ninggalin seseorang yang slowrespon dan komunikasinya jelek pas kamu lagi butuh kehadiran dia itu pilihan yang tepat, karena kamu layak dapetin yang lebih baik.
Garrett Graham is such a green flag. He respects Hannah Wells' boundaries, never pressures her, and always gives her the space to be comfortable and make her own choices. That's how respect should look 🫠🫠
“Sometimes people sneak up on you and suddenly you don’t know how you ever lived without them. How you went about your day and hung out with your friends without having this one important person in your life” when you meet your soulmate and you instantly know it
The Way Home (2002) — masih jadi film tersedih yang pernah aku tonton, yang main Yoo Seung Ho pas masih bocils 🫶🏻
Ini ceritanya tentang seorang anak yang terbiasa hidup di kota, karena keadaan ekonomi dia akhirnya di titipkan sementara ke neneknya yang bisu di pedesaan.
Awalnya Sang woo ini suka bersikap kasar, ga sabaran, dan meremehkan gaya hidup neneknya yang sederhana dan tenang. Dia sering ngamuk, minta makan fast food, dan ngejek neneknya yang bisu dan ga paham teknologi. Terlepas dari itu, neneknya bener-bener sabar banget ngadepin kelakuan cucunya ini, selalu berusaha ngasih apa yang cucunya minta.
Seiring berjalannya waktu, Sang woo ini mulai beradaptasi dengan kehidupan pedesaan, mulai berempati dan menghargai keberadaan neneknya, dan bahkan sempet ngajarin sang nenek cara menulis surat sebelum dia dijemput kembali oleh ibunya ke kota.
pokoknya sepanjang nonton ini tuh rasanya nyesek banget 🥺🫶🏻
Impossible to resist Hannah Wells' charm. Loved by Garrett Graham, secretly admired by John Logan, and adored by Jason Kohl. Honestly, who wouldn't fall for her? 🤍✨
“You are fucking incredible.The way you just opened up in front of all these people.I wanna be more like you wellsy…Everything you areYou make me want to be better. You should be with whoever you want to be with but I really want that guy to be me”and we thought romance was dead
Allie & Dean 🫠
Allie wants to believe him, but her past and Dean's reputation keep getting in the way. She's not holding back because she doesn't care, she's scared of getting hurt again. Can't wait to see their journey in Season 2 🙌
What I admire most about Kam Evans is that he never made Sasha Snow choose between being loved and pursuing her ambitions. He showed her that she deserved both 🫠
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)