@wiyokooo Mungkin mereka terbiasa memahami: ketertiban formal = superior, ekspresi kolektif rakyat = chaos, budaya jalanan = irasional, atau spontanitas massa = rendahan, mungkin lho ya ๐
Dosen saya pernah bilang, mahasiswa yg hidup tanpa refleksivitas kritis secara tidak langsung bisa menjadi pendorong utama elitisme epistemik: merasa bahwa kapasitas intelektual memberi mereka otoritas moral untuk menilai masyarakat dari atas. Dosen dari kampus bu tu tu t nih ๐
@sporttiaphari SAPPK padahal bs bikin proyek penelitian, bisa dikerjasamakan dengan Pemkot, Pemprov dan Persib berjudul
โFrom Crowd Control to Collaborative Crowd Governance: Developing a Community-Based Crowd Management Model for Persib Bandung Championship Celebrationsโ
@flydutchz@BERSANDlWARA Lucu memang, dia mencoba membangun & mewajarkan sikap elitis lalu membandingkannya dengan sesuatu yang ekstrem, tapi malah runtuh, hahaha. Padahal kan ada opsi ketiga, keempat, dan seterusnya termasuk jadi orang yang berpendidikan tapi tetap napak tanah ๐
@direktoridosen Fakta! Udah mulai berpikir buat tutup toko karena potongannya gila, padahal yang dijual produk umkm. Lucunya ada biaya layanan promo padahal gak ada niat buat pakai ginian, biaya proses pesanan, lalu biaya administrasi. Daripada pusing keknya mending tutup lah
Perlindungan lingkungan versi kekuasaan adalah omong kosong! Hari minggu kemarin saya menyaksikan langsung alih fungsi hutan di salah satu bukit kawasan Bandung Selatan. Banjir yang terjadi di hilir beberapa bulan sebelumnya tidak pernah jadi pelajaran!
Omdo! @DediMulyadi71