Indonesia has swung from an emerging-market darling to a global laggard, with insiders blaming the president and his inner circle for erratic and poorly communicated policies. https://t.co/6AlwZOjUqS
Indonesia spent much of this week confronting a question that might have seemed unthinkable a few short years ago: what happens when investors stop believing in Southeast Asiaβs largest economy? https://t.co/vux9g1QUHg
π¨ ππ₯πππππ‘π: Metropolitan Police confirms that Arsenal's parade is the biggest ever parade held in the country.
Over 1.5 million people estimated.
Gw baru baca press release Astra soal arah bisnis mereka menuju usia 7 dekade ini. Yang pertama gw kepikiran bukan soal laba Rp33 triliun atau 300 anak perusahaannya. Yang kepikiran justru satu nama yang udah lama nggak disebut-sebut lagi: William Soeryadjaya.
Beliau yang bangun Astra dari nol tahun 1957. Bukan dari warisan keluarga kaya. Bukan dari koneksi pejabat. Tapi dari jualan minuman ringan dan dagang hasil pertanian lokal, pelan-pelan dia besarkan Astra sampai jadi distributor Toyota dan Honda terbesar di Indonesia. Butuh bertahun-tahun buat nyampe sana.
Hingga tiba tahun 1992, semuanya ambruk, tapi bukan karena Astra-nya. Bank Summa, bank yang dikelola anaknya Edward, kolaps karena terlalu royal ngucurin kredit. Utangnya lebih dari 1 miliar dolar. Secara hukum, William nggak ada kewajiban nanggung itu sama sekali. Bank Summa bukan Astra. Dia bisa aja cuci tangan.
Namun dia milih nggak. Katanya waktu itu: tidak ada yang mau berbisnis lagi dengan keluarga Soeryadjaya kalau dia sendiri nggak mau tanggung jawab. Tanpa dipaksa hukum, dia jual 100 juta lembar saham Astra, perusahaan yang dia bangun 35 tahun, buat lunasi utang Bank Summa dan selamatkan nasib ribuan karyawan yang bergantung di sana. Di usia 70 tahun, dia keluar dari Astra dengan tangan kosong. Dan meskipun William udah korbankan segalanya, pemerintah tetap melikuidasi Bank Summa pada 14 Desember 1992. Pengorbanan William nggak menyelamatkan banknya. Tapi dia tetap nggak menyesal.
Yang bikin kontrasnya makin tajam, Edward, orang yang jadi pangkal semua masalah itu, di kemudian hari justru terseret kasus korupsi dana pensiun Pertamina dan ASABRI yang merugikan negara hingga sekitar Rp23 triliun. Bapaknya rela kehilangan segalanya demi tanggung jawab. Anaknya malah milih jalan yang berbeda...
Setelah William pergi, Astra berkembang makin besar. Jardine Cycle and Carriage masuk tahun 2000 lewat tender senilai 506 juta dolar, Astra ekspansi ke alat berat, agribisnis, infrastruktur, teknologi, properti. Dari perusahaan otomotif, Astra transformasi jadi konglomerat raksasa. Laba bersih dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Lebih dari 300 anak perusahaan hari ini.
Jadi unpopular opinion gw adalah: banyak yang bilang Astra sukses justru setelah lepas dari William. Mungkin iya dari sisi angka. Tapi Jardine mau bayar 506 juta dolar buat Astra bukan karena mereka lihat perusahaan yang lagi hancur. Mereka masuk karena Astra punya reputasi yang tetap berdiri meski dihantam krisis. Dan reputasi itu dibangun William selama 35 tahun, lalu dijaga dengan cara yang paling mahal, yaitu dia bayar pakai seluruh kepemilikannya sendiri.
Astra sekarang mungkin bukan milik keluarga Soeryadjaya lagi. Tapi ada satu hal yang menurut gw nggak pernah beneran berpindah tangan. Perusahaan yang fondasinya dibangun orang yang milih integritas waktu nggak ada yang maksa, itu beda kelasnya. Dan menurut gw, itu yang paling susah ditiru.
tempo bersama celios dalam youtube tempo jelasin dong membahas kita sudah seperti dalam pra/menjelang krisis ekonomi 98, apakah benar demikin? atau media ini ada urusan sama soros seperti yg dikatakan ahli di youtube?ππ
FYI, Bentjok ini adalah cucu pendiri Batik Keris yang sempat masuk daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes (2018). Tapi di balik kekayaannya, dia adalah "otak" di balik manipulasi pasar modal terbesar di RI: Jiwasraya & Asabri.
A thread..