ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
“Maaf, ya? Besok aku telpon, deh? Biar kita bisa samakan jadwal dan pergi makan siang.”
Satu janji, ajukan dengan hati-hati. Bagaimana, @EKFRASA, bisa beri kesempatan aku ganti rugi?
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
Telpon kututup dengan wajah penuh rasa bersalah. Jelaskan bagaimana aku harus pergi dan rencana makan kami agaknya harus ditunda. Sedari pertama bicara, aku tangkap kesan baik dari yang mengangguk magfhum di depan. Lihat bagaimana dia iyakan penuh perhatian.
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
Aku mengangguk sekali dua, dapati ucapan lelaki di depanku ini benar adanya. Tapi, tahu satu teori tidak serta merta buat kita langsung khatam soal prakteknya. Aku jadi menduga-duga, cerita apa yang dia punya. Apa dia pernah ditinggalkan kekasihnya juga?
ᅠ
ᅠ
ᅠ
@LokaPadmi ᅠᅠ
Mungkin dia cuma berlaku sopan dengan ajakan menangis itu, tetapi, aku sungguh terhibur. “Terus, kamu bakal nangis juga, gak?”
Rasa-rasanya rumah tangga tidak menyeramkan jika dilalui bersama seseorang yang tidak menghakimimu ketika menangis.
ᅠᅠ
ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
Betul juga, batinku. Agha supir pesawat, lebih mudah aku ikut bersamanya kalau mau pergi jauh.
“Tempat di mana aku enggak kenal orang? Semacam memulai baru? Tapi kayaknya bakal capek ya, @EKFRASA?”
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
Pikirku aku cukup baik simpan rahasia. Lagipula, dengan siapa sih akan kubeberkan Agha menangis? Aku tidak kenal sepupu-sepupunya itu.
Pertanyaan darinya mengalihkan bayangan soal kepala-kepala kecil yang kuanggap sepupunya. Diganti dengan tempat-tempat jauh.
ᅠ
ᅠ
ᅠ