@akitoshnnm Ia ingin berada tepat di samping kekasihnya. Saling bersebelahan, sejajar, dan selalu dekat.
Maka, terakhir ia tautkan jemarinya pada milik Akito. Erat. Seolah tak membiarkan apapun memisahkan. Bahkan bila itu takdir ataupun maut. Wah, sama hiperbolisnya ternyata.
@akitoshnnm "Aku ingin belajar banyak dari Akito. Aku ingin mengunjungi lebih banyak tempat bersamamu. Diwaktu yang sama, aku akan berusaha untuk melindungi kita berdua." Seperti biasa.
Bagaimana menurutmu, Akito? Tidakkah tawaran Aoi cukup?
@akitoshnnm
@akitoshnnm Walau begitu, mereka kembali lagi dengan realita. Tidak semua berjalan sesuai keinginan. Tetapi akan selalu ada cara untuk mereka setidaknya merasakan aman yang sama.
"Setelah ini, ayo lebih sering keluar bersama dengan gaya seperti ini." Macak orang biasa maksudnya?
@akitoshnnm Mengenai apapun yang berurusan dengan Aoi Kochou. Meninggalkan hanya Aoi biasa sekarang ini.
"Aku memberontak sangat jauh dan aku tidak marah karena itu." Terakhir, ia terkekeh. Terdengar lebih lepas dari biasanya. Meski emosi Aoi selama ini tak jauh dari kata senyum.
@akitoshnnm Aoi akan mengutuk minuman rasa bluberi itu sepanjang hidupnya. Atau malah ia harusnya berterima kasih? Entahlah. Membingungkan sekali.
"Kamu mau duduk bersebelahan denganku? Aku rasa duduk berhadapan terlalu biasa." Tau darimana?
@akitoshnnm
@akitoshnnm Ia segera mengambil alih dan mempererat genggaman tangan mereka. Ditariknya Akito dengan paksa, tanpa izin pula, untuk menaiki bianglala bersama. Oleng berdua lebih baik daripada oleng sendirian. Eh, alasan yang jelek.
"Sepertinya kita terlalu banyak melamun."