“Mungkin …” katanya sambil menahan tawa. “Orang ketiga puluh delapan itu sebenarnya jin keluarga Djuanda.”
OH MENGGELIKAN. Lebih menggelikan lagi karena ia berpura-pura menggigil, padahal ia sendiri tahu hal yang barusan ia ucapkan itu tidak masuk di akal.
“Bryan!”
Suara Evelyn menggema dari belakang, dan aku tak berhenti.
“Bryan, tunggu!”
Langkah-langkah kecilnya mengejar hingga akhirnya menyusulku di ambang hutan. Dan tanpa kami sadari, di antara batang-batang pohon yang mulai ditelan petang, ada sesuatu yang turut bernapas.
“Bryan!”Pun suara Evelyn memecah ketegangan. Dan dia melangkah di antara kami tanpa sedikit pun ragu. “Tenang dulu, Bry… kamu biasanya gak kayak gini loh.”
Dengan tatapan itu.