Warmup paling magis sepanjang sejarah sepakbola
Olympiastadion Munich, 19 April 1989. Dua tim warming up di masing-masing sisi lapangan. Semifinal UEFA Cup Napoli vs Bayern
Satu orang udah curi perhatian duluan di tengah lapangan persis ketika lagu Live is Life diputar
🧵
FAKER LE RESPONDIÓ A NEON 🥹
A principio de año, @neonnnval contó que @faker era su inspiración en los esports, y hace 2 días, faker le respondió y le dio un consejo:
"Creo que siempre deberías pensar constantemente en tu propio rendimiento y reflexionar muy profundamente sobre cómo podés mejorar. También es importante buscar nuevas formas de jugar, explorar distintas posibilidades dentro de tu estilo y experimentar de manera continua. Para poder seguir desarrollándote, creo que eso es lo más importante".
Red Bull Junior Team sudah dianggap jadi salah satu project penghasil pembalap hebat, yang juga sukses menelurkan juara dunia di Formula 1.
Tapi pasti ada yang nanya, siapa sih yang jadi driver pertamanya? Perkenalkan, Patrick Friesacher.
Awalnya, Patrick kecil lebih tertarik ke Motocross. Semua berubah ketika ia menonton balapan di sirkuit Österreichring (sekarang bernama Red Bull Ring). Momen itu membuatnya jatuh hati dengan roda empat, hingga akhirnya memutuskan turun di ajang gokart.
Pada tahun 1994, ketika nama Red Bull baru mulai naik daun sebagai brand minuman energi, ia direkrut sebagai proyek pertama talenta muda mereka, jauh sebelum akademi Red Bull Junior Team resmi dibentuk pada 2001.
Perjalanannya sebagai "pionir" gak gampang. Pada 1997, saat masih ikut kompetisi karting, ia mengalami crash parah di Schwarzlhalle, Graz.
Kedua kakinya alami patah tulang di tibia dan fibula, dan tumitnya juga retak. Hal tersebut bikin dia harus di rumah sakit selama 6 minggu, 7 minggu menggunakan kursi roda, dan juga belajar berjalan lagi dari awal.
Namun Patrick muda tidak menyerah, ia kembali di 1998 dan langsung moncer di ajang karting dan Formula 3, sebelum akhirnya naik ke Formula 3000 saat Red Bull Junior Team telah resmi dibentuk.
Namun di akhir 2004, perintah dari Red Bull yang memintanya membalap di Formula Nippon membuatnya dikeluarkan, karena ia menolaknya demi mengejar impiannya di Formula 1.
Akhirnya ia berhasil menembus Formula 1 pada musim 2005 bersama Minardi.
Walaupun sukses meraih poin rasa "gratisan" di Indianapolis, namun karirnya di F1 harus berakhir lebih dini setelah 11 balapan saja akibat masalah sponsor.
Setelah itu ia melanjutkan karir di A1 GP dan American Le Mans Series. Namun di 2008 crash hebat saat sesi tes A1 GP di Magny-Cours akibat masalah suspensi mobil, yang menjadi titik akhir karirnya sebagai pembalap aktif.
Walaupun karirnya sebagai pembalap tidak begitu panjang, namun si anak pertama itu akhirnya kembali lagi ke Red Bull, untuk menjalani peran lain sebagai exhibition driver, demo driver, dan instruktur di Red Bull Ring.
Kalau kalian melihat konten Red Bull dengan mobil F1 di acara demo run, kegiatan marketing, hingga kegiatan di Red Bull Ring, biasanya Patrick Friesacher jadi orang yang berada di balik kemudi mobilnya.
Karirnya memang tidak secemerlang Sebastian Vettel dan Max Verstappen dengan lemari trofi yang penuh. Tapi Patrick Friesacher jadi bagian sejarah Red Bull, sebagai "anak pertama" mereka saat merintis pondasi project di dunia motorsport.