@ngetweetssss@TradingDiary2 menarik kalo ada riset kpn konsep kapitalisme akhirnya dipahami nenek moyang kita? ini kemudian jadi hipotesis baru: apakah setelah sadar konsep kapitalisme inilah yg memantik semangat kemerdekaan? (sy mmg liat bibitnya di Indonesia Menggugatnya Soekarno)
@TradingDiary2 tentu saja profitnya dari kerja paksa nenek moyang kita dulu yg gak dibayar dengan upah layak krn gak ada UU perlindungan buruh dan saat itu konsep kapitalisme belum dipahami nenek moyang
@ainunnajib wah sangat filosofis sekali. pertanyaannnya: apa persamaan dan perbedaan ruh manusia dan ruh AI?
misalnya dalam filsafat Descartes bagaimana interaksi antara ruh AI dengan tubuh aslinya?
A lot of young aspiring Indians ask me if they should move to Germany and my answer is if you are ambitious and want rapid growth then Germany is not the place for you.
The system and society at large is designed to be resilient and slow moving. German culture prioritizes risk minimizing and the trade off is velocity. So in terms of business this means: sales cycles are slow, firing people is difficult and therefore companies are extra careful when hiring, promotions are infrequent and rare, and overall the economy grows slowly. So if you are the young, ambitious type looking to move fast and break things, and quickly climb up the corporate ladder, Germany will deeply disappoint you.
Also as an Indian tech immigrant, certainly roles will not be available to you unless you become Germanized enough. Which means you walk, talk and act like a German person. Most companies still prefer German speakers for roles that are even slightly public facing and perhaps rightfully so. This means you would be at a disadvantage if you are aiming high.
Germany is a great place for those who are wiling to sacrifice velocity for stability and risk minimization. It rewards patience and bonds formed over long periods. The culture is built around work-life balance and people draw deliberate distinct boundaries between them.
I am not saying one is better than the other, but you must figure out for yourself if you are willing to adjust to a slow pace of life.
I personally came to this country to do physics and it is still one of the best places to do basic science. But the last couple of years have been insightful; I have moved out of academia into industry and I am grappling with some of these questions myself.
I am a deeply impatient person. I want things to happen HERE and NOW. I don’t do waiting very well. The lifeless Sundays (everything shuts down) feel like death. I like capitalist societies built to maximize convenience. Also, I like car culture. It is great to be able to go on a short drive and blast music, just because I want to.
I am also slowly figuring out how long I want to be here. Life is incredibly short, it passes by in a blink. I am still too young to enjoy slow weekends and relaxed winters. I want to fill my time with wide and varied work, across multiple domains and yes at breakneck speed. If the trade-off is a few ups and downs along the way, I will gladly take them.
I am slowly coming to the conclusion that in the long run Germany is probably not where I want to be. It is still a great country with warm people though.
Verslaggever Pim trof vanmiddag een ravage aan op #Schiphol. Sommige reizigers wachten al dagen op hun vlucht. Vooral #KLM moet eraan geloven. 'Ik vlieg nooit meer met ze, er is geen enkele hulp. Ik ga ook niet meer naar dit vliegveld.' #sneeuw#nieuwsvandedag
For the third day in a row - Amsterdam Schiphol Airport is the most the disrupted airport.
Number of cancelled flights per day
Saturday - 385 (31%)
Sunday - 568 (43%)
Monday - 441 (34%)
Tuesday - 24 (2%)
Another gift before 2026 🎁
For a limited time, new members get from 50% off the Google AI Pro annual plan (auto renews at the subscription price after offer ends).
You'll get higher access to Gemini 3 Pro, Nano Banana Pro, Deep Research, and 2TB of Cloud Storage. Plus, share your plan with up to 5 others at no additional cost.
Claim offer: https://t.co/e2NwCbTEqt
L’Indonesie, pays invité d’honneur de ce 14 juillet. 450 militaires ont ouvert le défilé, une prestation remarquée notamment celle des 189 musiciens du drumband - groupe de percussions - « Gabungan ». @BFMTV
Saya baru saja berbicara dengan Presiden Indonesia, @Prabowo Subianto.
Kita telah memutuskan untuk memperkuat hubungan antara negara kita dengan proyek-proyek yang ambisius dan berwawasan ke depan.
Pendekatan bersejarah yang kita persiapkan ini akan terwujud dalam kunjungan kenegaraan saya ke Indonesia pada akhir bulan Mei.
Kita bertekad untuk mempererat kerja sama di bidang pertahanan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan budaya, serta mengembangkan pertukaran akademik kita.
Prancis dan Eropa ingin membangun ekonomi masa depan bersama Indonesia dengan menciptakan rantai nilai yang tangguh, terutama di sektor logam kritis, serta mendukung transisi energi.
Terakhir, bersama-sama kita memiliki tekad yang sama untuk mempromosikan perdamaian dan keamanan di Timur Tengah serta mengakhiri perang agresi yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina. Kami akan bekerja sama dalam persiapan konferensi tentang Gaza yang akan diadakan pada bulan Juni.
Masa depan dibangun melalui kemitraan yang kuat, perdagangan yang terbuka, dan visi bersama.
Untuk mahasiswa saya di FEB UI yang sedang menjalani UTS:
Di dunia yang serba “metric” ini, sayangnya ujian tengah semester jadi semacam alat ukur pintar atau tidak nya seorang anak didik.
Yang paling penting sebenarnya bukan “metric” atau nilai UTS. Yang penting bagaimana rasa ingin tahu ditumbuhkan, pengembaraan ide dan pemikiran di mulai. Eksplorasi kadang bisa lebih penting dari konklusi, karena konklusi bisa tak lagi relevan dimakan zaman yang berubah.
Yang lebih penting mungkin bukanlah pelajaran yang anda terima di bangku kuliah, tapi kebiasaan untuk berpikir sistematis dalam runtun logika. Yang lebih penting bukanlah menyelesaikan soal matematika ekonomi, makroekonomi dalam UTS, tapi bagaimana kebiasaan menganalisa dibentuk, berlatih untuk gagal dalam berbagai tugas. Karena kita tahu: seorang juara tak hanya muncul dari keberhasilan, tapi justru dari kegigihan untuk terus berusaha dalam situasi yang paling muskil sekalipun.
Anak didik berkemhang karena rasa ingin tahu, bukan karena jawaban yang dibakukan atau diseragamkan
Selamat menempuh UTS.