LU IKUT KOMPETISI/LOMBA DARI BRAND APA GOBLOK.
LU IKUT KOMPETISI DARI TOMORO YA TEMANYA, LOGONYA, BRANDNYA YA NGIKUTIN TOMORO-NYA
LU KALO MENANG DAPET INSENTIF DUIT, TOMORO DAPET PROMOSI BRANDING DARI ART LU
GOBLOK
KEBANYAKAN AI SI LU JADI TOLOL
Gak mau QRT, sa gak mau tambah engagement dari situ, cukuplah opini bodoh dapat engagement dari view aja. Pola pikir ormas kok dipake buat sesuatu yang menyangkut bisnis, dikira klub bola panti asuhan?
Pemikiran kok kalah sama akun joki.
Ya makanya jangan ngemis kerannya ke Eropa dibuka sama entitas bisnis kalau hasilnya aja belum dimaksimalkan. Benahi dulu, baru minta kerannya dibuka dibanding langsung menyematkan panggilan "elitis" ke Como. Sa sih ogah belain entitas bisnis gede, tapi cara berpikirnya kok lucu.
Secara bahasa memang, makanya perlu apresiasi ke banyak rapper Indonesia yang bisa bikin komposisi & rima yang gak cringe juga mudah dinikmati.
Sebagai pendengar awam ya masih banyak rapper kayak Saykoji dan Fade2Black yang bisa bikin kita gak merasa terjajah dengan bahasa asing
@scudder_9 Asli cringe banget.
Banyak orang ga sadar Bahasa Indonesia itu kurang cocok di rap karena jumlah suku katanya dominan lebih dari 1, kalimat jadi lebih panjang, kurang masuk ke ritmik cepat rap, maknanya telat sampe. Kalo pake kalimat pendek maknanya akan terlalu ringan.
"Kalo tau bakal begini ga bakal gw dukung"
Ngga, lo bukan gatau, tapi bodoh aja. Dari program kerja, riwayat hidup, sampe debat pun lo harusnya udah bisa nilai.
Mas, samean Debunk Habibie pake "ada ekonom yang bilang" tanpa nama, tanpa jurnal, tanpa data.
Iku bukan debunk mase, itu appeal to anonymous authority. Gosip warung kopi yang dikasih diksi akademik.
Mau serius? Sebutin dong nama ekonomnya, aku penasaran.😁
Suku bunga 70% itu memang obat pahit dan mahal mas.
PHK, aset dijual, rakyat susah. Aku dewe akui itu.
Tapi hasilnya rupiah dari Rp17.000 balik ke Rp6.500 dalam 17 bulan.
Mas bilang "kemenangan semu" . Ya wis oke, mas punya resep yang lebih bagus dengan biaya lebih murah? Sebutin. Kritik tanpa solusi itu cuma keluhan lho mas😁
Samean yo trauma miskin era 98 , valid mas, aku yo ngalami bolpen pilot hitam dari Rp400 berubah jadi Rp1100-Rp1500, gimana2 harga2 yang lain, kalo dipikir2 orang tua kita pasti lebih pusing lagi mikirin hal begitu. Waktu itu aku yo sik cilik mas
Tapi kemiskinan itu warisan Soeharto 32 tahun: KKN, utang swasta jangka pendek, perbankan rapuh.
Habibie cuma 17 bulan, mewarisi mess yang udah meledak.
Marah ke Habibie itu seperti marah ke dokter IGD karena operasinya sakit, padahal yang bikin kita masuk IGD orang lain.🙂
Tanpa kebijakan ketat Habibie, analis waktu itu proyeksikan rupiah bisa ke Rp 25rb bahkan sampe 30ribuan ke atas, capital flight lebih parah, kerusuhan lebih luas.
Bukan satu orang yang selamatkan Indonesia , tapi Habibie yang berani ambil keputusan berat itu.
Sekarang rupiah Rp17.500, dan banyak yang minta pemimpin jangan direpotkan kritik. Beda banget prioritasnya.😁
Habibie nggak sempurna.
Tapi dia ambil keputusan berat di situasi berat. Itu bukan heroisme semu , itu kepemimpinan.
Yang semu itu misal mau debunk tapi tanpa data.🙂😁
@reruzensky@ezash Berarti beda jalur aja secara umum dengan player biasa. Kalo scrim mah emang akses di Garena lebih mudah, soalnya ya yang handle juga pada nangkring di komunitas, sa tau beberapa, cuma memang gak minat aja main di Garena, ya perkara prinsip politis aja.
prabowo, tedi, dkk bermewah2 nginep di hotel superluks utk bikin surprais ultah sementara kamu harus memilih makan coklat seribu perak yg pas dikunyah lengket2 di langit2 mulut kek aspal antibocor pelapis dak untuk bisa hidup?
