C'è solo l'Inter, per me, solo l'Inter
C'è solo l'Inter, per me, per me
C'è solo l'Inter, c'è solo l'Inter,
c'è solo l'Inter, per me
C'è solo l'Inter per me
10-11 June 2023, Tennis Center GBK Senayan
Mohon maaf banget nih mas, kalo pemain kelas standar kayak Hojlund, Luis Alberto, Scamacca, RLC, Zapata, sampai Tammy Abraham aja sudah masuk kategori 'BERSINAR' versi lo, standar lo rendah dan memprihatinkan banget wkwkwk.😭
Lau cuma asal sebut nama alumni EPL tanpa paham situasinya :
☑️ Luis Alberto & Zapata : Di EPL cuma fringe player / anak magang yang blm dapet panggung, bukan 'pemain buangan bintang'.
☑️ Hojlund : Dari Atalanta justru dibeli mahal sama MU gara-gara dia meledak di Italia dulu, kok balik ditulis pemain buangan EPL?Paham kau?
☑️ Tammy & RLC: Boro-boro bersinar konsisten, performa mereka di Serie A aja angin-anginan dan sering dicadangkan. 😂
Asal nyomot nama alumni EPL demi maksain, kocak banget sih. Makin kelihatan kalau pengetahuan sepak bola lu cuma sebatas scroll Transfermark doang wkwkwkwk. Bikin list kok isinya blunder semua, gak malu apa? 😌
@TenBesID Gue bantu tambahin min pemain” buangan epl yg bersinar ke serie a : hojlund, luis alberto, scamacca, dzeko, loftus chek, cuadrado, duvan zapata, Tammy abraham
Membaca tentang Kylian Mbappe yang tidak memperpanjang kontrak dengan Nike
Pun menolak tawaran raksasa lain, Adidas dan Puma
Kabarnya Mbappe akan menjalin kerjasama dengan brand "tak dikenal" di lingkungan sepakbola
Katanya brand tersebut ga cuma nawarin angka sensasional, melainkan juga akan membuatan sub-brand untuk Mbappe dan sang jenderal pun akan memperoleh persentase saham
Bisik-bisiknya sih kabarnya adalah On Cloud
Kalau ini kejadian, sepertinya akan jadi babak baru memang buat apparel sepatu bola, utamanya dalam kerjasama dengan Mega Bintang
Tanpa Mbappe, siapa bintang utama Nike nantinya ya?
Blunder lagi dah. Logika pelintiran paling kocak wkwkwk 😭
‼️Standar Ganda Soal Usia: Mo Salah & Bruno meledak di EPL, lau bilang: 'Itu karena mereka makin matang, bukan karena Serie A jelek'. Tapi pas Tomori (23 tahun) & Pulisic (24 tahun) meledak lg di Serie A, kok lu gak pake narasi 'mereka makin matang', malah nuduh 'karena liganya gampang'? Standare ganda banget mas.
‼️Blunder Henry, Bergkamp & Vieira: Henry di Juve itu dimainin jadi Winger Kiri sama Ancelotti, pas di Arsenal digeser Arsene Wenger jadi Striker. Itu murni soal kecocokan posisi & sistem taktik lah, bukan karena Italia terlalu sulit sampai dia 'melempem'! 😌
‼️Kasus 'Pemain Jadi' EPL di Italia: Lukaku & McTominay gacor di Italia bkn karena Serie A kelas dua, tapi karena sistem taktiknya memfasilitasi kelebihan fisik & atribut utama mereka, hal yang gagal dieksploitasi sama pelatih EPL sebelumnya.
Kalo teorimu harus muter-muter bikin pengecualian sana-sini cuma buat kelihatan bener, berarti teorimu emang udah cacat dari awal bro.
Banyak yg nyerang gw pake nama Bergkamp, Vieira, Henry, Bruno Fernandes, sama Salah buat mentahin opini gw kemarin.
Sori nih bro, tapi lo semua salah pake amunisi. Justru contoh2 itu yg bikin teori gw makin kuat. Nih gw coba jabarin satu2 ya...
