Berdiri sejak 2016, Media kolektif untuk segala macam penulis dan pembaca.
Selain di Twitter temukan kami di
Instagram : kalamkopi, FB : komunitas kalamkopi
"Dengan merefleksikan pembangunan jalan di kawasan Boyolali Utara pada era kolonial, saya harap para pembaca dapat mengambil, setidaknya, dua nilai: pertama, jalan
Tulisan baru nan menarik untuk rubrik "Saset". Silakan!
Karanggede-Wonosegoro-Juwangi mempunyai peran strategis untuk menghubungkan daerah satu ke daerah lain (misalnya Salatiga dengan Purwodadi) pada masa silam. Kedua, akses jalan adalah ihwal penting bagi peningkatan mobilitas dan ekonomi masyarakat."
Ia bimbang harus menjunjung kemanusiaan atau membalas dendam. Hasutan “si Turki” membuatnya memilih yang kedua; ia membalas dendam dengan cara membunuh."
https://t.co/CZk28zMYuU
Soal film baru yang sedang heboh. Berikut ini cuma spoiler, lengkapnya ada di website. Cusss!
"Hal lain yang tidak kalah penting dari film ini adalah upayanya untuk bersikap adil. Sang pemeran utama, Johan De Vries,
digambarkan bimbang ketika diberi tugas mengeksekusi seorang pejuang Indonesia, padahal pejuang itu adalah orang yang telah membunuh temannya. Ia ragu apakah membunuh adalah tindakan benar. Dari adegan itu saya bisa merasakan konflik batin si tokoh.
Lekra merupakan lembaga kebudayaan underbow Partai Komunis Indonesia (PKI) yang produk budayanya memiliki gaya realisme sosialis. Lantas, bagaimana kiprah lembaga kebudayaan ini? Mari kita coba, eh, baca!
Simak tulisan terbaru untuk rubrik "Tubruk" berikut ini. Silakan
Sedikit pengantar itu merupakan kata pengantar untuk menuliskan kisah meta-globalisasi di Indonesia, atau pengantar masuknya globalisasi ke Indonesia. Disisi lain saya juga akan membeberkan bagaimana budaya masuk melalui globalisasi, serta,
bagaimana posisi Indonesia dalam grand-narration “globalisasi”. Begitu pula, narasi di bawah bisa saja mematahkan narasi besar globalisasi yang membawa perdamaian, kemakmuran, dan peluang yang menguntungkan lagi memajukan bagi Indonesia.
"Aha! Akhirnya aku tahu tujuanku kuliah di jurusan sejarah. Tujuanku kuliah di jurusan sejarah adalah untuk menyadari kebodohanku. Dengan menyadari kebodohanku aku akan terus belajar, dan ketika aku terus belajar aku akan bisa menghargai manusia lain."
menanam pepohonan, menanam kebajikan, sembari terus mengharap rida Tuhan. Bukankah ada aforisma menawan: sebatang pohon yang kautanam di bumi, kelak berbuah dan bisa kauunduh di surga."
Serial terakhir tulisan "Caping Gunung". Silakan ~
https://t.co/F6RJTiUXFp
"Tembang terakhir itu, mengingatkan kita: betapa kekayaan berlimpah bisa menjadi tidak berkah ketika tidak dikelola secara amanah. Ketika nafsu menguasai lebih besar ketimbang nafsu memelihara, nafsu merawat, maka pilihan untuk terus merawat kehidupan adalah dengan menanam:
Ya, apakah kita sudah sedemikian edan, sudah sedemikian gila, sehingga hanya tidur dan tidur lagi? Atau, kalaupun bangun cuma ngopi dan ngopi lagi, untuk kembali tidur kembali?
Langkah sederhana bisa kita mulai, semampu kita, sebisa kita. Begitulah tekad Kiai Budi.
Dan, saya mengamini. “Menanam, mari kita menanam!” ujar dia dengan wajah berbinar, dengan senyum tipis mengembang. Serentak saya pun teringat lagu “Menanam Jagung” karya Ibu Sud, yang acap saya nyanyikan ketika bocah.
"YA, ya, pada saat yang sama untuk bertahan hidup: semua-mua kita beli pula dari berbagai penjuru dunia. Keadaan makin memiriskan, lantaran di puncak strata bercokol orang-orang yang saling memangsa: berlomba-lomba makan siapa sebanyak mereka bisa.
Celaka, lantaran mereka menguasai segala perangkat untuk berkuasa: pembentuk opini, senjata, dana, dan ke-julig-an.
Pada titik inilah, di kuping Kiai Budi Harjono terngiang-ngiang tembang “Caping Gunung” karya Gesang Martohartono. Dengarlah, dengar, lagu itu."