Manipulator Itu Memutarbalikkan Fakta Agar Pelaku Terlihat Sebagai Korban Dan Semakin Efektif Ketika Dibungkus Dengan Citra Kesalehan Dan Dengan Bahasa Agama.
@regar_op0sisi Jika Politik Hanya Dapat Berjalan Karena Modal, Maka Demokrasi Berubah Menjadi Kompetisi Antar Pemilik Uang. Akibatnya Biaya Politik Dibebankan Kembali Kepada Rakyat Melalui Penguasaan Proyek, Konsesi Sumber Daya Alam, Kebijakan Yang Berpihak Kepada Pemodal.
@regar_op0sisi Perlawanan Politik Yang Sejati Membuat Aliansi Dan Lawan Secara Politik Juga, Jika Hanya Politik Bukan Tentang Kekuatan Modal, Jika Politik Masih Tergantung Modal Maka Perkuat Amandemen UU Otonomi Daerah, Daerah Bukan Hanya Lumbung Penghasil Pusat.
Kau Tipu Aku Dan Berharap Tuhan Mengampunimu? Lalu Kau Sembunyi Di Balik Cadar, Seolah Itu Bisa Memoles Wajahmu Dan Menipu Orang Lain Bahwa Kau Bukan Pelaku Melainkan Korban.
Apakah Ada Sandiwara Yang Lebih Logis?
Tuhan Tidak Tertipu Oleh Kata - Kata Suci Yang Dipakai Untuk Menyakiti. Yang Dinilai Adalah Apakah Seseorang Jujur, Adil, Tidak Zalim Dan Tidak Memanipulasi Kebenaran Demi Membenarkan Keinginan Sendiri.
Jangan Meminta Kesetiaan Kalau Akhirnya Pergi Tanpa Alasan, Lalu Datang Sebagai Korban, Seolah - Olah Kamu Paling Terluka.
Lebih Lucunya Lagi, Setelah Satu Pria Saja Belum Cukup, Masih Mau Mengajarkan Orang Lain Soal Hati.
Harga Diri Tidak Pernah Bernegosiasi.
Seringkali Pria Diajarkan Untuk Tidak Melihat Masa Lalu. Tapi Jika Standar Tetap Sama, Mengapa Seorang Pria Harus Rela Menerima Sampah Yang Ditinggalkan Pria Lain?
Seorang Pria Yang Kehilangan Harga Diri Akan Berkata, Tenang "Aku Bisa Memperbaikinya".
Seorang Pria Yang Menghargai Dirinya Sendiri Justru Akan Berkata, "Aku Tidak Akan Membayar Harga Yang Tak Pernah Dibayar Oleh Pria - Pria Sebelumnya".
Sedih ya, Saat rakyat turun ke jalan, layar TV nasional terasa biasa saja. Tapi media Korea Selatan justru ikut menyoroti apa yang terjadi di Indonesia, bahkan membahas program MBG.
Bukan soal setuju atau tidak. Yang dipertanyakan adalah, kenapa suara dari luar terdengar lebih lantang daripada suara dari dalam negeri?
Bagi Yang Tak Pernah Kehilangan,
Semua Luka Hanya Angka.
Bagi Yang Tak Pernah Ditinggalkan,
Semua Janji Hanya Kata.
Janji Di Atas Ranjang, Kukira Suci Ternyata Rayu Belaka. Tubuh Diberikan, Hati Diserahkan,
Esoknya Pergi Tanpa Pesan.
Seburuk Itukah Hargamu?
Tak Tahu Derita Orang Lain,
Jangan Suruh Berbaik Hati,
Seolah Luka Mereka Mudah.
Yang Tak Pernah Menginjak Duri,
Jangan Suruh Orang Yang Tertusuk Untuk Tersenyum.
Engkau Hancurkan Hidupku, Idaman Pergi Karena Namamu, Teman Menjauh Karena Ceritamu, Siapa Yang Sebenarnya Sakit? Aku Yang Dituduh Atau Kau Yang Menabur Dusta?
Aku Tak Akan Diam Jadi Kambing Hitam Dalam Sandiwaramu, Biarkan Dunia Dan Nurani Yang Menilai.
2012 Kita Benar -Benar Selesai.
Lalu Kenapa Kau Kejar Aku Lagi Dari Jakarta Sampai Jambi, Seolah Kau Tak Pernah Pergi
Aku Tidak Akan Diam Menonton Namaku Dicabik Untuk Menutupi Kebusukanmu. Ingatlah Ada Luka Tak Tergantikan Dan Ada Nurani Yang Tak Bisa Kau Basuh Dengan Sandiwara
Ini Bukan Soal Hilang Atau Lupa Ini Soal Nurani Yang Kau Jual Sepotong Demi Sepotong.
Kau Balut Dirimu Putih, Kusamkan Aku Dengan Kata - Kata Jahat, Kau Panggil Dirimu Suci, Aku Digambarkan Berdosa.
Mengapa Kau Tega Menjadikan Aku Penjahat Demi Menjadikanmu Suci?
Ketika Kau Melihat Cermin Pengkhianatanmu, Kau Memilih Menulis Cerita Yang Lain Tentangku?
Kau Simpulkan Narasi Kau Putih Dan Suci Aku Menjadi Bayang Hitam, Pendosa.
Kau Boleh Memutihkan Dirimu Dengan Kisah Yang Kau Reka, Namun Nurani Tak Bisa Kau Tutupi Selamanya.
Ketika Cinta, Harapan, Dan Penghianatan Jadi Satu, Empat Tahun, Keperawanan, Kehormatanmu Kau Berikan, Kau Bilang Itu Janji, Kau Bilang Itu Ikrar Janji Setia.
Aku Tahu Siapa Yang Tega Merobek Hidup Orang Demi Lembaran Uang.
Aku Akan Sebut Kau Pengkhianat Di Depan Cermin Sendiri