Guys, Ahok baru ngobrol panjang di Mata Najwa dan ada beberapa pernyataan tentang Prabowo dan kondisi politik sekarang yang menurut gue paling jujur dan paling berani karena Ahok adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah jadi anak buah Prabowo di Gerindra sebelum akhirnya berseberangan.
Dan cara Ahok membaca situasi sekarang tajam, langsung, tanpa basa-basi.
Pertama tentang MBG dan korupsi di dalamnya:
Ahok tidak kaget.
Tapi dia sangat kecewa.
Bagi Ahok masalah utama Indonesia bukan programnya tapi orang-orang yang menjalankannya.
Dan ini berkaitan langsung dengan satu prinsip yang dia pegang sejak muda: meritokrasi.
Dia cerita tentang pamannya sendiri yang minta dimasukkan ke pabrik milik keluarga dan Ahok menolak. Bukan karena tidak sayang.
Tapi karena kalau sistem meritokrasi sudah rusak dari dalam kekacauan yang terjadi adalah konsekuensi logis yang tidak bisa dihindari.
"Tidak pakai meritokrasi bisa terjadi kekacauan-kekacauan seperti yang sekarang terjadi."
Dan kekacauan MBG korupsi di lembaga yang langsung di bawah presiden adalah bukti paling nyata dari argumen itu.
Dan ini tentang solusi MBG yang Ahok tawarkan yang paling mengejutkan:
Ahok tidak bilang program MBG harus dihapus.
Tapi dia punya ide yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih efisien.
"Kasih saja uangnya ke ibunya.
Ibunya masak sesuai yang anaknya suka.
Satu anak dapat Rp50.000 kalau punya tiga anak dapat Rp150.000 tinggal kasih menu: harus ada daging, ada sayur. Kalau enggak ada duitnya gua cabut."
Tidak perlu Kementerian khusus.
Tidak perlu tender.
Tidak perlu supplier.
Tidak ada yang bisa ngambil untung dari celah pengadaan.
Dan bagi keluarga yang pas-pasan Rp50.000 per anak itu bisa dipakai beli makan untuk seluruh keluarga. Kakek nenek bisa ikut makan.
Adik yang belum sekolah bisa ikut makan.
Sederhana.
Langsung.
Tidak ada lapisan yang bisa dikorupsi.
"Makanya cara Ahok orang enggak suka karena ini praktis.
Apa yang susah?"
Dan ini tentang kekuasaan tanpa cinta rakyat yang paling menohok:
Ahok mengutip Martin Luther King Jr. dengan cara yang sangat relevan untuk kondisi Indonesia sekarang.
Kekuasaan tanpa cinta negara dan cinta rakyat pasti kasar, sembrono, dan korup.
Cinta negara dan cinta rakyat tanpa kekuasaan hanya sentimental dan kurang darah.
Tapi kekuasaan di posisi terbaik adalah ketika digunakan untuk mengkoreksi segala sesuatu yang menentang keadilan sosial.
"Pertanyaannya: apakah sekarang kekuasaan dipakai untuk mengkoreksi segala sesuatu yang menentang cinta negara dan cinta rakyat?"
Ahok tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Tapi jawabannya ada di sana di antara baris-baris yang dia ucapkan.
Rakyat bawah terjerat judi online yang tidak bisa dimatikan padahal secara teknis sangat mudah dilakukan.
Korupsi MBG terjadi di program flagship presiden.
Data pribadi rakyat diretas dan respons pemerintah ujung-ujungnya minta tambah anggaran.
Dan ini tentang hubungan Ahok dengan Prabowo sekarang:
Ahok pernah jadi kader Gerindra.
Pernah jadi anak buah Prabowo.
Tapi sekarang?
"Pak Prabowo kemarin habis dioperasi kok sudah kirim ucapan? Aku enggak ada kontaknya."
"Masa enggak ada kontak Pak Prabowo?
Dari dulu enggak pernah ada."
