Ternyata bukan setan, bukan juga penyusup. Itu cuma Tono, sapi jantan besar punya tetangga sebelah kandang. Gue pun langsung menuntunnya keluar perlahan, sambil mikir dalem hati, “Imajinasi gue terlalu dramatis dah ngira langkah tadi setan”.
Gue langsung refleks memutar tubuh dengan sisa keberanian yang ada, cahaya senter ponsel menangkap sepasang mata besar yang bulat dan planga plongo.
“Yaelah Tono... Tono!! Hampir aja bikin gue pingsan.”
Kentut mautnya meledak lagi tepat di depan muka gue, sampe rumput di sekitar terbang dan orang-orang pasar nengok kaget. Gue terbatuk-batuk sambil tertawa pedih. Ah, meski udah pindah tangan, akhlak Yanto tetap tidak berubah. Saat itu juga langsung gue tebus si Yanto.
Di tengah hiruk pikuk teriakan abang-abang, mataku tertuju pada seekor sapi yang nangkring lesu di pojok. “Itu Yanto!” kata gue bersemangat.
Dia menoleh, matanya yang besar seketika berbinar. Begitu gue mendekat, bukannya nyengir dia malah ngeluarin suara,
BROOOT!