@shmpnysy@tanyarlfes Oh ya, ada celah budaya dan agama yang bisa digunakan perempuan buat menekan laki-laki agar mereka harus membiayai perempuan sampai mati. Sayang dan cinta tanpa kekayaan ga dianggap laki-laki baik dan bertanggung jawab. Dianggap buruk. G modal. Laki ga guna. Mending nyerah aja ;v
@shmpnysy@tanyarlfes Anehnya lagi, perempuan bisa dengan mudah bilang aku cinta kamu. Aku sayang kamu. Aku rindu kamu. Pas ketemu. Pas lagi makan. Pas jalan-jalan. Kok semuanya laki-laki yang bayarin? Sampai bikin rumah, beli kendaraan dan biayai rumah tangga, kenapa harus laki-laki yang dituntut?
@chiisanayumee@panassspesial@infoXwor_ Ga semua perintis itu semiskin lu atau gue masalahnya. Perintis ilmu pengetahuan sampai revolusi industri dan digital banyak dari golongan orang kaya. Merintis itu berat tapi menyenangkan bagi mereka yang menikmatinya. Makanya jangan lahir terlalu miskin dan idiot.
@infoXwor_ Merintis bukan berarti harus dari kemiskinan dan kekurangan dulu. Makanya jangan biasakan liat para perintis itu dari kalangan miskin atau lahir dari bibir kemiskinan itu sendiri. Para petualang, filsuf, ilmuwan, pengusaha besar merintis dunia mereka harus lahir miskin dulu gitu?
@sharkasme@tanyakanrl Kayaknya generasi cew sekarang emang pada gini ya. Dikit dikit babu dan membabu. ;D udah dijelasin panjang lebar ma lu masih aja pada protes. Padahal bisa digunakan buat ngetest juga kan ;D dahlah.
@sekiyyah Pada dasarnya lu kan masih ingin hidup sebenarnya daripada mati. Mengulang hidup lagi dengan kondisi buruk gue rasa ga menarik. Tapi dinikmati aja dengan pilihan hidup barunya. Moga menyenangkan
@hauhoehiu @jchaeyoonn Kalau tetap lu bantu. Lu nanti kere dan duit abis ya gue syukuri. Bantu orang yang ga punya otak dan kesadaran diri, kok masih bisa? Soal anaknya. Kan masih bayi. Kalau nati bakal langsung ke surga kok.
@hauhoehiu Dah bukan urusan lu. Jika bayi mati langsung ke surga. Jika mati dalam kondisi buruk gizi ya jadi dosa ortunya jika beragama.
Stop bantu. Hidup dan ga nya si bayi bukan urusan lu. Kalau gue jadi si bayi mendingan mati aja karena masa depan dan dewasa kayaknya bakal menyeramkan
@worksfess Setidaknya di Indonesia lu gangguan jiwa atau mental lu masih aman keliaran, makan, kerja, berak, bersetubuh dan rebahan sambil kadang nangis dan scroll hp. Di luar negeri mungkin lu dah dikurung di bangsal psikiatri.
@Raka_HI12@Yohanes_Sepha@magerhidupp Ya karena lu ma gue ga ada yang bisa dibanggain. Ma pemerintahannya juga. :D kalau ingin dikenal itu lewat jalur paling populer. Sepakbola. Musik. Ekonomi. Teknologi. Atau orang pinternya dan influencernya.
Sebenarnya banyak kok yang tau indonesia cuma ya itu, ga populer aja.
@futaerikoo@ccmlyneu @adarasskr Makanya, stop istilah mokondo dkk ya karena gaji mayoritas orang Indo emang semenyedihkan itu sejak dahulu kala. Apa kita harus protes agar jogja dan solo jadi 5 jutaan? Atau semarang 5-6 jutaan? Biar semua perusahaan gulung tikar barengan seluruh Indonesia trs nganggur semua? :3
@futaerikoo@ccmlyneu @adarasskr Pindah ke jawa tengah aja. Jawa timur. Di bagian indonesia lainnya gaji 1.8-3 jutaan.
Dan mereka masih idup. Kalau jkarta jelas beda. Kecuali tiap hari makan tahu tempe telor dan ga kemana mana.
Orang desa ga ke kafe. Ga hangout sana sini. Idup cuma di rumah makan tidur.
@futaerikoo@ccmlyneu @adarasskr Kenapa kalian pada bingung soal gaji di bawah 5 juta atau 1 juta masih idup? Karena dunia Indonesia ga semua berpusat di Jakarta. Ga semua warga jakarta. jutaan orang standarnya kenyang udah cukup. Asal ada rumah dan masih bisa makan. Pusing? Itulah realita di luar Jakarta dkk