Video Percakapan Kapal Tanker Pertamina ini menampar rasa Patriotisme kita sbg anak bangsa.
1. Kapal kebanggan kita (PERTAMINA) dikemudikan oleh crew India bukan oleh bangsa sendiri.
2. Sekaligus menampar Gus Miftah yg kmrn ngehoax 2 Kapal lolos dari Hormuz krn diplomasi.
Semua yg membunuh di sini akan masuk neraka, kata JK, tak peduli yg beragama Islam atau Kristen, karena tak ada satupun ayat di ajaran Islam dan Kristen yg membolehkan membunuh orang yg tak bersalah..
Rasanya tidak ada yg salah dari ucapan JK tsb...
Yg SALAH karena beliau minta Jokowi menunjukkan ijazahnya saja...!
Ketika saya diperiksa sebagai Tersangka di Polda Metro Jaya tanggal 13 November 2025, sebelum menjawab pertanyaan penyidik, saya memastikan, menurut penuturan Pemeriksaan juga, bahwa Ijazah Joko Widodo ada di Polda Metro Jaya.
Itu adalah Ijazah yang dinyatakan oleh Joko Widodo sendiri, di tanggal 25 Juli 2025 ketika ybs diperiksa oleh Polda Metro Jaya di Solo, dengan dengan alasan sakit
Bahwa Polda Metro Jaya telah menyita Ijazahnya dan dibawa ke Polda Metro Jaya hari itu juga.
Lalu sekarang dia katakan mau bawa Ijazahnya ketika di pengadilan.
Ijazah bikinan mana lagi yang mau dibawa? Pasar Pramuka? Pasar Terban? Atau pasar yang lain?
Datang diam diam, menyapa warga jauh jauh dari jakarta, tidur di tenda, bahkan makan bersama meski cuma mie sama nasi (lupa foto) kayak... Masih jadi mimpi bagi warga disini...
Video ini mengulas aplikasi2 ojol dan olshop dari sudut pandang berbeda.....
Bahwa Aplikasi tidak membuka lapangan kerja baru tapi mereka membunuh apa yang pernah menjadi tumpuan hidup jutaan orang sebelum nya.....
menarik untuk disimak
Trump terkejut ketika Eden Alexander, seorang tentara Zionis Israel yg sempat menjadi tawanan kelompok pejuang Hamas, mengaku bahwa ia diperlakukan dengan baik oleh pejuang Hamas, dan memberinya tempat yg layak.
Aku Melihat
Hukuman Allah yang Sedang Terjadi
Aku tidak menyimpan dendam padanya.
Tidak ada keinginan untuk menyakitinya, tidak pula nafsu untuk menjatuhkannya.
Aku tidak ingin kekuasaannya. Aku tidak ingin tahtanya.
Tapi setiap kali aku mengingatnya,
jiwaku menjerit — bukan karena benci, tapi karena luka yang terlalu lama ditutup.
Aku mengingat Bambang Tri,
yang kini meringkuk dalam sel karena berkata jujur tentang sesuatu yang seharusnya menjadi milik publik.
Ia hanya bertanya — tapi pertanyaannya dibalas dengan penjara.
Aku mengingat KM 50,
para pemuda yang darahnya ditumpahkan di malam gelap,
bukan karena mereka membawa senjata,
tapi karena mereka membawa semangat yang ditakuti oleh kursi kekuasaan.
Aku mengingat Kanjuruhan,
di mana tangis ibu dan jerit anak-anak ditenggelamkan oleh gas air mata.
Dan di atas semua itu…
ada seorang penguasa yang hanya tertawa ketika ditanya wartawan, bagaimana dengan 135 korban,
masih terngiang kata-kata kejinya:
"Saya akan jawab di lain waktu, hehehe"
Aku mengingat Yahukimo, Wamena, dan Papua, kematian akibat kelaparan,
dan tubuh-tubuh yang jatuh,
dan tak pernah disebut dalam pidato istana.
Manusia disiksa, dibakar, ditinggal, seolah bukan bagian dari bangsa ini.
Aku mengingat ratusan petugas KPPS,
yang wafat dalam sunyi,
tanpa kejelasan,
tanpa penyelidikan yang adil,
tanpa satu pun tangisan dari wajah pemimpin tertinggi negeri ini.
Aku tidak dendam. Tapi aku tidak bisa diam.
Karena setiap luka itu…
ditinggalkan begitu saja oleh seorang penguasa yang tak pernah terlihat berkabung.
Tak pernah menunduk dengan jujur.
Tak pernah menangis bersama rakyat.
Tak pernah meminta ampun atas tragedi yang terjadi di bawah namanya.
Dan kini… aku menyaksikan
tubuhnya mulai dihancurkan oleh kekuatan yang tidak bisa ditolak siapapun: Allah.
Bukan oleh pengadilan.
Bukan oleh media.
Bukan oleh rakyat.
Tapi oleh Tangan Langit itu sendiri.
Perlahan…
kulitnya hancur.
matanya kosong.
langkahnya melemah.
suaranya kehilangan ruh.
Dan wajahnya,
wajah yang pernah dielu-elukan,
kini menjadi wajah yang jadi peringatan siapapun yang berani jahat kepada rakyat.
Aku tak pernah berdoa agar ia hancur.
Tapi aku tahu,
Allah telah menjawab tangisan umat ini dengan cara paling menakutkan:
menghancurkannya sedikit demi sedikit, di hadapan jutaan pasang mata.
Ia tidak digantung di tiang kota. Atau diarak di jalanan, seperti nasib penguasa zalim di masanya.
Tapi ia diarak secara ruhani, oleh penyakit, oleh kehancuran tubuh, oleh sejarah.
Aku tidak benci padanya.
Tapi aku mencintai kebenaran.
Dan cinta itu membuatku tak bisa pura-pura buta.
Aku tidak ingin membalas.
Tapi aku ingin bangsaku melihat, belajar, dan bangkit.
Agar kita tak pernah lagi tertipu oleh wajah lugu…
yang diam-diam bisa menjadi biang kehancuran.
Agar kita tak lagi diam
saat pemimpin kehilangan rasa takut pada Allah.
Menarik ini ketika PDIP sudah bocor kasar, bukan bocor alus lagi tentang Rekayasa Ijazah yang dipakai untuk mendaftar KPU DKI Jakarta.
Menurut Beathor Suryadi, Ijazah ybs dipermak di Pasar Pramuka pojokan, lembaga penerbit Ijazah ketok magic alias Universitas Pasar Pramuka - UPP
(Jangan dicari situsnya karena sudah digusur mendadak).
Simak ya ketika Banteng sudah ikutan melabrak ijazah.
Dan ada tokoh yang hilang.
Saya langsung mikir.
Kenapa ya Pasar Pramuka Salemba itu tiba-tiba digusur mendadak tahun 2012, lalu bersih tak bersisa tahun 2015?
Apakah ada berusaha yang membersihkan jejak ?
Hohohoho ketawa ala santa klaus.
Bang Beathor, time is yours.
https://t.co/HSBuKTZrm5
Di Kompas tv bung RH tantang Qodari bikin Polling ,
Publik lebih percaya mana sama pernyataan RH atau Qodari ?
Mari kita tes "
" Lebih percaya RH. - 🔄
" percaya Qodari. - 💔