@finnaRainy@BudiBukanIntel 🤣🤣🤣🤣 nyokap lu sama kek nyokap gue suka pulang bawa MBG yang ga abis, bedanya gue tetep kritik tuh MBG soalnya beneran kaga enak tapi krn miskin ya tetep kepaksa gua makan 🤣
Saat ini, Koalisi Selamatkan Pendidikan Indonesia sedang mengajukan uji materi terhadap UU APBN 2026 yang memasukkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dalam komponen anggaran pendidikan.
Kami mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi melalui Amicus Curiae
Peran Nusron Wahid di "Pesta Babi".
Tanpa dialog dan konsultasi dengan pemilik ulayat. Menganggap Papua tanah kosong dan mengira semua tanah milik negara. Salah satu ciri kolonial.
https://t.co/o8sZo5kGKq
Justru balasan pertanyaan tentang "tapi pemerintah nya korup" yang anda terima itulah yang dinamakan kemarahan "organik", gak perlu soros turun tangan masyarakat sudah muak!
The Color Revolution Playbook Doesn’t Spare “Allies” – Indonesia’s Lesson in Sovereign Realism
Look, I get the flood of questions in my replies every time I cover Indonesia. “But the government is corrupt.” “But Prabowo is pro-US anyway.” “But they’re incompetent – why not let the protests run their course?”
These points sound reasonable on the surface. Indonesia, like every country including the US, has genuine problems: rising living costs, inequality, governance frustrations.
No one denies that.
But let’s cut through the spin and return to basics.
The United States and its network of foundations, NGOs, and “civil society” partners target any country that refuses to become a full vassal. Allies included. Close allies get hit especially hard the moment they show independence.
Instigating chaos is rarely just about immediate regime change — it’s leverage, pressure, and containment. Amplify real grievances through funded networks, train youth in “nonviolent resistance,” flood the information space with coordinated media and lawfare, and the target burns energy internally instead of pursuing pragmatic multipolar ties.
If full capture works (see post-2014 Ukraine), Washington gets a pliable proxy. If not, the instability still weakens and contains the country.
https://t.co/R1MAmo6Z2L
Indonesia is textbook. Strategic sea lanes, massive population, resources, BRICS engagement, balanced relations with Russia and China, and a clear non-aligned stance in the emerging multipolar world.
That alone is enough.
Even under a “pro-US” government, Jakarta won’t be a blind follower. Prabowo’s election was legitimate.
Yet leaked documents show Soros’ Open Society Foundations routing millions via Jakarta’s Kurawal Foundation into youth networks, “independent” media, the Dirty Vote documentary, police reform pushes, and “structural change” training aimed at blocking the elected government’s continuation. One Piece pirate flags as the unifying symbol?
Straight from the handbook.
Real economic pain existed — but it was systematically amplified and directed. Gen Z mobilized with impressive coordination. Classic playbook.
https://t.co/GNBb8qmQG0
Brian Berletic has tracked this exact network for years across the region — NED, USAID, Soros-linked flows behind the unrest, while Western outlets scream “disinfo” at anyone connecting the dots.
https://t.co/x7O8VyPL2k
To the “but it’s corrupt” crowd:
Every government has corruption. Nepal’s KP Oli faced the same accusations — yet he represented the best available defense of sovereignty against this identical playbook.
The US doesn’t actually care about clean governance.
It cares about control. Independent leaders (corrupt or not) get targeted. Compliant ones get installed or protected.
https://t.co/JamXWYipDf
“Pro-US”? Pragmatic relations are not submission. Indonesia balances ties — that’s the point of non-alignment. Its BRICS path and refusal to become an anti-China frontline state threaten the old unipolar order.
US policy and actions across Asia show the standard toolkit: color revolution when convenient, plus sanctions, proxies, and info ops.
Sovereign nations have every right to investigate and restrict foreign foundations engineering “dignified democracy” that conveniently serves Washington’s interests. Indonesia is far too important to let slip into full vassalage.
Real reform comes from internal will, not imported chaos that burns institutions and scares investment.
This isn’t conspiracy.
It’s pattern recognition from watching these operations unfold in real time — Hong Kong 2019, Bangladesh, Nepal, Mexico, and beyond.
Stay sovereign, Indonesia.
The multipolar world rewards those who navigate independently.
@angeloinchina Kurang setia apa Prabowo sama Amerika, pesawat tempur Amerika bebas lewat di udara Indonesia, rencana bandara Kertajati akan jadi pangkalan Hercules Amerika, nurut ikut BOP, dan elu nyuruh kita menerima dan berdamai dengan pemerintah korup? Justru buat gua elu itu mencurigakan!
Terbongkar! Intimidasi terhadap mama Yasinta dilakukan oleh TNI dan PT Jhonlin Group yang dimiliki oleh Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
___
Tanah Air, Kemerdekaan, dan Perdamaian!