Dan terakhir ketemu Prabowo sudah lebih dari setahun lalu sebelum Pilpres 2024.
Ini bukan permusuhan yang dinyatakan secara terbuka. Tapi jarak yang terbentuk sendiri karena perbedaan arah yang sudah terlalu jauh.
Dan ini tentang kondisi politik ke depan yang paling menarik:
Ahok membaca arah politik Indonesia ke depan dengan sangat spesifik.
MK sudah memutuskan tidak ada ambang batas parlemen. Artinya ke depan akan muncul banyak partai kecil-kecil.
Dan siapa yang punya uang cukup untuk menguasai banyak partai kecil bisa membangun kekuatan koalisi yang sangat besar.
Dan Ahok menebak meski tidak secara terang-terangan bahwa Jokowi mungkin sedang mempersiapkan langkah itu. Anak maju di eksekutif.
Menantu maju di daerah.
Dan partai-partai kecil yang mungkin bisa disatukan di bawah satu kendali.
"Saya enggak tahu.
Saya cuma nebak.
Tapi kalau lihat langkah-langkahnya itu bukan tidak mungkin."
Ahok keluar dari penjara lebih tenang.
Lebih terkontrol.
Filosofinya sederhana kalau dulu ada yang bilang minuman ini teh padahal jelas air putih, dia akan berdebat berjam-jam.
Sekarang dia cukup bilang: "Mohon maaf, rasa lidah saya sih air putih. Kalau Anda rasa teh silakan."
Tapi ketajamannya dalam membaca masalah tidak berkurang. Justru lebih dalam.
Dan satu kalimat yang menurut gue paling relevan dari seluruh wawancara ini:
"Pondasi hukum sudah runtuh apalagi yang bisa kita harapkan?"
Ahok tidak menjawab pertanyaan itu. Tapi dia juga tidak berhenti berharap. Dan mungkin itulah yang paling menarik dari semua yang dia sampaikan.
Guys, ada cerita yang menurut gue paling aneh dan paling ironis yang terjadi di pasar modal Indonesia tahun ini.
Orang terkaya Indonesia Prajogo Pangestu kehilangan kekayaan di atas kertas hampir Rp2.800 triliun
dalam hitungan bulan.
Tapi pabriknya masih jalan.
Karyawannya masih ada.
Bisnisnya bahkan cetak rekor untung tertinggi sepanjang sejarah.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi?
Pertama — biar paham, bisnis Prajogo itu apa:
Prajogo punya tiga saham utama yang semuanya adalah satu kerajaan bisnis yang terintegrasi.
TPIA — Chandra Asri Pasifik. Ini pabrik yang mengubah minyak bumi jadi bahan baku plastik.
Botol plastik, pipa air, bumper mobil, kemasan produk semuanya butuh bahan kimia dasar yang namanya polipropilen dan polietilen.
Dan TPIA adalah satu-satunya produsen yang punya alat pemecah nafta di seluruh Indonesia.
Artinya: kalau pabrik manufaktur Indonesia butuh bahan kimia dasar mereka hampir pasti beli dari sini. Tidak ada alternatif lain di dalam negeri.
BREN — Barito Renewables Energy. Ini bisnis energi panas bumi. Di bawah tanah Indonesia ada panas dari aktivitas vulkanik panas itu bisa dipakai untuk nyalain turbin dan menghasilkan listrik bersih 24 jam tanpa henti.
Tidak perlu angin, tidak bisa mati karena mendung. Lewat anak usahanya Star Energy, BREN adalah operator geothermal terbesar di Indonesia dan masuk lima besar di dunia dengan kapasitas 926 megawatt dan kontrak langsung dengan PLN.
CUAN — tambang batubara.
Simpel dan menghasilkan.
Strateginya: punya tambang untuk energi, punya pembangkit geothermal untuk listrik bersih, punya pabrik petrokimia untuk industri.
Dari dalam tanah sampai ke pabrik semua di satu tangan.
