkan dimulai Fitch dan Moody's sudah menurunkan outlook Indonesia.
Di angka pertumbuhan 5,11% yang seharusnya bagus lembaga rating justru memberikan sinyal negatif.
Kenapa?
Karena mereka melihat sesuatu yang tidak bisa disembunyikan oleh angka pertumbuhan:
kebijakan yang tidak bisa diprediksi dan tidak memberi kepercayaan kepada investor.
Contoh yang Ferry sebut:
begitu PT DSI didirikan S&P langsung menggonggong dengan ancaman downgrade.
Begitu Danantara diumumkan Fitch langsung memberikan rating sangat negatif.
"Ini bukan tentang apakah kebijakan itu niatnya baik. Pertanyaannya:
apakah investor percaya kebijakan itu benar atau koplak?"
Dan ini tentang lingkaran setan yang paling sulit dipecahkan:
Kalau pemerintah mengeluarkan obligasi baru dengan kupon lebih tinggi untuk menarik investor yang pertama kena dampaknya adalah asuransi, dana pensiun, dan bank sebagai pemegang SBN yang ada sekarang.
Nilai aset mereka turun.
Loanable fund berkurang.
Kredit ke ekonomi makin seret.
Tapi kalau tidak dinaikkan investor tidak mau masuk karena imbal hasilnya tidak sebanding dengan risiko.
"You cannot close the balloon here without it inflating somewhere else.
What a big nonsense you say every time oh ekonomi kita kuat 5,6% pertumbuhannya."
Dan ini yang paling relevan untuk kehidupan sehari-hari:
Ferry mengingatkan sesuatu yang sering dilupakan:
Indonesia masih impor kedelai untuk tahu tempe, masih impor gandum untuk roti, masih impor gula, masih curiga impor beras, masih impor jagung, masih impor pupuk dan tentu saja masih bergantung impor minyak.
Artinya setiap kali rupiah melemah semua harga bahan pokok itu ikut naik.
Bukan karena kebijakan harga domestik berubah.
Tapi karena bahan bakunya sendiri lebih mahal dalam rupiah.
Dan kondisi ini diperparah oleh sesuatu yang Ferry sebut shrinkflation harga barang tidak naik tapi ukurannya mengecil.
Ini tidak dihitung sebagai inflasi secara resmi tapi dampaknya ke kantong masyarakat sama saja.
Dan ini kalimat Ferry yang paling menohok tentang BI menaikkan suku bunga 50 basis poin:
"Diketawain sama market."
Bukan karena langkahnya salah secara teori.
Tapi karena hitungannya tidak masuk:
kalau US Treasury yield 4% dan Indonesia harusnya membayar risk premium minimal 3% di atasnya karena rating yang lebih rendah berarti SBN seharusnya diperdagangkan di yield sekitar 10%. Tapi sekarang masih di bawah 7%.
Artinya: investor yang rasional tidak akan masuk.
Dan yang sudah ada di dalam punya alasan kuat untuk keluar.
Dan ini yang paling penting dari seluruh analisis Ferry:
"Ini bukan temporary shock.
Ini systematic shock. Bedakan itu."
Temporary shock artinya ada gangguan dari luar yang akan reda sendiri.
Systematic shock artinya ada masalah struktural di dalam sistem yang tidak akan selesai hanya dengan menunggu.
Dan selama tidak ada mitigasi risiko yang nyata — bukan sekadar pernyataan bahwa fundamental ekonomi kuat tekanan terhadap rupiah tidak akan berhenti.
"Purbaya bilang tenang aja ini temporary.
Kalau temporary kenapa dari tahun lalu terus naik? Temporary apanya?
Ferry bukan sedang menakut-nakuti.
Dia sedang menjalankan fungsi yang paling penting dalam ekonomi: memberikan sinyal yang jujur ketika sinyal resmi tidak mencerminkan realitas.
Dan realitasnya sekarang adalah: rupiah di Rp17.900 bukan hanya angka di layar. Itu adalah hasil akumulasi dari masalah kepercayaan yang sudah menggerus selama berbulan-bulan
dari kebijakan yang tidak konsisten, dari program besar yang dipertanyakan tata kelolanya, dan dari narasi optimisme yang tidak didukung oleh tindakan mitigasi yang nyata.
Masalah kepercayaan tidak bisa diselesaikan dengan pidato. Hanya bisa diselesaikan dengan rekam jejak — dengan kebijakan yang konsisten, transparan, dan bisa diprediksi.
Dan sampai itu terjadi Ferry mungkin benar.
mungkin bulan depan kita akan bertemu
rupiaah di 20.000/usd