Jangka Duapuluh Lima
Kala beradu merah dan putih
Di iringi nyanyian gunung dan ombak putih
Seirama lantunan bumi
Dan runtuhnya Wilwatikta dan semua mahapatih
Lalu semua menjadi suci
Ratu Adil kembali lagi
@PelangiPuisi
Pemerintah memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk internasional Indonesia menyusul meningkatnya kewaspadaan terhadap penyebaran Hantavirus.
Sebanyak 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) juga telah disiagakan di bandara dan pelabuhan internasional untuk menyaring pelaku perjalanan dari luar negeri.
-
Selengkapnya kunjungi website dengan klik link di bio atau download aplikasi di AppStore dan Google Play Store.
#InilahNews #Hantavirus #Inilahcom #TitikTengah #TitikCerah
270426
Epilog malam
Menjadi duka
Tak pernah ada yang tahu
Malam itu
Semua bidadari pergi ke surga-Mu
Seiring rangkaian tangisan
Dari orang-orang yang ditinggalkan
Semua mata menuntut jawab
Kepada pemangku kuasa
Yang sedikitpun tak terluka
Dan tak bercurah air mata
@PelangiPuisi
2030
Dalam rentang lima
Setelah perang Kurusetra
Jiwa-jiwa bangkit
Angkara binasa
Sekarang bumi masih di dalam api
Kasta masih berduri-duri
Katakan pada lambung untuk sabar
Karena esok nasib masih ditakar
@PelangiPuisi
Jangka Duapuluh Lima
Kala beradu merah dan putih
Di iringi nyanyian gunung dan ombak putih
Seirama lantunan bumi
Dan runtuhnya Wilwatikta dan semua mahapatih
Lalu semua menjadi suci
Ratu Adil kembali lagi
@PelangiPuisi
Rakyat tak sepadan
Daun-daun muda
berguguran
Lalu dibakar api
Embun pagi memulai tangisan
Rintih ibu melukai hati
Sampai kapan
Kami harus melawan?
Sampai kau bosan
Duduk di kursi haram?
Kami tak sepadan
Dengan nuranimu yang bungkam!
@PelangiPuisi
250825
Romantisasi keadilan
Ironi kesenjangan
Kami tunjuk hidung
Para duta suara rakyat
Di mana nurani
Yang kau semai
Waktu pesta bersama kami?
Kini, kami turun ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang!
@PelangiPuisi
Epilog 2024
Sisa kemarau masih panjang
Jalan setapak tiada berujung
Anak-anak negeri terus menyapih
Orang-orang rakus yang duduk di kursi
Hidup adalah padang kurusetra
Rakyat berjuang hanya untuk mengalah
Sarapan adalah luka
Makan malam menyantap derita
@PelangiPuisi
Suara dari Desa
Rampai senyuman
Menyambut pangeran
Ketika datang bawa segumpal padan
Kami terima dan kami telan
Walau padi tidak tertanam
Sekarang sudah jadi raja
Semoga ilalang tidak lena
Karena tanah kering
Kebun-kebun masih hampa
@PelangiPuisi
Pasukan Merah Putih
Bergerombol, berbaris, lugu
Seolah jadi pujangga baru
Datang dari empat puluh delapan penjuru
Menambah beban Sang Ibu
Semoga harta karun kami tak habis kawan!
Di makan srigala berjubah nayaka
Semoga engkau lebih tahu
Siapa kawan
Siapa musuh
@PelangiPuisi
Suara di bulan kesepuluh
Aku diadu oleh ombak
Lekang oleh kemarau sajak
Batinku sepi risau tak berima
Karena sang pujaan
Yang menjanjikan rembulan
Bila kepastian itu datang?
Sedang suara sudah kau simpan
Kita masih saja bermain api
Kepada negeri yang resah ini
@PelangiPuisi
Air mata bertalu
Duka jadi sengkala
Nasib belum mengadu
Melata merangkak widyaiswara
Seakan dikhianati
Oleh ketidakpastian
Tangan yang menggenggam
Jadi luka yang mendala
Sampai kapan?
Sampai keadilan berbatu nisan?
#SaveIbuSupriyani
08
Angin baru datang
Membawa sajak-sajak tikam
Saat badai menghempas
Asa enggan berkelana
Kemana arah dituju
Wahai Sang Penggembala
Sedang kau di-iringi dahan muda
dan sengkuni yang tersisa
Tetapi aku bisa apa
hanya dibakar dupa
dan jadi tumbal penguasa
@PelangiPuisi
Dulu kita pernah sejalan
Menunggu senja dan rembulan
Mengelak sepi meski berdua
Kini kabut itu datang
Mengubah sajak yang temaram
Menjadi elegi di bangku kosong
Yang memendam makna
#puisikangambar@PelangiPuisi
Jalan sunyi yang menanti
Bangku kosong yang dulu ada cerita
Senja itu kini telah tiba
Masih bersama rembulan petang
Tetapi kasih hilang bersama puan
Kabut mengaduk sepi
Balada cinta hanya jadi puisi
#puisikangambar@PelangiPuisi