Pertama, kalo soal Bergkamp, Vieira, Henry melempem di Serie A tapi bak dewa di Liga Inggris itu ya karena pada masa itu Liga Italia ialah liga yg paling sulit dan kompetitif!
Sekarang gantian situasinya, pemain buangan Liga Inggris banyak yg jadi jago pas pindah ke Serie A.
Sementara soal Mo Salah, Coutinho, Bruno Fernandes gak begitu bersinar di Serie A, itu karena mereka masuk Serie A waktu masih muda. Itu bukan "gagal karena levelnya kurang", itu "belum sempet berkembang doang".
Nah bandingin sama contoh gw yaitu McTominay, Ashley Young, Smalldini, Lukaku dkk. Mereka pindah ke Serie A itu statusnya udah jadi pemain jadi, bukan young talent.
Jadi kalo lo liat Mo Salah, Fernandes, pas ke PL mereka naik level jadi world class. Itu namanya pemain muda yg emang berkembang seiring waktu, bukan "gagal terus mendadak jago karena level liga".
Gimana, mulai masuk di logika kan?🤔☺️
Tinggal lo genepin jadi 16 atau 20 tahun terakhir kenapa sih mas. Disitu ada Milan juga masuk sbg juara UCL. Nanggung banget. Kan Inter terakhir di tahun 2010 juara dan runner up 2x di 4 musim terakhir. Tuh sama sama-sama genap 😅
Plusvalenza : Saat Akuntansi Licik Juve Mentok di Tembokan Hukum 🔨
Juventus sama skandal itu udah kayak dua hal yg susah dipisahin. Belum juga publik lupa sama kelamnya kasus Calciopoli di tahun 2006, mereka malah bikin ulah lagi di Serie A lewat skandal "Plusvalenza" alias rekayasa nilai transfer dalam bhs awamnya.
Modusnya sebenarnya simpel tapi licik, mereka goreng harga jual-beli pemain di atas kertas biar laporan keuangan klub keliatan "hijau 💚" dan lolos dari jeratan FFP. Contoh paling mencolok ya pas barter Pjanić sama Arthur bareng Barcelona yang angka di kertas digelembungin segila mungkin.
Tapi ya namanya bangke mau ditutupin rapi kaya gmn juga tetep baunya kecium. Begitu Kejaksaan Turin (Investigasi Prisma) turun tangan, boroknya langsung terbongkar semua. Efeknya apa? Bener-bener bikin malu euy.
☑️ Petinggi Kabur Barengan: Agnelli, Nedved, dan seluruh jajaran bos besarnya langsung resign massal. Panik duluan sebelum kena sanksi resmi.
☑️ Pengurangann Point : Sempet dikasih hukuman -15 poin, terus direvisi jadi penalti -10 poin. Hasilnya? Posisi mereka langsung meluncur bebas dan gagal lolos ke UCL.
Skandal Plusvalenza ini makin mempertegas satu hal yaitu di saat klub lain sibuk mikirin taktik dan nego pemain yang bener bersih, Juventus malah sibuk main kotor di laporan akutansi di ruang rapat. Ujung-ujungnya malah tetep aja kepergok dan malah bikin malu diri sendiri sama Liga sendiri.
Teorimu runtuh karena standar gandamu sendiri sih bro 😭
☑️ Misconception Jardel & Alves : Afonso Alves gagal di Middlesbrough tapi Jardel meledak di Porto. Menurut logikamu, EPL > Eredivisie. Tapi kalau parameternya cuma 'pindah liga langsung melempem', kenapa Erling Haaland (dari Liga Jerman) & Ciro Immobile (gagal total di Dortmund/Sevilla tapi top skor abadi di Serie A) bisa berkebalikan? Ini bukti SOAL TACTICAL FIT, bukan cuma angka koefisien.
☑️ Kontradiksi Koefisien UEFA : Kao bilang koefisien adalah bukti level kesulitan liga kan. Tapi pas Serie A finish #1 di Koefisien UEFA 2023/24 (FAKTA), kenapa kamu gak ngakuin Serie A sebagai liga tersulit di Eropa saat itu? Kok standar koefisiennya mendadak hilang pas Serie A di atas?