Dan ini yang bikin semua orang bingung — kenapa sahamnya bisa naik ribuan persen:
TPIA naik 200% hanya dalam 5,5 bulan dari Desember 2023 sampai Mei 2024 tepat menjelang pengumuman masuk ke indeks MSCI global.
CUAN naik 6.000% dari harga IPO-nya dalam 6 bulan.
BREN naik 11.166% dari harga IPO sebelum akhirnya dicoret dari indeks.
Polanya sama semua:
menjelang masuk ke indeks global harga meledak. Begitu resmi masuk harga mulai turun.
Kenapa? Karena MSCI itu ibarat peta navigasi untuk investor global di seluruh dunia yang asetnya mencapai 17 triliun dolar.
Begitu sebuah saham masuk ke indeks MSCI ratusan dana investasi global yang mengikuti indeks itu langsung secara otomatis harus beli saham itu.
Nah, sebelum pengumuman resmi uang pintar masuk duluan. Investor ritel yang baca berita ikut masuk di tengah euforia.
Harga terus naik.
Begitu resmi masuk yang tadi beli duluan mulai jual. Sahamnya koreksi.
Dan ini pukulan pertama yang datang lebih awal dari MSCI:
September 2024 — BREN dicoret dari indeks FTSE Russell dengan satu alasan yang sangat spesifik:
Empat pemegang saham menguasai 97% dari total saham yang beredar.
Artinya yang bisa dibeli oleh publik investor biasa seperti kita hanya 3%.
Bayangkan konser di stadion 50.000 penonton.
Tapi 97% tiketnya sudah diborong duluan oleh empat orang. Dari luar kelihatan stadionnya penuh.
Tapi hampir tidak ada tiket yang bisa dibeli oleh penonton biasa.
Dan ketika ada yang mau jual tiketnya tidak ada yang mau beli di harga wajar karena pilihan pembeli terlalu sedikit.
BREN langsung anjlok hampir 20% dalam satu hari.
Dan ini pukulan terakhir yang paling mematikan Mei 2026:
BREN, TPIA, dan CUAN resmi dicoret dari MSCI Global Standard Index.
Mekanismenya kejam dan otomatis. Dana-dana investasi global seperti iShares MSCI Indonesia ETF, Vanguard Emerging Market Fund, dan ratusan ETF lain
yang mengikuti indeks MSCI tidak punya pilihan selain menjual semua saham Indonesia yang dicoret bukan karena mereka pikir bisnisnya jelek tapi karena mandatnya memang seperti itu.
Hasilnya: ARB berulang.
Turun terus.
Sampai kekayaan Prajogo di atas kertas
dari 46,5 miliar dolar menyusut ke 15 miliar dolar.
Dan ini yang paling ironis dari seluruh cerita ini:
Prajogo sendiri tidak terlalu kena dampak nyata.
Pabrik petrokimianya masih beroperasi.
Pembangkit geothermalnya masih menghasilkan listrik. Tambangnya masih produksi.
Bahkan kuartal pertama 2026 di tengah semua kekacauan ini TPIA justru cetak laba bersih tertinggi sepanjang sejarah.
Kekayaannya turun di atas kertas.
Tapi hidupnya tidak berubah banyak.
Yang benar-benar rugi adalah investor ritel orang biasa yang beli saham ini di harga puncak karena ikut euforia dan terlambat keluar.
Kerugian mereka nyata 70 sampai 80% dari modal yang mereka masukkan.
Dan ini efek domino yang paling tidak adil:
Investor asing yang keluar karena pencoretan MSCI tidak hanya menjual saham-sahamnya Prajogo.
Mereka menjual BCA, BRI, Astra, Telkom semua nama besar yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah free float BREN atau konsentrasi kepemilikan TPIA.
Tapi begitulah cara kerja sentimen pasar.
Kalau image satu pasar sudah jelek dana asing yang sifatnya mengikuti indeks akan keluar dari semua saham di pasar itu. Bukan pilih-pilih mana yang bersih mana yang tidak.
