Temanku di Banggai Laut, Sulawesi Tengah, cerita soal menu SPPG di sana yang menyajikan menu ikan lele fillet, padahal kami di Banggai tiap hari makan ikan laut.
Ikan lele itu dikirim dari Surabaya.
Parah2 ini MBG.
Temanku komen di konten YouTube @pandji
SPPG Bojongkaso Agrabinta, Cianjur, Jawa barat nunjukin video distribusi MBG di jalur yang rusak berlumpur
dari video ini justru nunjukin lebih butuh perbaikan fasilitas umum (jalan) daripada dapur MBG kan 😂😂😂 unik banget skala prioritasnya
cr ig TVRInasional
Coba dipikir.
Cita2 pingin industrialisasi, bikin mobil dan ponsel sendiri
Tp belanja APBN Top 3 nya: BGN, TNI, Polri
Programnya: MBG, Kopdes, Gentengisasi
Budget R&D to GDP cuma 0,28%.
Preman di mana2. Kepastian hukum ga pasti.
Gimana industrialisasi dan investasi bisa jalan?
Iklan.
Info loker ya kawan-kawan. Tidak harus jadi dosen. Saya biasa kerja-kerja riset dan kerja-kerja kebudayaan. S1 di Unair, Sastra Indonesia. S2 di UGM, Sastra Indonesia juga. CV dan portofolio bisa saya dm. Pekerjaan apapun, di manapun, insyaallah saya dan suami siap sedia.
Pendidikan Fisika
Pendidikan Kimia
Pendidikan Biologi
Pendidikan Matematika
Pendidikan Bahasa Inggris
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Pendidikan Bahasa Arab
Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Pendidikan Anak Usia Dini
Bimbingan dan Konseling
Manajemen Pendidikan Islam
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Pendidikan IPS
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Pendidikan Sejarah
Pendidikan Geografi
Pendidikan Ekonomi
Pendidikan Vokasi
Pendidikan Teknologi Informasi
Pendidikan Seni
Pendidikan Musik
Pendidikan Tari
Pendidikan Luar Biasa
Administrasi Pendidikan
Teknologi Pendidikan
Pendidikan IPA
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan Bahasa Jepang
Pendidikan Teknik Mesin
Pendidikan Teknik Bangunan
Pendidikan Administrasi Perkantoran
Pendidikan Sosial Antropologi
Pendidikan Masyarakat
Pendidikan Non Formal
Pendidikan Luar Sekolah
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Pendidikan Profesi Guru
Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah
Pendidikan Akuntansi
Pendidikan Manajemen
Pendidikan Kewirausahaan
Pendidikan Kimia
Pendidikan Biologi
Pendidikan Fisika
Pendidikan Matematika
Tadris Bahasa Indonesia
Tadris Matematika
Tadris Biologi
Tadris Fisika
Tadris Kimia
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam
Pendidikan Agama Kristen
Pendidikan Agama Katolik
Pendidikan Seni Rupa
Pendidikan Drama
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
Pendidikan Tata Boga
Pendidikan Tata Busana
Pendidikan Rekayasa
Pendidikan Multimedia
Pendidikan Teknik Elektro
Pendidikan Teknik Otomotif
Pendidikan Teknik Informatika
Pendidikan Koperasi dan Kewirausahaan
Pendidikan Bisnis
Pendidikan Kepariwisataan
Pendidikan Bahasa Mandarin
Pendidikan Bahasa Prancis
Pendidikan Bahasa Jerman
Emang gila nih orang kayak gini. Nginjak ke tukang dagang, ngejilat Prabowo sampai ngibul nggak karuan. Masih banyak yang datang lagi ke ceramahnya. Bingung apa sih yang dicari orang yang dengerin doi.
Infonya sih
Petugas Bea Cukai dapat menerima premi atau bonus maksimal 50% dari nilai denda.
Bayangkan trafik Soeta dari luar negeri 150rb.
Jika yg kena denda 10% aja sdh 15rb loh, denda per orang 1 juta - 15 juta.
Sehari makan besarkan.
Dan itu resmi diatur UU
Seolah para ningrat itu hidup dengan harta yang jatuh dari langit. Sedangkan kuasa, harta dan istananya dari feodalisme; perasan keringat dan darah jelata disetiap jengkal sawah dan kebon tebu. Di masa perang mereka sembunyi mencawat ekor, di masa damai mereka mendaku semua kuasa dan melempar salah serapah ke muka kawula. Cangkeman.. 😠
Oh, damai versi Prabowo itu kayak turunnya Soekarno (G30S/Supersemar), Soeharto (Reformasi), Gus Dur (dimakzulkan MPR).
Enggak heran dia kirim TNI ke Papua banyak banget.
Setelah saya baca isi beritanya, ini real kok kalian gak salah baca.
Ada pemilik hajatan tewas krn dipalak preman. Tp endingnya malah ijin bikin hajatan yg diperketat, bahkan sampe hrs bikin pakta integritas dulu.
Premannya trs gmn?
YNTKTS
Suatu pagi di IGD, seorang ibu usia lima puluhan datang dengan wajah pucat dan tubuh yang basah oleh keringat dingin.
