Recuerdo cuando acusaba de lo peor al gordo de Aliaga pero luego se puso a llorar cuando le hicieron "fraude" en primera vuelta. Hay que tener honestidad intelectual.
Curwen (cachudo o no) salió a mear a todos y metió 50K en su streaming y seguro romperá récords en su programa de la noche. Al final, le hicieron un favor, más visibilidad y más plata. La ropa sucia, seguramente, la lavará en casa.
Lloran los fujimoristas.
Buku ini karya Bhikhu Parekh yang berjudul Rethinking Multiculturalism. Dalam karyanya ini Parekh mengevaluasi kembali teori politik dalam menghadapi realitas keanekaragaman budaya di masyarakat modern. Ia membedakan antara fakta multikultural sebagai kondisi sosial dan multikulturalisme sebagai respons normatif yang menghargai perbedaan.
Melalui tinjauan sejarah, Parekh mengkritik pandangan monisme moral yang meyakini adanya satu cara hidup terbaik dan pandangan kulturalisme yang terlalu mengagungkan relativitas budaya. Ia mengusulkan pemahaman baru yang mengakui bahwa manusia secara bersamaan adalah makhluk biologis dan kultural, sehingga menuntut struktur politik yang lebih inklusif.
Karya Parekh ini menawarkan rekonstruksi teoretis dan praktis mengenai bagaimana masyarakat modern seharusnya merespons keanekaragaman budaya. Parekh menegaskan bahwa multikulturalisme bukanlah doktrin politik dengan program kaku atau teori filsafat yang mutlak, melainkan sebuah perspektif atau cara pandang terhadap kehidupan manusia.
Parekh mengkritik tradisi filsafat politik Barat tradisional yang ia sebut sebagai Monisme Moral (mulai dari monisme Yunani, Kristen, hingga pemikir liberal klasik seperti John Locke dan J.S. Mill). Monisme moral ini mengasumsikan bahwa hanya ada satu cara hidup yang benar, rasional, atau terbaik bagi manusia, sementara perbedaan budaya dianggap sebagai penyimpangan atau tanda ketidaktahuan.
Meskipun pemikir liberal modern seperti John Rawls, Joseph Raz, dan Will Kymlicka mencoba mengakomodasi keberagaman, Parekh menilai teori mereka tetap bermasalah karena memaksakan nilai-nilai khas liberal (seperti otonomi individu dan individualisme) sebagai standar universal yang tidak bisa ditawar. Akibatnya, mereka gagal memberikan keadilan yang setara bagi komunitas non-liberal.
Manusia dipahami sebagai makhluk yang secara mendalam dibentuk oleh budayanya (culturally embedded), tetapi tetap memiliki kapasitas reflektif untuk mengevaluasi, mengkritik, dan melampaui budaya tersebut. Parekh menolak relativisme ekstrem sekaligus universalisme kaku, lalu menawarkan jalan tengah berupa universalisme pluralis.
Parekh berargumen bahwa negara modern yang awalnya berciri homogen harus direkonseptualisasi.
Negara multikultural yang adil harus mengakui warga negaranya baik sebagai individu maupun sebagai anggota komunitas budaya, menjadikan negara sebagai suatu komunitas dari komunitas-komunitas (community of communities).
Penerapan kesetaraan hak tidak berarti perlakuan yang seragam (uniform treatment), melainkan perlakuan yang sensitif terhadap perbedaan (difference-sensitive equality).
Parekh berpendapat untuk menyelesaikan konflik praktis atau praktik budaya minoritas yang kontroversial dengan melakukan dialog antarbudaya yang bersifat bifokal. Dialog ini tidak hanya mengevaluasi praktik budaya minoritas, tetapi juga memaksa masyarakat mayoritas untuk merefleksikan kembali batasan nilai-nilai publik mereka sendiri.
Jadi Parekh dalam karyanya merekomendasikan pembentukan Masyarakat Multikultural Dialogis dan tidak mengagungkan satu doktrin budaya tertentu (baik liberal maupun non-liberal), melainkan bersatu di atas komitmen bersama terhadap budaya dialog.
-Bhikhu Parekh-
@PaoR2005@Angela_nativa poblaciones del Andes profundo, o la selva.
Yo no soy nacionalista, pero si lo fuera y me metiera con una chola color puerta, sería un hipócrita o algo asi?
Quiero decir, existimos castizos y algún que otro criollo en este país.
@PaoR2005@Angela_nativa Y aún así es cuestionable que la cumplen al pie de la letra, porque Antauro está con una mestiza con la piel clara (no blanca obvio) y varios de sus lideres son mestizos-castizos.
En este país es imposible pregonar una identidad étnica homogénea, con excepción de algunos +
Regarding the warmongering fanaticism that gripped a large segment of Japanese society during World War II, Browne recounts in *The Last Banzai* that, on the eve of Pearl Harbor, Tojo’s nephew was bullied by his peers because they considered his uncle a softie.
The ancient Greek lyric poet Pindar once declared that "hopes are but the dreams of those awake" for like a dream, a man's hope offers a dual illusive gift: a comfort yet fleetingly insubstantial.