Ibarat satu unit apartemen ketahuan ada masalah struktur tiba-tiba semua penghuni apartemen itu ingin pindah. Padahal unit mereka tidak ada masalah apa-apa.
Hasilnya: IHSG melemah hampir 30% sepanjang 2026. Rupiah mendekati Rp18.000.
Kapitalisasi pasar saham Indonesia hilang Rp1.190 triliun hanya dalam 5 hari trading.
Dan IHSG turun 8,3% terburuk di dunia pada periode yang sama.
Dan ini pertanyaan yang paling penting siapa yang salah:
Prajogo bermain sesuai aturan yang berlaku. Bertahun-tahun sebelumnya BEI menetapkan free float minimum hanya 7,5% dan dia tidak melanggar aturan itu.
Strategi pompa valuasi lewat momentum masuk indeks bukan fraud.
Dari sudut pandang pemilik bisnis itu bahkan sangat cerdas.
Tapi ada satu blind spot yang fatal:
strategi itu jenius di lingkungan yang standarnya longgar. Begitu standar global datang dan menilai pondasinya tidak cukup kuat.
Sistem juga punya andil. BEI terlambat menaikkan standar free float minimum ke 15% dan itu memberikan ruang bertahun-tahun bagi praktik yang akhirnya tidak memenuhi standar internasional.
Dan investor ritel punya andilnya sendiri membeli karena ceritanya bagus bukan karena bisnisnya dipahami dengan benar.
Harga saham bisa naik karena bisnisnya bagus.
Tapi harga saham juga bisa naik karena narasinya bagus. Dua-duanya bisa bikin untung tapi hanya satu yang bikin aman ketika gonjang-ganjing datang.
Dan pertanyaan yang paling jujur sebelum beli saham apapun: kamu beli karena paham bisnisnya atau karena ikut cerita yang sedang ramai?
Karena yang paling ironis dari seluruh kisah ini: orang kaya pakai strategi yang sangat pintar untuk semakin kaya dan yang nyangkut parah adalah orang biasa yang ikut-ikutan strategi orang kaya itu tanpa benar-benar memahami risikonya.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan analisis Raymond Chin tentang saham kelompok Barito. Ini bukan rekomendasi investasi. Semua keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing individu.
sunco per april masih di angka 43,500 sekarang juni udah 47.000
beras yang biasanya 74.500
sekarang udah 95.000
jangan kaget bulan depan
kalo minyak goreng udah 50 rb na
ayam 50 ribuan
beras 100 ribuan
anjirr ini mau diem doang kita WNI
kata prabowo udah swasembada pangan
swasembada dari hongkong?
anjir go internasional prabowo
berkat kenaikan rupiah terus terusan
mening viralin deh netizen korea
biar tau malu tuh prabowo diomongin
soalnya udah bebal sama kita kita disini
GLOBAL INVESTOR MULAI SERIUS !!
SELL INDONESIA MASSIVE DI PEMBICARAAN INTERNASIONAL !!
MEREKA AJA SUDAH MUAK DENGAN PRABOWO???
KETIKA DUNIA MEMILIH PERGI DARI INDONESIA
Judul itu bukan provokasi.
Itu istilah yang kini beredar di meja-meja trading global.
The Straits Times menerbitkannya hari ini,
investor asing sedang keluar dari Indonesia secara masif, dan Prabowo dianggap salah satu alasannya.
Ini bukan gosip.
Ini angka.
Dua tahun lalu kita masih tenang di kisaran Rp15.000-16.000. Kini, lihat sendiri angkanya:
Sepanjang 2024, rata-rata kurs rupiah berada di Rp16.162 per dolar AS.
Desember 2025 sempat menguat ke Rp16.601 per dolar, titik terkuat dalam enam bulan terakhir.