☑️ Standar Ganda Usia: Salah & Bruno sukses di EPL kamu sebut 'BERKEMBANG SEIRING USIA'. Tapi pas Pulisic (24 thn) & Tomori (23 thn) meledak di Italia, kamu tuduh 'karena liganya gampang'. YASSALAM mas mas.
Kesimpulannya apa? Kamu kagakk lagi mikir objektif, tapi cuma nyari-nyari pengecualian biar teorimu kagak kelihatan cacat.
Masih berani ngeles lagi?
⚽️ Prediksi Inter VS Monza ⚽️
Analisis Lineup & Taktis
Melihat lineup yg diusung Inter, ada beberapa poin krusial yang membuat formasi ini sangat menarik sekaligus superior di atas kertas :
1. Lini Belakang Solid (Stones - Akanji - Bastoni)
Kehadiran John Stones sebagai central defender bersama Manuel Akanji dan Alessandro Bastoni memberikan kenyamanan dalam build-up dari bawah.
Stones punya kemampuan hybrid untuk melangkah ke lini tengah mendampingi Hakan saat menguasai bola, menciptakan situasi overload yang sulit diredam blok rendah Monza.
2. Dinamika Lini Tengah & Sektor Sayap
Andy Diouf di sisi kanan dan Federico Dimarco di sisi kiri memberikan keseimbangan antara power dan physicality dari Diouf dan creativity serta crossing presisi dari Dimarco.
Kombinasi Nicolò Barella dan Sučić di posisi mezzala membuat transisi bertahan-ke-menyerang Inter sangat eksplosif. Sučić memberikan penetrasi dari lini kedua, sementara Barella menjaga tempo dan counter-pressing.
3. Duet Maut Lautaro - Thuram
Lautaro dan Thuram sudah memiliki chemistry yg matang. Pergerakan dinamiss Thuram melebar akan membuka ruang matang bagi Lautaro maupun tusukan Barella atau Sučić dari lini tengah.
⚽️ Prediksi Jalannya Pertandingan
Inter diprediksi langsung mengambil kendali laga sejak menit awal lewat Hakan dan fleksibilitas Stones.
Dan Dimarco dan Diouf bakal konstan membombardir kotak penalti Monza dengan umpan-umpan silang serta tusukan tajam.
Sedangkan Monza kemungkinan akan bertahan dalam medium atau low block dan mengandalkan transisi cepat. Namun, dengan keberadaan Akanji dan Bastoni yang memiliki recovery pace jempolan, ancaman ini bisa diminimalisasi.
Inter dan Arsenal punya satu kesamaan yaitu mereka gak sedang membangun ulang, tapi menyempurnakan kerangka yang udah jadi.
Arsenal sudah bertahun-tahun bermain dengan sistem Arteta, jadi kebutuhan belanja mereka lebih spesifik dengan mencari kepingan yg benar-benar bisa menutup kekurangan musim sebelumnya.
Inter juga kurang lebih sama. Kerangka dari pelatih-pelatih sebelumnya udah terbentuk dan sistemnya sudah berjalan. Beberapa pemain senior era pelatih sebelumnya seperti Bastoni, Barella, Di Marco, dan Lautaro yg lama pun masih ttp menjadi andalan. Chivu tinggal menyempurnakan, menyesuaikan detail, dan mencari solusi di area yang masih kurang dr musim lalu.
Belanja pemain baru yg sedikit tapi tepat sasaran jauh lebih masuk akal daripada bongkar skuad besar-besaran. Karena mungkin pelatihnya berbeda atau pelatih yg lama mencoba skema baru di musim 2026/27.
Logika simple nya yg satu sedang membangun rumah, yang satu lagi sedang renovasi rumah yang sudah berdiri. 🔵⚫️
Lazio fans are making their revolt against ownership VERY clear.
