@FerryNLangelo@Matahari_tmr Secara teoritis kita menolak arabisasi atau islamis sentralisasi ironisnya kita menerima suka atau tidak suka karena masyarakat kita ditunggangi oleh mentalitas fasis, otoriter, totaliter, fanatisme, brutalis dan lainnya berkedok agama dan budaya serta politik Arab
@SammiSoh Dosa terbesar umat' nya Muhammad Saw adalah menciptakan fitnah, membunuh saudara demi atas nama agama, pengkultusan terhadap tokoh tokoh agama. Coba berpikir rasional bukan emosional
@Frantoine41@Karuchika12@indepenSumatera Kekuasaan paling langgeng bukanlah ketika satu kelompok memerintah, melainkan ketika masyarakat menganggap dominasinya sebagai sesuatu yang wajar. Siapa yang diuntungkan, dan siapa yang menentukan kewajaran itu?
Siapa yang menguasai lumbung, menguasai rakyat.
Siapa yang membuat kita lapar kalau beras mahal, membuat kita tunduk.
Ketergantungan beras = rantai tak terlihat.
Siapa yang menempa rantainya?
Kenapa elit Mataram-Jawa Islam feodal memaksa seluruh nusantara ketergantungan beras, padahal nenek moyang kita makan sagu, ubi, jagung, dan talas?
Apakah ini soal pangan… atau soal kontrol?
Di tanah Mataram yang kini memakai baju Islam,
mengapa yang mengaku paling dekat dengan Tuhan
masih memelihara tahta feodal yang sama seperti dulu?Kalau semua manusia setara di hadapan Allah,
kenapa darah biru dan gelar kuno masih jadi tiket masuk ke kekuasaan?
@AsephStalin@Frantoine41@Karuchika12@indepenSumatera Coba berpikir kenapa federalism itu solusi untuk mensejahterakan rakyat Indonesia, kenapa harus Union ( persatuan); karena pejabat kala itu dominan adalah Jawa oleh sebab nya mereka selalu menjadi oposisi untuk menentang
@Penyuka_ombak Yang mengklaim paling dekat dengan Tuhan justru paling jujur soal hasratnya.
....Kawan-kawan, kalau yang seharusnya menjaga pagar malah membuka gerbang… siapa yang masih percaya pagar itu ada? Semua sama di hadapan Allah.
Tapi sebagian lebih "nafsu" dari yang lain.
@Penyuka_ombak Di Farm hewan, babi bilang "semua setara" sambil makan di meja manusia.
Di sini ustad bilang "pahala di depan emak, nafsu di depan gadis" sambil tertawa di atas mimbar.
@Karuchika12@indepenSumatera Rata rata mentalitas fasis, otoriter, totaliter, fanatisme dan komunis di masyarakat Jawa sudah mendarah daging dan menjadi budaya dan tradisi. Ini Indonesia harusnya bukan persatuan dan paling diuntungkan adalah Jawa
@Karuchika12@indepenSumatera Rata rata mentalitas fasis, otoriter, totaliter, fanatisme dan komunis di masyarakat Jawa sudah mendarah daging dan menjadi budaya dan tradisi.
Ini Indonesia harusnya bukan persatuan dan paling diuntungkan adalah Jawa
@muftianto19@indepenSumatera MUI jangan hanya beretorika tentang organisasi ² yang mendukung LGBT, masa isu pelecehan seksual di pondok pesantren gak diurus. MUI jangan standar ganda, bilang aja ingin terlihat bekerja padahal hanya Retorika Belaka
@aprillariz Ini bukan ceramah, ini adalah simulasi kekuasaan absolut. Ketika mikrofon dan jubah suci dipegang, bahkan pelecehan seksual verbal pun bisa disulap menjadi 'ilmu yang harus diaminkan'.