@GayusOctavian @kiittsch Gak perlu kompromi, jujur gak harus kasar meski emang ada yang tetep bisa kesinggung (masalah ego kalau ini, termasuk fitnah mereka kasar)
@Turdicken@Lovely2BMe81 People in real life doesn't have god's eye perspective unlike fiction. There can be several cases when public figures are attacked based on serious allegations, and later they're proven innocent.
@Turdicken@Lovely2BMe81 Don't you think they can create the narrative where said person/group are doing things generally regarded as immoral? Yes, like seeing a group as murderers.
@Turdicken@Lovely2BMe81 Bruh, many people are driven by the need for someone/some group to be labeled as the villain because people just want to be mad at someone. They can twist what someone/some group do as something immoral you said so they look righteous.
@asyncawaitx@MastinSaurus Umum orang yang beneran ngelakuin kejahatan dianggep beda sama manusia biasa, dianggepnya monster dari lahir, dibanding mereka yang "jalani hidup normal, peduli keluarga, punya temen, hangout, rekor bersih" - orang yang punya faktor tersebut dipandang gak akan berbuat jahat.
@miawmauwyuji@asyncawaitx Enabler lah, karena 'pecundang' itu bukan hanya soal morally bankrupt. Poinnya adalah perbuatan buruk yang dianggep sepele bisa berpuncak ke kejahatan nyata, jadi itu enabling.
@asyncawaitx Kenapa expect orang berteman untuk berbuat baik/benar? Pertemanan itu konsep eksklusif; expect mereka untuk respectful ke orang yang dianggap temen. Yang bukan temen? Expect dibeda-bedakan. Umum juga solid sama temen itu emang diciptakan dari common enemy.