85% of season ticket holders reportedly didn’t renew from last season 🤯
From 30,000 season tickets in 2025/26 to just 4,000 for 2026/27.
📰 Il Messaggero
Plusvalenza : Saat Akuntansi Licik Juve Mentok di Tembokan Hukum 🔨
Juventus sama skandal itu udah kayak dua hal yg susah dipisahin. Belum juga publik lupa sama kelamnya kasus Calciopoli di tahun 2006, mereka malah bikin ulah lagi di Serie A lewat skandal "Plusvalenza" alias rekayasa nilai transfer dalam bhs awamnya.
Modusnya sebenarnya simpel tapi licik, mereka goreng harga jual-beli pemain di atas kertas biar laporan keuangan klub keliatan "hijau 💚" dan lolos dari jeratan FFP. Contoh paling mencolok ya pas barter Pjanić sama Arthur bareng Barcelona yang angka di kertas digelembungin segila mungkin.
Tapi ya namanya bangke mau ditutupin rapi kaya gmn juga tetep baunya kecium. Begitu Kejaksaan Turin (Investigasi Prisma) turun tangan, boroknya langsung terbongkar semua. Efeknya apa? Bener-bener bikin malu euy.
☑️ Petinggi Kabur Barengan: Agnelli, Nedved, dan seluruh jajaran bos besarnya langsung resign massal. Panik duluan sebelum kena sanksi resmi.
☑️ Pengurangann Point : Sempet dikasih hukuman -15 poin, terus direvisi jadi penalti -10 poin. Hasilnya? Posisi mereka langsung meluncur bebas dan gagal lolos ke UCL.
Skandal Plusvalenza ini makin mempertegas satu hal yaitu di saat klub lain sibuk mikirin taktik dan nego pemain yang bener bersih, Juventus malah sibuk main kotor di laporan akutansi di ruang rapat. Ujung-ujungnya malah tetep aja kepergok dan malah bikin malu diri sendiri sama Liga sendiri.
Arthur Melo akhirnya berpisah dengan Juventus.
Arthur Melo selama ini jadi beban Juventus.
Kedatangannya sebagai bagian dari penjualan Miralem Pjanic ke Barcelona.
Transfer tersebut membuat Juventus kena skandal Plus Valenza.
Petinggi2nya mundur, Juventus dikenai hukuman pengurangan 15 poin yang akhirnya direvisi jadi -10 poin.
Teorimu runtuh karena standar gandamu sendiri sih bro 😭
☑️ Misconception Jardel & Alves : Afonso Alves gagal di Middlesbrough tapi Jardel meledak di Porto. Menurut logikamu, EPL > Eredivisie. Tapi kalau parameternya cuma 'pindah liga langsung melempem', kenapa Erling Haaland (dari Liga Jerman) & Ciro Immobile (gagal total di Dortmund/Sevilla tapi top skor abadi di Serie A) bisa berkebalikan? Ini bukti SOAL TACTICAL FIT, bukan cuma angka koefisien.
☑️ Kontradiksi Koefisien UEFA : Kao bilang koefisien adalah bukti level kesulitan liga kan. Tapi pas Serie A finish #1 di Koefisien UEFA 2023/24 (FAKTA), kenapa kamu gak ngakuin Serie A sebagai liga tersulit di Eropa saat itu? Kok standar koefisiennya mendadak hilang pas Serie A di atas?
☑️ Standar Ganda Usia: Salah & Bruno sukses di EPL kamu sebut 'BERKEMBANG SEIRING USIA'. Tapi pas Pulisic (24 thn) & Tomori (23 thn) meledak di Italia, kamu tuduh 'karena liganya gampang'. YASSALAM mas mas.
Kesimpulannya apa? Kamu kagakk lagi mikir objektif, tapi cuma nyari-nyari pengecualian biar teorimu kagak kelihatan cacat.
Masih berani ngeles lagi?
Buat yg pada nyerang opini gw kemarin...
Kualitas sebuah liga itu berbanding lurus sama tingkat kesulitannya bro.
Makin tinggi peringkat liga di koefisien UEFA, makin sulit dan kompetitif juga liga tersebut!
