Hanya ada satu negeri yang menjadi negeriku. Ia tumbuh dengan perbuatan, dan perbuatan itu adalah usahaku - Rene de Clercq
@PSI_Jakarta✊️🐘
@peduli_hankam🛡⚔️
Hanya ada satu negeri yang menjadi negeriku. Ia tumbuh dengan perbuatan, dan perbuatan itu adalah usahaku - Rene de Clercq
#SayaTetapTinggal#BangunNegeri 🇮🇩
Kesalahan fatal sistem demokrasi adalah bahwa struktur partai tidak dipikirkan.
Parpol adalah software pemerintah.
Kita susah-susah bikin hardware birokrasi & hukum & konstitusi. Kalau softwarenya busuk, semuanya busuk.
Padahal parpol juga institusi, seperti BCA atau Gojek.
Akhirnya, karena tidak dipikirkan dengan matang, software-software politik kita hanyalah berupa gerombolan preman ormas dan bandit yang hanya bisa merampok dan memalak. Acemoglu (penulis "Why Nations Fail") menangis melihat yang seperti itu.
Late night tweet. Normies have a short memory.
If you find yourself in an insane moral mania, NEVER oppose it. If possible, ride on it. Do NOT be consumed by it.
In 2 years, normies will completely forget that the mania was even a thing. But they WILL remember if they find you icky at that time.
The roving bands of normies will smash your grandma to death with blunt metal rods into mangled pieces if they find her to be different. In 2 years they will completely forget why they did it. But they will emotionally feel that your grandma deserves it, because when the herd becomes insane, the normal become deviants.
The normie is a rational local actor. If the herd is running into a cliff, it makes sense to keep following the herd. Deviate from the herd, and you will be trampled to death. Only insane people would deviate from the herd.
Your grandma, by virtue of not changing, is trampled and mangled to death by the manic herd running into the cliff.
Don't be trampled. Don't jump off the cliff either.
Be steadfast, for the herd will soon change course as they always does. Only the strong horse persevere in this endless and meaningless race. The weak horse becomes glue. Don't become glue.
This fallen satanic world of normies might feel unpredictable, unfair, meaningless, evil, insane, and deserving of a violent and total extermination in the infinite depths of God's wrathful abyss of unquenchable fire. And you might be right. And it is certainly easy to hate the normies. And yet, do you have the courage to love the normies? Only those who loves the herd can shepherd the herd.
Satu inovasi tata negara LKY adalah perekrutan & kaderisasi politisi.
Yang direkrut bukan modelan mahasiswa HM*I, tapi pakar.
Profesor, bankir, direktur multinasional dibujuk resign dan masuk parpol. Digaji tinggi. Dilatih debat kusir, kampanye, menggerakkan ormas dan media.
Dalam sistem pemerintahan Singapura yang diktator, nasib negara ditentukan politisi penguasa.
"Negara diktator maju kalau diktatornya bagus".
Konsekuensinya jelas. Berarti, para calon diktator dan anak buahnya harus dengan sengaja dibentuk dan dididik oleh *sistem* yang kuat dan ketat.
Tidak ada yang namanya "nyalon" ngasal. Politisi itu harus dibentuk secara sistematis lewat jenjang karir, sebagaimana manajer dan direktur di perusahaan. Tugasnya ya berpolitik: kampanye, ormas, aspirasi, melobi, bikin kebijakan, viral masuk ke got.
Karena betulan bisa berpolitik, orang-orang PAP mampu kampanye dan menang pemilu dengan adil tanpa perlu tirani yang parah-parah amat. Rakyat beneran suka sama mereka dan beneran milih mereka saat pemilu.
"Politisi parpol" menjadi pekerjaan profesional yang tertata, dengan standar dan norma etika yang profesional, seperti dokter atau guru.