Keringatnya sampai sebesar biji-biji jagung. Tangannya beberapa kali menekan dada, lalu bergerak ke sisi kiri tubuhnya. Nyeri dadanya menjalar ke lengan kiri.
Napasnya pendek. Wajahnya tegang. Gelisah.
Saya sudah sangat hafal gejala dan tanda ini. Serangan jantung.
Saya mendekat, “Bu, saya mau periksa rekam jantung ibu, ya.”
Belum sempat perawat menyiapkan semuanya, ibu itu langsung menggeleng keras. Ia membuang muka
“Enggak, Dok. Enggak.”
Saya berkata pelan, “Bu, maaf, kemungkinan besar ini serangan jantung.”
Tiba-tiba ia teriak. Suaranya pecah, nyaris histeris.
“Enggak, Dok, enggak!! Saya tidak mungkin serangan jantung, Dok. Saya enggak merokok.”
Saya terdiam sesaat.
“Udah tolongin saya, kasih obat nyeri aja, Dok. Saya mau pulang.”
Di dalam hati, aku langsung menghitung waktu. Dalam kasus seperti ini, aku tahu aku tidak sedang berhadapan dengan jam yang longgar. Aku hanya punya sekitar sembilan puluh menit untuk segera bertindak. Perbedaan hasil antara cepat dan terlambat bisa terasa sangat kontras. Terlalu kontras untuk diabaikan.
Saya menarik napas dalam.
“Ibu ada apa?” tanya saya pelan. “Kok langsung menolak diagnosis saya? Belum saya periksa kok.”
Ia diam.
Matanya bergerak sebentar ke kanan dan ke kiri, menatap perawat-perawat yang berdiri di dekatku. Saya peka. Saya menoleh kepada perawat2 saya. “Tolong bantu pasien lain dulu, ya.”
Ibu itu menunduk. Lama sekali. Lalu dengan suara pelan yang nyaris seperti bisikan, ia berkata, “Ini akibat karma saya, Dok.”
Saya terhenyak.
“Karma?”
Ia mengangguk kecil. “Entah sudah berapa wanita yang telah saya sakiti, Dok.”
Saya menatapnya lebih dalam. “Ibu sakiti siapa?”
Ia menelan ludah. Suaranya gemetar ketika melanjutkan.
“Dok, sebenarnya saya sudah memasukkan beberapa alat ke dada dan ke dua payudara saya, Dok. Gara-gara alat ini, saya berhasil merebut banyak lelaki, suami-suami orang. Alat ini membuat saya tidak bisa ditolak oleh seluruh lelaki yang saya dekati, dan membuat lelaki manapun tertarik terhadap saya dan payudara saya.”
Saya menahan senyum. Jujur saja, saya jarang bertemu laki-laki yang tidak tertarik pada payudara.
Ia melanjutkan, makin tenggelam dalam ceritanya sendiri.
“Saya lakukan ritual memasang alat ke dalam dada bersama seorang laki-laki Orang Pintar dua puluhan tahun yang lalu, Dok.”
Saya kembali menahan senyum.
Apakah ibu ini Ironman?
Ibu itu melanjutkan, “Orang pintar bilang, kamu akan berhasil, tapi kamu akan menerima karma dari alat itu saat usia lima puluhan. Jadi ini karena alat, Dok!”
“Ibu,” jawab saya lembut, “bolehkah saya rontgen? Saya ingin melihat seberapa berbahaya karma dari alat ibu ini.”
Ia menatapku, ragu-ragu, lalu akhirnya mengangguk.
Kami lakukan rontgen.
Dan setelah hasilnya keluar, saya benar-benar takjub.
Ternyata memang ada.
Dua di payudara kiri. Dua di payudara kanan. Dua di bahu kanan dan kiri.
Dalam hati aku berpikir, Orang Pintar itu memang benar-benar pintar. Ia bisa menipu meyakinkan seorang perempuan usia dua puluhan untuk membuka bajunya dan memasang semua ini.
Saya kembali menghadap ibu itu.
“Ibu percaya sama saya, apa pun yang orang pintar itu bilang ke ibu tentang karma alat ini.”
Saya meletakkan tangan di dada sendiri.
“Orang pintar kedua ini akan bilang, ini bukan karena alat itu. Izinkan orang pintar kedua ini bantuin ibu. Saya mau nolongin ibu. boleh enggak?”
Ia diam. Ada jeda panjang sebelum akhirnya ia menjawab dengan suara yang jauh lebih kecil daripada teriakannya tadi.
“Boleh, Dok.”
Begitu kata itu keluar, aku tidak menunda lagi.
Langsung kami lakukan rekam jantung. Kami periksa enzim jantung, troponin I. Kami mulai loading obat. Semua yang harus dikerjakan, kami kerjakan secepat dan setepat mungkin.
Ibu itu akhirnya dirawat beberapa hari.
Dan syukurlah, akhirnya ia sembuh.
kalian itu jangan sok-sokan
kawan kalian dibunuh israel, gak ada garang-garangnya kulihat.
sama rakyat sendiri, sipil pula, begini amat.
mending copot saja seragam kalian, balikin bedil kalian.
semua itu, kami, rakyat yang bayar.