Semua harus dibuka.
Kita berterima kasih kepada pembuat film โpesta babiโ karena dari film itulah kita tahun siapa saja oligarki yang mendapatkan tanah di Papua.
Yang penting dibuka juga adalah pejabat dan mantan pejabat yg memberikan tanah tersebut ke mereka.
Pesta Babi: Siapa yang Diuntungkan?
Dalam setiap negara berkembang, pembangunan sering diposisikan sebagai simbol kemajuan. Jalan dibuka, proyek diperluas, dan investasi didorong atas nama pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan rakyat. Negara kemudian hadir membawa narasi ketahanan pangan, kemandirian energi, dan pemerataan pembangunan sebagai bagian dari cita-cita besar menuju masa depan yang lebih baik. Namun pembangunan selalu menjadi pertanyaan moral ketika kemajuan bagi sebagian pihak mulai dibayar dengan hilangnya ruang hidup pihak lain.
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kemudian menghadirkan potret kegelisahan itu dari Papua Selatan. Hutan-hutan masyarakat adat dibuka untuk proyek food estate, perkebunan tebu, dan sawit yang masuk dalam skema Proyek Strategis Nasional. Di tengah narasi besar pembangunan negara, masyarakat adat seperti Marind, Yei, dan Awyu justru menghadapi ancaman kehilangan tanah, hutan, dan tradisi yang selama ini menjadi bagian dari identitas hidup mereka. Pesta babi yang dahulu menjadi simbol kehidupan komunal perlahan berubah menjadi simbol kehilangan.
Di titik inilah pertanyaan mulai muncul: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari proyek-proyek besar tersebut. Sebab negara memang berbicara tentang ketahanan pangan dan kepentingan nasional, tetapi publik juga melihat pola yang berulang dalam berbagai proyek pembukaan lahan skala besar di Indonesia. Hutan dibuka atas nama pangan, tetapi produksi pangan sering gagal berkembang secara optimal, sementara kayu keluar, lahan berubah fungsi, dan kepentingan bisnis baru perlahan tumbuh di atas ruang hidup yang telah hilang.
Yang dipersoalkan masyarakat sebenarnya bukan pembangunan itu sendiri. Tidak ada yang menolak kesejahteraan atau kemajuan. Tetapi publik mulai mempertanyakan mengapa pendekatan pembangunan selalu terasa terlalu dekat dengan eksploitasi lahan berskala masif, sementara alternatif lain yang lebih manusiawi dan berkelanjutan justru kurang mendapat perhatian serius. Padahal teknologi pertanian, intensifikasi lahan existing, agroforestry, dan diversifikasi pangan telah lama menjadi pilihan yang jauh lebih rasional dibanding membuka hutan primer dan menggusur masyarakat adat dari ruang hidupnya.
Persoalan ini menjadi semakin sensitif karena Papua bukan sekadar soal tanah dan komoditas ekonomi. Bagi masyarakat adat, hutan adalah sumber pangan, budaya, identitas, bahkan hubungan spiritual dengan leluhur mereka. Ketika negara memandang hutan semata sebagai objek produksi, sementara masyarakat adat melihatnya sebagai bagian dari kehidupan, maka konflik yang muncul tidak lagi hanya bersifat administratif. Ia berubah menjadi benturan cara pandang tentang makna kemajuan dan kemanusiaan itu sendiri.
Karena itu, kegelisahan publik terhadap proyek-proyek seperti ini sebenarnya dapat dipahami. Masyarakat mulai khawatir pembangunan nasional perlahan kehilangan sensitivitas moral terhadap kelompok yang paling lemah menghadapi kekuasaan. Di titik tertentu, proyek strategis dapat terlihat lebih sibuk mengejar angka investasi dan ekspansi lahan dibanding memastikan keadilan ekologis serta keberlangsungan hidup masyarakat yang telah menjaga wilayah tersebut jauh sebelum negara hadir dengan berbagai rencana besarnya.
Pada akhirnya, pembangunan tidak hanya diuji dari seberapa luas lahan yang berhasil dibuka atau seberapa besar investasi yang masuk. Pembangunan diuji dari kemampuan negara memastikan bahwa kemajuan tidak dibangun di atas hilangnya martabat masyarakatnya sendiri. Sebab ketika hutan hilang, budaya perlahan menghilang, dan rakyat adat dipaksa menyingkir demi proyek besar negara, pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya diuntungkan akan terus hidup di tengah publik.
Baca di sini: https://t.co/bdwf90p6B4
Ratusan petani kopi di Desa Selosabrang, Temanggung, terpaksa memanen dini biji kopi yang masih hijau akibat instruksi pengosongan lahan secara mendadak pada awal Mei 2026. Perintah tersebut dikeluarkan karena lahan garapan warga akan segera digusur untuk pembangunan markas batalion teritorial pembangunan TNI.
~TR #PetaniKopi #PembangunanBatalion #Temanggung
Nyanyian tradisional Suku Mamuna dari pedalaman Papua.
Tembang tradisional asli Papua ini disebut sebagai nyanyian yang menggambarkan keindahan dan penuh makna paling murni di dunia.
Selamatkan Hutan, Tanah dan Alam di Papua!
Pemasangan jerat babi hutan kembali melukai seekor harimau sumatera di Pasaman, memperparah konflik satwa dan manusia serta mendesak penegakan hukum tegas terhadap penggunaan jerat di kawasan penyangga habitat.
https://t.co/hgnOYJOKth
Selamat pagi di hari Senin....
"Janganlah mencintai secara berlebihan, sebab engkau akan tersakiti".
Aku mencintai negeri ini, tapi tidak dengan pemerintah yang rakyatnya disakiti.