Ini bukan asumsi gw doang, ini bisa dibuktikan lewat rekam jejak pemain yang pindah liga.
Salah satu contoh yaitu Mario Jardel sama Alfonso Alves. Dua-duanya raja gol sejati di eranya, di Liga Portugal dan Eredivisie jumlah golnya bisa ngalahin jumlah main doi sendiri.🤯
Mereka tuh kayak Cristiano Ronaldo, jumlah golnya di liga bisa lebih banyak daripada jumlah mainnya.
Tapi giliran doi berdua nyebrang ke Premier League? Zonk total!🤮
Golnya bisa diitung pake jari sebelah tangan doang. Padahal skill sama insting golnya sama, yang beda cuma satu: level liganya!
Nah kalo emang koefisien liga di Eropa cuma angka doang gak ada pengaruhnya, kenapa striker segalak itu bisa mendadak melempem? Logikanya kan gak masuk akal kalo skill doi tiba2 ilang dalam semalam.
Apalagi yg pada bilang kalo pemain melempem di suatu liga tuh kebanyakan gara2 taktik pelatihnya yg gak cocok.😂
Ini bukti paling telak kalo faktor kualitas di sebuah liga itu real! Makin tinggi liganya, beknya lebih disiplin, tempo mainnya lebih cepet, fisiknya lebih keras, dan margin error buat striker jauh lebih tipis di liga yang levelnya lebih tinggi.
Makanya kalo ada yg bilang "koefisien UEFA cuma statistik gak penting", gw jawab tegas: itu justru tolak ukur paling valid buat ngukur kualitas sebuah liga. Karena angka itu dihitung dari performa klub-klub secara konsisten selama beberapa musim, bukan ngasal comot doang.😁
Jadi buat yang masih ngeyel bilang level liga gak ngaruh ke kualitas pemain, monggo dijelasin dulu kenapa raja gol bisa jadi pemain medioker cuma dalam satu bursa transfer doang.
Inter dan Arsenal punya satu kesamaan yaitu mereka gak sedang membangun ulang, tapi menyempurnakan kerangka yang udah jadi.
Arsenal sudah bertahun-tahun bermain dengan sistem Arteta, jadi kebutuhan belanja mereka lebih spesifik dengan mencari kepingan yg benar-benar bisa menutup kekurangan musim sebelumnya.
Inter juga kurang lebih sama. Kerangka dari pelatih-pelatih sebelumnya udah terbentuk dan sistemnya sudah berjalan. Beberapa pemain senior era pelatih sebelumnya seperti Bastoni, Barella, Di Marco, dan Lautaro yg lama pun masih ttp menjadi andalan. Chivu tinggal menyempurnakan, menyesuaikan detail, dan mencari solusi di area yang masih kurang dr musim lalu.
Belanja pemain baru yg sedikit tapi tepat sasaran jauh lebih masuk akal daripada bongkar skuad besar-besaran. Karena mungkin pelatihnya berbeda atau pelatih yg lama mencoba skema baru di musim 2026/27.
Logika simple nya yg satu sedang membangun rumah, yang satu lagi sedang renovasi rumah yang sudah berdiri. 🔵⚫️
Buat kalian-kalian yang ketidurin semalam dan ngga sempat ngelihat fans-fans Arsenal memuji Sulis, Odegaard, dan kembalinya trio Saka, Ben dan Ode di kanan, bisa lihat highlightsnya di sini nggih:
(🎥 from @user84848384)
TOSHIBA TV SIELTAM LEAGUE S3 🏆📺🦅
In collaboration with @FPL_sieltam.
Berhadiah total jutaan rupiah + TV Toshiba. 🎁💰📺
S&K:
- Follow @toshibatv_id dan @FPL_sieltam di X dan IG (total 4 akun)
- RT & Like postingan ini.
- Reply (nama team) kamu di post ini.
- 1 manager maksimal 1 akun
- Perhatikan seluruh rangkaian poster dengan seksama.
Gabung sekarang, gratis!👇