Kamu harusnya marah. Yuk! Bisa, yuk! 💪🔥
“Kamu dari TVRI harusnya enggak boleh bertanya seperti itu,” kata Teddy. “Siapa yang nyuruh kamu?”
Bagaimana Seskab Teddy mengatur arus informasi Istana dan mengancam wartawan plus petinggi media. Artikel lanjutan dari serial 'Dead Press Society", baca: https://t.co/arK81yQJNS
PRABOWONOMICS Vs Neoliberal: Menjawab The Economist!
Dalam dua tulisan terbarunya, majalah The Economist kembali mengayunkan gada kritik klasiknya terhadap Indonesia. Melalui artikel berjudul "Indonesia, the biggest Muslim-majority country, is on a risky path" dan "Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy", media benteng liberalisme barat ini menyuarakan kecemasan mendalam: Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto dianggap sedang melangkah ke jalur berbahaya karena memperkuat intervensi negara, mengaburkan batas disiplin fiskal, dan mengonsolidasikan kekuatan politik.
Namun, jika kita menembus kabut kecemasan tersebut, kita akan mendapati sebuah bias lama yang usang. The Economist sedang melihat Indonesia menggunakan kacamata usang cetak biru Konsensus Washington (Neoliberalisme). Mereka gagal memahami satu hal mendasar: bagi Indonesia, terus berjalan di atas rel ekonomi liberal murni bukanlah sebuah pilihan keselamatan, melainkan sebuah jaminan untuk terjebak selamanya dalam kutukan negara pendapatan menengah (Middle-Income Trap).
Prabonomomics hadir bukan untuk merusak ekonomi, melainkan sebagai tesis tandingan (counter-thesis) yang berani untuk menata ulang struktur ekonomi nasional demi keadilan sosial.
Kekeliruan Paradigma Pasar Bebas: Belajar dari Sejarah.
Selama puluhan tahun, resep neoliberal mendikte negara-negara berkembang untuk menjadi "murid yang patuh": buka pasar selebar-lebarnya, batasi peran negara hanya sebagai wasit, privatisasi sektor publik, dan biarkan modal global mendikte arah pembangunan.
Hasilnya? Indonesia terjebak menjadi eksportir bahan mentah. Kita mengalami deindustrialisasi dini, di mana kontribusi manufaktur terhadap PDB terus menyusut. Kita kaya akan nikel, tembaga, dan bauksit, namun nilai tambah terbesar dari kekayaan alam tersebut dinikmati oleh negara-negara industri maju di Barat dan Asia Timur. Pasar bebas murni, dalam realitasnya, melanggengkan ketimpangan struktural dan menciptakan apa yang disebut para ekonom sebagai commodity curse (kutukan komoditas).
Ketika Presiden Prabowo memilih untuk keluar dari jebakan ini, langkah tersebut tidak lahir dari ruang hampa ideologis. Ini adalah kalkulasi pragmatis yang berakar pada konstitusi Pasal 33 UUD 1945: bahwa bumi, air, dan kekayaan alam harus dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat.
Tiga Pilar Prabowonomics: Melawan Skeptisism Barat.
Kritik The Economist runtuh ketika dihadapkan pada logika pembangunan jangka panjang yang diusung oleh Prabowonomics, yang bertumpu pada tiga pilar utama:
1. Investasi Manusia (SDM) Bukan Pemborosan Fiskal.
The Economist cemas terhadap program-program sosial masif seperti Makan Bergizi Gratis dan perumahan rakyat, menuduhnya sebagai ancaman bagi batasan defisit anggaran 3%. Ini adalah cara pandang akuntansi jangka pendek, bukan ekonomi pembangunan.
Dalam Prabowonomics, memberi makan bergizi bagi anak-anak dan ibu hamil adalah investasi infrastruktur manusia terpenting untuk memotong rantai stunting. Bagaimana sebuah negara bisa melompat menjadi negara maju jika angkatan kerjanya mengalami malnutrisi kronis? Belanja ini adalah restrukturisasi modal manusia (human capital) yang akan menaikkan produktivitas nasional 10 hingga 20 tahun ke depan. Disiplin fiskal tetap dijaga, namun anggaran dikelola secara ekspansif-terukur, bukan hemat defensif yang mencekik pertumbuhan.
Tau sih si gendut ini inkompeten tapi gak nyangka sampai sebegininya. Dia kira kedelai, daging sapi, gula dan beras itu gak impor.
Berpolitik tapi tititnya dipegangin raja bandit dari Solo, ya begini jadinya.
Berdasarkan putusan terbaru per 12 Mei 2026, Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa Jakarta Ibu Kota Negara Indonesia.
FYI, anggaran untuk IKN per 2025 aja udah 75 triliun. Terus gak jadi apa-apa.
Bisa bangun berapa sekolah itu harusnya😭😭😭