Rezim LKY melancarkan perang perburuan bakat yang sadis sebagaimana Google vs Meta vs Amazon melakukan perang perburuan bakat. Bakat yang direkrut diberikan gaji, status sosial, dan kekuasaan yang besar.
Monopoli bakat ini mengakibatkan kaum oposisi di Singapura tereduksi menjadi gerombolan badut bodoh.
Bandingkan dengan Indonesia. Artis jadi politisi. Preman jadi politisi. Oligarki daerah jadi politisi. Bocil baru 3 tahun walkot jadi pejabat sangat tinggi negara.
LKY sendiri adalah politisi lulusan Soshum yang tumbuh dari gerakan buruh, bukan "teknokrat". Ia ahli pidato dan ahli mengompori massa. Kebanyakan kebijakan bagus di Singapura itu adalah bikinan anak buahnya LKY dan merupakan produk kerja tim, bukan hasil pemikiran LKY pribadi.
Karena teknokrat-politisi yang dikader LKY bisa ngomong sendiri dan bisa sat set sendiri seperti Bahlil, mereka mampu survive sendiri di medan persaingan politik yang sadis.
Mereka tidak dilindungi dan dimanjakan kediktatoran militer seperti Mafia Berkeley atau Habibie di zaman Soeharto. Mereka mandiri, menguasai "ilmu lapangan", dan mampu berkuasa.
🚨 KAI Commuter Update 🚨
Rekayasa Pola Operasi:
- KA 6066B (Kampung Bandan-Cikarang) Perjalanan hanya sampai Stasiun Bekasi, kembali sebagai KA 5191B (Bekasi-Kampung Bandan).
- KA 5574 (Kampung Bandan-Bekasi) Perjalanan hanya sampai Stasiun Cakung, kembali sebagai KA 5583B (Cakung-Kampung Bandan).
Desukarnoisasi masih berjalan.
Sukarno tak lagi dikenal dari pemikiran dan analisisnya, tetapi dari kehidupan pribadi, sifat individu, karisma, dan mitosnya.
Sukarno seolah (cuma) proklamator yang terlalu lama berkuasa, bukan pemikir yang mempertaruhkan segalanya demi Indonesia
Hari ini dalam sejarah, 5 Maret 1909, Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat. Sjahrir sekolah di ELS, MULO, dan AMS. Ketika kuliah hukum di Belanda, dia mempelajari sosialisme dan aktif dalam Perhimpunan Indonesia.
Sjahrir tidak menyelesaikan kuliah karena harus kembali ke Hindia Belanda, dan kemudian bersama Hatta memimpin PNI-Pendidikan. Sjahrir dan Hatta kemudian ditangkap, dipenjara, dan diasingken ke Boven Digoel kemudian Banda Neira. Sjahrir bebas pada masa pendudukan Jepang dan memilih bergerak di bawah tanah.
Setelah Indonesia merdeka, Sjahrir menghidupkan PNI-Pendidikan dengan mengubah namanya menjadi Partai Rakyat Sosialis (Paras), yang berfusi dengan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), menjadi Partai Sosialis. Sjahrir kemudian memisahkan diri dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Sjahrir menjabat perdana menteri tiga kali. Setelah itu, dia menjadi penasihat Presiden Sukarno sekaligus Duta Besar Keliling. Partainya, PSI gagal dalam Pemilu 1955, bahkan kemudian dibubarkan karena salah satu tokohnya terlibat PRRI. Hubungan Sjahrir dan Sukarno pun memburuk. Sjahrir sempat dipenjara dan karena menderita stroke dia diizinkan berobat ke Zürich, Swiss sampai meninggal dunia di sana pada 9 April 1966.*
🔗https://t.co/nXCyi3veDf
Lagi2 nenteng buku berujung diajak ngobrol di kereta. Kali ini sm dosen salah satu univ di Cikini pas gw ngebawa buku Bumi Manusia
Obrolan 7 menit yg menarik. Mulai dr ketertarikan generasi muda thdp Pramoedya, sampai religiositas pemimpin2 partai yg sudah dilarang di Indonesia
Jokowi masuk dalam kategori Teknokrat Elektoral, kalau Soekarno (Ideologis Karismatik) & SBY (Normatif Institusional).