#laolao_papua
Keluarga mama Yasinta Moiwend memberikan pernyataan pada 30 Mei 2026. Mereka menjelaskan tentang kronologis mama Yasinta putus komunikasi dengan keluarga sejak 24 Mei 2026.
Keluarga menceritakan dugaan keterlibatan aparat (TNI), perusahaan, juga orang pemerintah.
Video dari @News_jubi
#mamayasinta #merauke #TNI #PapuaSelatan
Kalau orang terlalu banyak bersyukur, lama2 dia jadi memaklumkan penderitaan, memaklumkan penindasan. Orang lain yang melawan dibilangnya: Harusnya terima aja, bersyukur, masih mending ada kerja, masih mending hidup
Saya jumpa dgn mama Yasinta & warga Merauke lainnya di kantor PP Muhammadiyah JKT, sebelum kami diskusi & menyampaikan sikap tokoh lintas agama menolak PSN Merauke. Waktu itu, suara mama Yasinta tegas menolak PSN. So, kalo skrg ada pernyataan sebaliknya. Bisa jd sdg diintimidasi
Indonesia punya ideologi fasis.
Ideologi itu adalah Fuhrerprinzip dengan Ciri Khas Jawa.
Bentuknya adalah totaliterisme militeristik. Tidak ada diskusi. Asal Bapak Senang.
"Izin."
"Siap laksanakan."
Abaikan segala teori fasisme luar negeri. Ideologi fasis *kita* adalah ini.
Kalau disuruh lompat ke jurang, lompat. Kalau disuruh gila mmbuang uang ratusan triliun buat MBG, buang. Perintah atasan adalah perintah Allah.
Budaya ini berasal dari militer. Budaya ini cocok jika diterapkan di operasi tempur militer. Ketika militer malah memerintah, budaya ini malah diterapkan di seluruh masyarakat. Padahal, itu sangat tidak cocok dan buruk, sebagaimana budaya debat demokratis sangat tidak cocok diterapkan untuk operasi tempur militer.
Keduanya harusnya dipisah.
Ospek adalah cargo cult yang secara primitif dan liar mencoba meniru-niru kebudayaan fasis totaliter ini.
Ada partai politik yang menganut ideologi fasis ini. Mereka sangat marah ketika UUD 1945 diamendemen untuk menyetop ideologi militeristik itu dan menggantinya dengan Negara Hukum yang pasti, rasional, dan ilmiah.
Demi kabur dari sidang kasus Korupsi 7 Yayasan, Soeharto berpura-pura menjadi orang gila ODGJ.
Pada September 2000, tim dokter merazia Soeharto yang kabur dari sidang karena mengaku "sakit".
Ternyata Soeharto sehat-sehat saja secara fisik. Tapi ia bertingkah seperti orgil yang otaknya sudah korslet dan rusak karena umur. Ketika diajak bicara oleh dokter, Soeharto tidak jelas, ia seperti orang gila sakit jiwa yang akalnya sudah putus.
Akhirnya Soeharto dinyatakan tidak layak disidang secara medis karena gila. Ia pun dibebaskan dan dilepas begitu saja oleh pengadilan yang sebelumnya diteror oleh rentetan terorisme bom yang didalangi Tommy Soeharto.
Tentu saja, justifikasi resmi yang dipakai majelis hakim adalah "Soeharto tidak mungkin dibawa ke sidang karena gila", bukan "kami takut mati dibom oleh Tommy".
Selain lepas dari segala dakwaan, Soeharto dan keluarganya juga tetap mengantongi uang Rp 6 triliun yang dicuri dalam Korupsi 7 Yayasan itu. Hari ini triliunan uang cash curian milik negara itu masih ditimbun di pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi keluarga Cendana.
Tahukah kalian,
Lucian Despoiu, pencipta GEMOY, bekerja di bawah firma konsultan internasional Birnbaum-Despoiu, yang dia dirikan bersama George Birnbaum.
Siapa Birnbaum?
Dia adalah mantan kepala staf Benjamin Netanyahu
Dengan kata lain, GEMOY adalah produk 🇮🇱
#faktawkwk
Bebaskan Laras, Perempuan Muda Korban Kriminalisasi Negara atas Kebebasan Berpendapat! - Tandatangani Petisi! https://t.co/RmNBrafx0X lewat @ChangeOrg_ID
Seems relevant: I once wrote about how small businesses are bad for workers (tend to be paid less, hired informally, etc). The dominance of small businesses & their dependence on cheap informal labour for their operations is merely a symptom of broader economic underdevelopment.
Bebaskan FZ, Pelajar SMA
Penulis Omong-Omong Media
Omong-Omong Media menolak dan mengutuk keras penangkapan sewenang-wenang yang dilakukan Polres Kediri Kota terhadap FZ, pelajar madrasah sekaligus penulis Omong-Omong.