Militer Indonesia bukan sekadar alat negara. Ia adalah faksi borjuis bersenjata yang sejak awal membangun kepentingan ekonominya sendiri.
Dari KNIL ke PETA, dari didikan fasis Jepang hingga dwifungsi Orde Baru, para jenderal memelihara anggapan bahwa sipil itu lambat dan lemah.
Selama lebih dari tiga dekade, kediktatoran Orde Baru membungkam tradisi progresif lewat represi dan kontrol ideologis. Namun di tengah gelapnya rezim, bara perlawanan tak pernah padam—dari gerakan mahasiswa, lembaga advokasi, gerakan buruh dan tani, hingga partai politik
membangun kesadaran yang lebih terorganisir di masa kini dan mendatang.
📅Batas pengumpulan: 31 Mei 2026
🔗 Form pengiriman: https://t.co/gehx9Xpidq
📧 Arsip digital: [email protected]
📞 Kontak: 62 895 1830 4776
🔗 https://t.co/EkeZ1SDQju
Selama lebih dari tiga dekade, kediktatoran Orde Baru membungkam tradisi progresif lewat represi dan kontrol ideologis. Namun di tengah gelapnya rezim, bara perlawanan tak pernah padam—dari gerakan mahasiswa, lembaga advokasi, gerakan buruh dan tani, hingga partai politik
membangun kesadaran yang lebih terorganisir di masa kini dan mendatang.
📅Batas pengumpulan: 31 Mei 2026
🔗 Form pengiriman: https://t.co/gehx9Xpidq
📧 Arsip digital: [email protected]
📞 Kontak: 62 895 1830 4776
🔗 https://t.co/EkeZ1SDQju
Sejarah telah berulang kali menunjukkan bagaimana militer Indonesia memecah, mengadu domba, lalu menghancurkan bahkan terhadap mereka yang pernah menjadi sekutu.
Seperti kisah Suryadi, demi ambisi politik, ia memilih jalan pengkhianatan meninggalkan kawan-kawannya sendiri dan
ia hanya memanfaatkan kita untuk saling menghancurkan.
LSSI: Jejak Gerakan Kiri, Pelajaran untuk Perjuangan Kini.
📱Follow: https://t.co/TsEcVDHDhV
🎁 Donasi: https://t.co/40gcalaO4U | https://t.co/tlb80SXKeH | https://t.co/03JiBtKxpI
💌 Kirim dokumen sejarah: [email protected]