Kelebihan Model “Teknokratik Elektoral”
Secara ilmiah, model ini punya beberapa kelebihan :
✔️ stabil di masyarakat majemuk
✔️ minim konflik ideologis
✔️ cocok untuk negara berkembang
✔️ fokus pada state capacity
Model begini bekerja baik ketika:
1. Masyarakat butuh hasil cepat
2.Polarisasi ideologi tinggi
3.Institusi belum matang
Namun, lewat pendekatan filsafat politik, model ini dianggap tidak netral.
Beberapa kritikus memberi catatan:
-minim refleksi normatif (keadilan, etika, makna)
-rawan pragmatisme berlebihan
publik bisa “dipuaskan” tanpa diberdayakan
Dalam teori ini kita kenal dengan istilah :
Teknokratik Elektoral unggul dalam stabilitas, tapi lemah dalam pembentukan kesadaran politik.
Di DPP PSI, ada Klub Diskusi Gajahsore, yaitu kegiatan rutin ngobrolin buku, hasil riset, atau isu aktual.
Pada Rabu lalu, Klub Diskusi Gajahsore membahas buku “Takdir” karya Peter Carey, sejarawan Inggris yang sudah 50 tahun mendedikasikan diri meneliti Pangeran Diponegoro.
Diskusi ini digelar untuk juga mengenang 200 tahun Perang Jawa -- peristiwa penting dalam sejarah kita. Pak Peter punya banyak cerita, data, dan tafsir tentangnya.
Pembahasan terbentang mulai dari motif perlawanan, konflik internal, sampai hal-hal kecil seperti kuda dan senjata yang digunakan. Sungguh diskusi yang penuh "gizi." Terima kasih banyak, Pak Peter.
Kalau gw jadi kolaborator rezim, gw akan:
1. Meniadakan konsep "STEM vs Soshum"
2. Memecah belah konsep "Soshum". Hanya jurusan Soshum "penting" yang langsung dibutuhkan oleh tata kelola negara, tata kelola ekonomi ekspor, dan tata kelola pabrik yang boleh diberi jatah LPDP.
Sebagian besar LPDP juga harus ke Asia Timur. Tujuannya hanya dua:
(1) Membawa sebanyak-banyaknya pabrik, modal, dan kompetensi dari Asia Timur ke Indonesia.
(2) Mengondisikan Indonesia sebaik-baiknya untuk segera menerima pabrik, modal, dan kompetensi itu.
Misal ternyata pabrik terhalang pungli preman dan dinasti politik daerah, maka LPDP diarahkan untuk mencari kepakaran akan bagaimana keduanya dapat dimusnahkan sampai tergenosida habis dengan cepat, meluas, dan teratur. Untuk bidang seperti ini, China memiliki banyak sekali ilmu kepakaran.
Aku terpukau dan merasa diwakili oleh Robertus Robet di Marginilia Tempo ini. Robet mengkritik cancel culture. Dia menyebut cancel culture itu 'budaya politik yang buruk'. Wadah netizen pamer 'superioritas moral' dalam siklus viralitas. Padahal penghakiman ini bisa salah.
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Bun Joi Phiau, menyoroti anggaran pengendalian banjir Pemprov DKI Jakarta sebesar Rp2,8 triliun, yang dinilainya belum berdampak signifikan dalam mencegah banjir parah dan korban jiwa.
#IDNTimesNews
https://t.co/AqqFx4yZOU
Most Malaysian Muslims only see Ataturk as the person who abolished the Ottoman Empire and the caliphate, but this is the extent of that empire if it wasn’t for him. This is why Turks revere him: he saved the country.