Bagaimanapun kondisimu usahakan kontinu mengajar.
Karena Jika satu murid tidak masuk kelas maka hanya satu murid tersebut yang tidak mendapatkan ilmu,
akan tetapi jika satu guru tidak masuk kelas maka ilmu berhenti mengalir kepada puluhan murid
Memang sih... tak semua usaha berujung pada keberhasilan,
tetapi ingatlah... keraguan sering mengakhiri perjalanan.
"Self-belief does not necessarily ensure success, but self-disbelief assuredly spawns failure."
— Albert Bandura,
" aku tidak dapat mengajarkan apapun kepada siapapun, aku hanya dapat membuat mereka berpikir "
~Socrates
Sebagai pendidik, kita tidak hanya mengisi kepala mereka dengan pengetahuan,
Melainkan menuntun akal mereka menemukan pemahaman.
lalu
pada akhirnya aku sadar, bahwa aku tidak pernah diberi waktu untuk membela diriku sendiri, tapi semua menjadi salahku, dan aku dituntut harus diam mengerti, memahami, serta menerima semuanya
Aku belajar tidak semua kejujuran diterima dengan pemahaman.
Ada yang justru berubah menjadi pertengkaran.
Akhirnya aku memilih diam, bukan kareną tidak punya rasa, tapi karena lelah harus menjelaskan pada seseorang yang hanya ingin membela diri
Dipendam... sesak. Diungkapkan... jadi perdebatan. Seolah perasaanku tidak pernah punya tempat untuk pulang. Saat aku diam hati terasa penuh, sampai hampir pecah. Tapi saat aku bicara kata - kataku justru dipelintir menjadi salah.
Padahal, yang kita butuhkan bukan versi diri yang sempurna. Melainkan pengalaman diterima apa adanya, tanpa harus menutupi celah atau berpura-pura kuat.
Banyak orang tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya penuh kekurangan-terlalu sensitif, terlalu berbeda, atau dianggap merepotkan.
Lama-kelamaan, pengalaman itu berubah menjadi keyakinan: "Aku ini masalah." atau "Aku tidak cukup baik"
Niaga dan kongsi banyak yang berhenti
Jam kerja dipangkas dikurangi
Tidur sepanjang hari diberi arti
Katanya, demi Ramadan bulan suci
Raga dimanja-manja
Lemas diduga khusuk puasa
Berkeringat diwanti-wanti
Takut puasa tak kuat sehari