Ervan fokus memapah Evelyn ke bangku yang ada di sekitar bekas api unggun agar lekas mendapatkan pertolongan luka di lutut begitu mereka berbaur dengan keramaian yang ada.
Kacau balau.
ᅠErvan berbalik, kakinya melayangkan sebuah tendangan kuat di kaki meja kayu hingga terbalik dan memecah keheningan dengan dentuman keras meja yang menghantam permukaan tanah. Segala emosi berkecamuk di sanubari, terutama kekesalan tertumpah ruah.
Geram. Barangkali hanya itu nama yang paling pantas bagi apa yang bergolak dalam diri Bryan. Bukan murka yang membabi buta, terlebih benci. Hanya saja, lidah memang kerap lebih pandai berlaku bengis daripada hati yang sesungguhnya masih menyimpan sayang.
“Aku memang gak pernah jadi prioritas kamu, Eve.”
Geram. Barangkali hanya itu nama yang paling pantas bagi apa yang bergolak dalam diri Bryan. Bukan murka yang membabi buta, terlebih benci. Hanya saja, lidah memang kerap lebih pandai berlaku bengis daripada hati yang sesungguhnya masih menyimpan sayang.
“Aku memang gak pernah jadi prioritas kamu, Eve.”
‘ “Enggak…”
“Kamu juga pikir aku gila?”
“Bukan gitu, Bry…” Evelyn hampir merengek. “Kita bisa balik lagi besok. Sekarang udah malam. Mana tahu ada hewan liar di hutan ini.”
Tetapi Bryan sudah terlalu keras kepala untuk pulang dengan tangan kosong. Apalagi setelah Ervan sudah terang-terangan meragukan semua ucapannya.
‘ “Naik.”
Bryan membalikkan badan dan sedikit merendahkan bahunya.
“Di sini gak ada apa-apa. Kalau dipaksa jalan, lukamu makin parah.”
Tanpa pikir panjang, Evelyn mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan. Dan pada akhirnya, berdua, dengan Evelyn pada punggung Bryan, menerobos semak-semak yang kian rapat.