Film terbaru arahan Hanung Bramantyo, CHILDREN OF HEAVEN, adalah adaptasi dengan kearifan lokal dari film klasik berjudul sama (1997) arahan sutradara asal Iran, Majid Majidi. Kearifan lokal karena tidak hanya ‘Children of Heaven’ terbaru ini dihadirkan dengan latar lokasi dan budaya lokal, Bramantyo juga merasa perlu untuk menambahkan sejumlah elemen “lokal” yang dianggap lebih mudah diterima penonton.
Karenanya, jika ‘Children of Heaven’ garapan Majidi berkisah tentang dua orang anak dengan latar kehidupan ekonomi terbatas, maka ‘Children of Heaven’ garapan Bramantyo berkisah tentang dua orang anak dengan latar kehidupan miskin. Elemen ini dipastikan tampil menonjol dengan menghadirkan adegan-adegan seperti karakter yang kekurangan uang ketika akan berbelanja (yang berakibat kemudian mendapatkan hardikan dari si penjual) atau karakter-karakter yang hampir diusir dari rumah mereka karena tidak mampu membayar hutang.
Kemiskinan bukan hanya menjadi bagian kehidupan dari para karakter, namun menjadi senjata untuk mereguk airmata penonton.
Karenanya, untuk memastikan bahwa penonton tahu karakter-karakter yang mereka tonton berasal dari kehidupan miskin yang keras, para pemeran ‘Children of Heaven’ garapan Bramantyo dihadirkan dengan tata rias wajah yang “dicemongin.” Suatu kewajiban, sepertinya, bagi banyak pembuat film Indonesia ketika mereka ingin menggambarkan kehidupan karakter yang datang dari kelas bawah.
Karenanya, ‘Children of Heaven’ garapan Bramantyo dilengkapi juga dengan penampilan para komika yang, tentu saja, menghadirkan jeda tawa. Beberapa efektif, namun kebanyakan justru mengganggu kedalaman emosional cerita yang sedang dibangun.
Karenanya, ‘Children of Heaven’ garapan Bramantyo dilengkapi dengan pilihan akhir cerita “happy ending” yang “definitif,” tidak “mengawang” seperti tuturan Majidi.
Padahal, selain elemen-elemen tersebut, struktur cerita ‘Children of Heaven’ garapan Bramantyo nyaris tidak melakukan perubahan apapun, baik dari gambaran karakter maupun susunan dialog. Kenapa tidak juga mempertahankan cara penyampaiannya? Ya oke, alasan ekonomis dan tuntutan pasar la da da da, tapi kenapa tidak sekalian percaya bahwa kesederhanaan dan ketulusan versi aslinya juga bisa menyentuh penonton Indonesia?
Nggak banyak film Indonesia yg berhasil mendaur ulang film asing & nggak banyak pula yg mau soroti kehidupan warga kelas bawah tanpa jualan kesedihan. Children of Heaven yg merupakan remake film Iran berjudul sama karya Majid Majidi termasuk yg sedikit itu. Sebuah tontonan drama nan menyentuh hati & jenaka yg membawa kita kembali ke Indonesia era Orde Baru saat masyarakat kepayahan menyambung hidup lantaran bahan pokok melambung tinggi sementara lapangan kerja terbatas.
Dengan setting tersebut, kita dikenalin ke sepasang kakak beradik dari keluarga miskin yg gara-gara satu kecerobohan harus mengenakan sepatu yg sama buat ke sekolah. Tak tega meminta uang ke sang ayah apalagi keluarga mereka masih terlilit hutang & sang ibu pun sakit-sakitan sehingga tak bisa kerja, si kakak pun berinisiatif mengikuti lomba lari dengan misi meraih juara tiga yg hadiahnya sepatu yg akan diberikannya pada si adik.
Konflik film ini memang terapkan formula klasik "sudah jatuh tertimpa tangga, eh masih nyungsep ke got pula". Pun begitu, alih-alih berlarut menggeber kemalangan karakter buat mengais iba, Hanung Bramantyo lebih fokus pada kebaikan, kebahagiaan serta betapa resiliennya mereka yg buatku lebih ampuh memancing air mata.
Seperti momen kakak beradik main gelembung di pinggir sungai yg nunjukkin mereka memilih tetap bersukacita sekalipun kondisi nelangsa, kala kakak beradik ini menolak merebut lagi sepatu mereka yg diambil seorang bocah usai tahu kondisi keluarganya, atau ketika si kakak berjuang mati-matian di lomba lari yg buktiin kasih sayang juga rasa tanggung jawabnya ke si adik.
Sisipan humornya memang sesekali efektif ngasih kesegaran. Cuma tak jarang pula, ada yg "salah tempat" sehingga cukup ngeganggu beberapa momen yg mestinya bisa ngasih tonjokkan emosi yg kuat. Syukurlah film ini diberkahi akting ciamik jajaran pelakon khususnya duo pemain cilik Jared Ali & Humaira Jahra yg menjalin chemistry hangat sebagai kakak beradik yg kelihatan saling sayang saling peduli. Baik saat sendiri maupun berdua, kemunculan mereka selalu ngasih nyawa apalagi di menit-menit akhir yg bikin senyum, bikin mewek sekaligus bikin nyaman kayak dipeluk.
Overall, Children of Heaven versi remake ala Hanung Bramantyo ini bisa dibilang berhasil mengadaptasi cerita, pesan, isi dan emosi yang disampaikan pesan film originalnya. Gak terlalu mengglorifikasi kemiskinan, terasa sangat Indonesia, dan beneran emosional.
Rekomendid! 👍
Hanung Bramantyo bisa dibilang terlalu nekat buat nge-remake Children of Heaven Majid Majidi—salah satu film klasik Iran terbaik yang pernah dibuat—Nanti salah-salah, ia malah dihujat karena dianggap menodai sumber aslinya yang dihormati banyak penontonnya. Ya, untungnya saja, itu gak kejadian. Children of Heaven miliknya bisa dibilang adalah sebuah remake yang aman, setia dan cukup respek sama pendahulunya.
Masih dengan kesederhanaan premis yang sama, Hanung ngajak kita ke Semarang akhir era Orde Baru, bertemu dua bersaudara miskin: Ali dan Zahra yang diam-diam harus bergiliran memakai sepatu buat ke sekolah setelah sepatu punya Zahra hilang.
Behind the scene snaps from the production days of ‘CHILDREN OF HEAVEN’ photographed by Firman Ochim.
Hanung Bramantyo’s latest drama feature is now playing in theaters.
That’s why Bene cocok di banyak jenis film. Dia punya energi yang fleksibel, bisa masuk ke dunia cerita tanpa bikin suasananya berubah.
Di Children of Heaven, keberadaannya justru bikin cerita terasa makin natural
Sebuah film keluarga yang penting untuk ngasih tau ke anak-anak kalau, perjuangan itu butuh dilakukan untuk apapun yang ingin dicapai.
Buat kamu yang sudah atau akan berkeluarga, CHILDREN OF HEAVEN ini bakalan bikin kamu haru sekaligus bangga.
So, inilah reviewnya buat kamu.