Lalu semua berubah di 2026. Pada 21 Mei 2026, Bank Indonesia terpaksa menaikkan suku bunga acuan ke 5,25% kenaikan pertama dalam dua tahun karena rupiah terus mencatatkan rekor terendah baru, kala itu di level Rp17.600 per dolar.
Dan kemarin, 4 Juni 2026: kurs USD/IDR menembus Rp18.044 rekor terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Rupiah sudah melemah 7,2% sejak awal tahun, menjadikannya salah satu mata uang emerging market dengan performa terburuk di dunia.
Dalam dua tahun, rupiah sudah kehilangan lebih dari 11% nilainya.
Ini bukan koreksi biasa.
Ini alarm.
DANA ASING KELUAR: BERAPA BESARNYA?
MSCI dalam review Mei 2026 menghapus 18 saham Indonesia dari indeksnya jauh lebih banyak dari perkiraan otoritas.
Dampaknya langsung terasa:
estimasi passive outflow antara Rp28 triliun hingga Rp31,5 triliun. IHSG sudah anjlok 20% ke level 5700
Khusus di kuartal pertama 2026, asing melakukan net sell sebesar Rp26,06 triliun di pasar saham dan Rp25,1 triliun di obligasi pemerintah.
Total tekanan keluar dari dua instrumen ini saja menyentuh lebih dari Rp51 triliun hanya dalam tiga bulan.
Belum cukup? Indonesia juga mencatatkan defisit neraca pembayaran sebesar 9,1 miliar dolar AS di Q1 2026 salah satu yang terbesar dalam sejarah sementara defisit transaksi berjalan melebar dari 0,7% ke 1,1% PDB.
Sejak awal 2026 saja, dalam tiga minggu pertama Januari, capital outflow sudah mencapai 1,6 miliar dolar AS. Tren ini terus berakselerasi seiring eskalasi geopolitik yang mengubah persepsi risiko global secara dramatis.
Sepanjang periode ini, elite Indonesia sendiri ikut memindahkan kekayaan mereka ke luar negeri:
ke emas, properti, kripto, dan stablecoin USDT. Individu dengan aset bersih antara 100 juta hingga 400 juta dolar dilaporkan telah mengonversi 10% portofolio mereka ke aset digital di luar negeri. PPATK mencatat dana keluar dari Indonesia mencapai Rp602 triliun hanya dalam Maret 2025.
Di sisi investasi riil, LG membatalkan proyek baterai nikel mereka di Indonesia. BYD dan VinFast mengalami gangguan operasional akibat tekanan dari ormas-ormas tertentu.
KENAPA INVESTOR KABUR? INI PENYEBABNYA
Otoritas moneter dinilai terjebak dalam "kebijakan burung unta" mengecilkan memburuknya kondisi pasar demi mempertahankan narasi stabilitas makroekonomi, padahal kenyataan di lapangan terus memburuk.
Moody's dan Fitch keduanya mengubah outlook Indonesia menjadi negatif pada 2026, meski peringkat investment grade masih dipertahankan.
Cadangan devisa juga turun ke level terendah dalam dua tahun terakhir akibat intervensi agresif Bank Indonesia untuk menahan rupiah.
FAKTOR PRABOWO: APA YANG BIKIN INVESTOR GELISAH?
The Straits Times hari ini menulis langsung:
investor global terganggu oleh agenda populis dan intervensionis yang dikejar Prabowo. Tiga hal yang paling sering disebut:
Pertama, UU P2SK yang memberi presiden kewenangan memecat Gubernur BI sinyal buruk bagi independensi bank sentral.
Kedua, ekspansi anggaran besar-besaran untuk program MBG di tengah tekanan fiskal, yang memunculkan spekulasi downgrade rating.
Ketiga, gaya kepemimpinan yang lebih mengandalkan militer dan ekspansi pengaruh negara ke sektor swasta.
Rupiah di Rp18.000 bukan sekadar angka,
asing kluar bukan politik.
MAU SAMPE KAPAN DENIAL..??
INI SIH MENGERIKAN