ㅤㅤㅤㅤ“Hah? Oh. Memangnya mau minum apa?” tanyaku kemudian, sementara aku menjadi satu langkah lebih depan daripadamu, @SuarLaknat, untuk masuk ke dalam lini antrean kudapan serta tiket nonton. “Mbak, boleh lihat jadwal yang nomor tiga?”
ㅤㅤㅤㅤYa, tidak kusebut judulnya.
Agar-agar tidak mumet begini. Sampai bersin juga—“𝘩𝘢𝘵-𝘤𝘩𝘪!”—dengan badan yang serta-merta bergidik. Beruntung perkataanmu sudah lebih dahulu diproses dalam nalar, sehingga diriku butuh jeda untuk siap membalas, aku tidak membuahi balasan yang salah sambung.
Sempat tadi merogoh salah satu loker untuk keluarkan sepasang 𝘩𝘰𝘰𝘥𝘪𝘦 dan celana olahraga—Itu, disuguhkan. “Maaf, ya, @Walaraksa, tadi agak berisik sama mesin. Sesi kami biasanya sejam paling cepat, bisa juga enam.”
“Terus ... Mau mandi sekarang?”
dituntunlah Jagat ke dalam. Dilepaslah rangkulan tadi sementara dia melerai sungkan dengan kekehan ringan. ��Ini bukan punya aku, lho, Cil,” jelas lelaki itu sembari menghadap sang lawan bicara.
️️
Tunduklah kepalanya, biarkan telapak tangan itu bertengger di sana selagi hati berbisik ribut. Betul. Jagat sudah kepayahan sendiri.
Begitu sampai di lantai dua, ia bisa bernafas lega. Apa mau dikata apabila teman-teman Gardasuma melihat ekspresi Jagat saat ini?
️️
@MAHL1GAI ️️
“Ya 'kan⸻”
Belum apa-apa, Jagat sudah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Semburat merah pun rasa hangat sudah menjalar dengan sempurna di sekitar wajah; tengsin abis!
Antara ia memang sudah seharusnya pasrah, atau Gardasuma bukan lawan yang setara.
️️
͏
͏
͏
͏ Asum-asum, sepermainanku! terimakasih banyak-banyak sekali-duakali sudah ucapkan. Tiap malam harusnya berdoa buat kamu juga— agar harimu bisa cerah! ku doakan balik; buat kamu makin tinggi, kak Asum.
͏
͏
͏
͏
ㅤㅤㅤㅤ“Abang @__silentmusings,” panggil Gardasuma dari ujung panggilan suara. Meski bertetangga, lelaki yang lebih muda kalah dengan keengganan untuk sia-sia semisal yang dituju menolak ajakan. “Abang udah makan siang?”
Kalau mau mampir, sampaikan juga sedikit salamku. Titip tiga kecup ulang tahun untuk anak lanangnya yang lagi asyik disibukkan dunia. Biar pulangnya kamu kembali wangi bayi setelah dirayakan, bukan bau dunia. Ya, ya, ya. Lalu, apa lagi? Gak tahu, kamu mau apa?
ㅤㅤㅤㅤSelamat hari jadi. Selamat hari hidungmu mencium bau dunia. Selamat. Aku tidak tahu Tuhan akan dengar panjatanku yang mana, (sebab sudah terlalu banyak kuucap tiap malam,) tapi semoga Dia dengar panjatanmu.
Kapan sekiranya kau bisa main-main lagi? Kupikir masih banyak nanti, nanti, nanti yang begini-begitu yang janggal belum tercontengi. Sekiranya kau sudah cukup lesatan sana-sininya di hari jadimu itu, jangan lupa rehat yang menanti. Tetapi, ingat, Bude mungkin mau kamu pulang.
ㅤㅤㅤㅤOmong-omong, suara lelaki itu seperti senggolan; menyimpan pokok pikir yang sulit ditebak oleh ketidaktahuan. Seberapa banyak lagi daripadamu yang bisa dijual sebelum kamu menaruh harga untuk dirimu sendiri dan menjaganya tanpa harus dipatok rendah begini?
Seberapa lama lagi kau akan betahan? Ayo, kemari, Sayang. Kita lanjutkan selebrasi ini. Kau boleh duduk di kursi sudutan sana dan berterima kasihlah atas kesempatan yang kuberi.