Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
@hanifproduktif Wkwk rata2 berhubungan sama lab/kesehatan. Emang harga peralatan lab sama reagen2 semahal itu sih, dan pasarnya spesifik, belum lagi ngomongin konsumables rutin yang harus di beli ketika udah beli alatnya, jadi kayaknya wajar aja kalo bisa gaji bagus.
Dokter: kalian harus sering2 ngobrol dg bayi kalian ya. Supaya perkembangan kapasitas bahasanya baik.
Suamiku ngobrol dg si bayi yg sdg minum susu: Jadi, dlm kapitalisme susu km ini tdk km terima krn km berhak, melainkan krn ortu km menukar kerja mrk dg nilai uang...
Buat orang yang paham data, pertumbuhan stabil 5 persen dari tahun ke tahun untuk ekonomi indonesia itu sangat mengerikan loh, kenapa?
Karena rupiah anjlok dia masi tumbuh.
Harga naik dia masi tumbuh.
Kelas menengah turun dia masi tumbuh.
Now gue ga bilang datanya salah, karena kalkukasi tuh bener, yang jadi pertanyaannya:
Kalau tumbuh terus siapa yang nikmatin?
Liat wealth gap makin naik tiap taun dah keliatan kok jawabannya :)
The moringa tree, known as the “miracle tree”, is one of the most nutrient-dense plants on the planet and is prized for its healing qualities. It also has another huge benefit, according to new research: it’s excellent at removing microplastics from water. https://t.co/7brn5FoLIA
Padahal kalo semuanya pada taat aturan perlintasan kereta, hanya bakal keluar Rp.0 aja.
Bukti kalo ketaatan itu mahal banget harganya. Pendidikan emang harus jadi prioritas nomor 1!
program upgrading 40 kota itu cuma butuh 90-120 triliun selama 5 tahun. kota2nya dapat trans publik, jaringan air minum, vertical housing, ruang publik hijau. bakal dinikmati 120 juta orang scr langsung. kualitas hidup membaik, ekonomi tumbuh lbh merata.
Apakah ini cuma perasaan saya saja?
Seolah mereka semua ini tahu kalau negara sedang dibawa ke arah kehancuran, jadi yang dikejar sekarang cuma mengeruk uang negara sebanyak-banyaknya supaya saat kapal karam mereka sudah lebih dulu selamat dengan sekoci mereka masing-masing 🙄
Stop nge-judge logat dan grammar orang saat mereka lagi ngomong Inggris.
Ini Bu Made lagi jelasin sesuatu pake bahasa Inggris dengan logat Bali aja, bule tetep bisa paham kok maksudnya, meskipun yg dipake tuh logat lokal.
Jadi, nggak perlu terlalu sibuk menghakimi cara orang lain ngomong bahasa Inggris, baik dari segi aksen maupun grammar.
Selama pesan tersampaikan dengan jelas, komunikasi tetep bisa berjalan lancar dan saling dipahami, meskipun logat dan grammar nggak sempurna.
Bahkan penutur asli pun sering pake struktur yg nggak selalu baku dalam percakapan sehari-hari.
Jadi, daripada fokus mengkritik logat atau kesalahan kecil, lebih baik saling menghargai proses belajar dan keberanian orang untuk berkomunikasi pake bahasa Inggris.
Kalo bule aja bisa memahami apa yg kita maksud, kenapa kita justru sibuk mengomentari satu sama lain?
Sbg dokter saya cukup sering menyaksikan kematian.
Ada bbrpa adab yg menurut saya penting, baik ke jenazah, keluarga ataupun di rumah duka :
- jgn nanya meninggalnya kenapa
- jgn asal foto jenazah apalagi di upload
- jgn larang keluarga buat nangis
- jgn cari makan (mereka udh kesusahan)
- jgn blg “harusnya sih..”
- jgn blg msh muda bsa nyari (suami/istri) lg
- jgn blg dpt warisan ga?
- sampaikan ke keluarga jika alm ada hutang atau tanggungan
Ada lagi yg harus di tambahkan?biar kita lbh beradab ☺️🙏🏻
Matematika itu bukan ilmu berhitung, tapi ilmu bernalar. Hitung2an hanyalah bagian kecil dari Matematika.
Anak2 lemah hitung2an karena langsung diberikan pengetahuan prosedural tanpa pemahaman konseptual. Ada gap yang besar di sini, yg semakin terlihat di masa post-covid.
Jadi gpp kalo orng ga bisa hitung, krn ada yg namanya alat bantu hitung. Yg bahaya itu orng ga bisa bernalar, shg dia ga tau hitungan dia (atau alat bantu hitung tsb) benar atau salah.
Salah satu kritik terhadap makanan Nusantara adalah menurutku:
Bagaimana rezim cenderung mempertahankan romantisme seperti misalnya Nasi Jamblang atau Nasi Lengko asal tempatku yang merupakan "makanan khas" orang sini dan dulunya sebagai bekal praktis buruh gula atau spirtus dan sudah berhenti di situ.
Lalu ada juga kebiasaan meminum air teh gula atau tanpa gula setelah makanan dan kalo dilihat secara sejarahnya, ini bukan lahir dari ruang kosong, tapi memang kondisi yang ada saat itu: surplus gula dan kelangkaan bahan hanya untuk golongan kelas ningrat, elite dan untuk kebutuhan ekspor.
Tahun berganti, tapi sikap narsisme itu tetap subur semacam sikap angkuh bahwa Indonesia itu negara besar dan kaya dgn harapan dengan sendirinya bisa tetap relevan dalam segi pemenuhan asupan gizi harian.
Kita tahu ngga sedikit negara-negara yg saat ini maju itu dulunya juga sempat melarat juga, tapi mereka mampu mengembangkan makanan tradisionalnya dengan tetap relevan agar gizi harian terpenuhi dan rakyatnya tidak kekurangan gizi/stunting.
Jepang adalah salah satu negara yang aku tahu ini, beberapa negara seperti Thailand dan Vietnam ini dua contoh yg juga sukses membawa makanan khasnya ke dalam luar batas negaranya.
Eksistensi suatu makanan itu kayanya kurang gimana gitu jika hanya bertahan karena romantismenya. Selain itu makanan itu pasti juga menyangkut lingkup kerja dan ekonomi warganya.
Maka setiap mode economy berubah dengan tren di belakangnya, apalagi kehadiran negara jarang memberikan insentif untuk pegiat kuliner, pedagang, pokoknya yang menghidupi ekosistem ini, tak heran jika makanan yg mungkin kita kenal di buku sejarah hanya sebatas katalog--bahwa ia pernah ada di sana dan kita hanya bisa membayangkannya.