Selamat datang hari lahirku
Telah lama jiwa ini berjibaku
Mengulang tahun yang tak pernah baku
Sehat selalu ragaku
Agar dapat jalani hidup penuh liku
Hingga habis waktuku
Doa terbaik untukku
Semoga impian tak mati kaku
Di atas dunia tak bersuku
Pernah ku rasakan
Benak ini pecah karena beban
Harap tak lagi menjadi perhiasan
Bahkan raga & ruh hampir memberi salam perpisahan
Namun aku masih diberi kesempatan,
oleh penguasa tak ber Tuan
Biar semua pembuktian
Menjawab semua pertanyaan
Dan selamat tinggal kenangan
Tuhan, jangan biarkan aku hancur tuk kedua kali
Meski cengengku semesta membuli
Kan kupertahankan bahagia yang tak terbeli
Meski cahayanya tak peduli
Hadirnya tak lagi menjadi kecuali
Karena dalam hati, jiwa ia dan aku terikat cinta bertali
Kau ukir namamu di hati ini
Melalui tinta berwarna warni
Agar hampa tak lagi disini
Memang duka telah menjadi alumni
Namun alur masih dihiasi ironi
Nan tak indah bak seruni
Sesekali langit bertestimoni
Bahwasanya luka akan melakukan reuni
Disaat semesta menghadirkan sengkuni
Saatnya bertempur dijalan takdir
Meski malaikat telah mengukir
Di atas langit tentang awal dan akhir
Namun aku masih mampu berpikir
Semua ini hanyalah bulir
Terkadang langkah tergelincir
Namun tuju tak mesti mangkir
Dan hanya Tuhan yang mampu mempelintir
Ranah minang ku berduka
Diamuk alam yang sedang murka
Atas dosa yang dianggap jenaka
Untuk saja aku peka
Tuhan belum menjadikanku penghuni alam baka
Karena si Buyung dan Upik belum siap tuk luka
Terimakasih tuk logika
Kau telah berikan tanda marka
Tuk membuatku balik seketika
Tiada perlu engkau mengetahui
Cukup senyum ini mengelabui
Dan tawaku menjadi kamui
Derita ini telah melampaui
Sejuta sakit hidup dibui
Tanpa bahagia yang dilalui
Sesekali aku mencumbui
Takdir indah yang tak diketahui
Agar semesta merestui
Senja ditengah samudra
Ditemani gelombang angin utara
Memaksa angin berpesta pora
Menyongsong langit tak beraksara
Engkau yang ku cinta
Lalu lalang di pelupuk mata
Bagai isyarat rindu membadibuta
Memintaku kembali memeluk juita
Tersudut dalam ruang hampa
Tiada satupun sudi menyapa
Agar langkah tak lagi serupa
Sesekali terdengar lantunan harpa
Namun entah mengapa
Hilang diantara sunyi nan tak berupa
Akankah ini musnah bagai Champa
Atau Sang Pemilik derita lupa
Hidup ini membutuhkan wanginya puspa
Tiadalah mesti
Cinta yang telah tersaji
Akan dapat kau miliki
Terkadang ia datang hanya tuk hampiri
Bukan berarti ia sang puteri
Hadir menjadi penghuni hati
Berhentilah bermimpi
Engkau bagai langit dan bumi
Takkan mungkin bersatu tuk saling mengasihi
Sengaja Tuhan membunuh langkahmu di sana
Karna jalan yg kau pilih tiadalah sempurna
Semua hanya sebatas fatamorgana
Menjadikanmu hanyut terlena
Meski jalan mu penuh warna
Bukan berarti engkau akan merana
Pada ujung jalan menuju nirwana
Dan akhirnya tersaji bahagia di atas bejana
Ajarkan ku menerima ketidak sempurnaan
Bagai matahari dikalahkan
Oleh indahnya rembulan
Terkadang kekecewaan
Hadir manis dengan senyuman
Menawarkan jurang kehancuran
Meski kusadari semua telah ditakdirkan
Benak dan hati enggan bergenggaman
Lebih memilih berseberangan jalan
Tiada yang lebih pilu
Saat cinta berlalu
Meninggalkan luka sayatan sembilu
Di atas segumpal daging yang tak berbulu
Meski ku arungi kisah dari hulu
Berharap muaranya pada penghulu
Namun kahirnya itu hanya sebatas halu
Membuatku tertunduk malu
Meski takdir yang berkuasa
Matahari tak selalu senantiasa
Menjadikan pagi penuh dengan rasa
Terkadang cinta berbisa
Mapir sejenak mengenalkan rasa
Karna pintamu tak selalu leluasa
Cinta suci tak berbahasa
Tak jua mengenal masa
Bahkan indahnya tak pernah berpuasa
Sebelum terbenamnya kisah kita
Diantara dunia yang semakin buta
Oleh indah semu bermahkotakan dusta
Mari bersamaku menoreh cerita
Di atas pasir pantai kuta
Tempat kita menghanyutkan berita
Engkaulah wanita
Tak hanya sekedar permata
Namun jua tempatku menitipkan air mata
Sejatinya, belum 100% kita merdeka
Semua hanya sajian yang direka
Agar kita terlupa akan luka
Enkau seakan dipaksa untuk suka
Atas kemasan 1 hari belaka
Meneriakkan kata merdeka
Namun, cobalah mata dibuka
Begitu banyak hak tak perjaka
Diperkosa oleh pemimpin sejuta muka
Tida cinta datang bertandang
Taman jiwa kering keromtang
Redup menjadi gelap tanpa penerang
Diantara jutaan orang
Sedang gemar berbincang
Hingga lupa melayangkan pandang
Mungkin butuh tabuh genderang
Menarik minat puajaan bertandang
Agar jiwa tak hidup malang
Jalan kita berliku duhai kekasih
Semua tak selalu bersih
Tak jua selalu membuat risih
Memang cinta ini putih
Sesekali ternoda oleh buih-buih
Menjadikan pikir tak lagi jernih
Cukup berterimakasih
Pada mekarnya rasa dari benih
Meski akhirnya berujung perih