Menurut postingan WNA Jepang, di lokalisasi Royal Jakarta Utara, ada wanita yang dikurung di balik jeruji besi dan gembok, serta dipaksa melayani prostitusi. Mereka dijadikan budak seks dan diperlakukan sangat kejam serta tidak manusiawi hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata.
PS mulai dikepung dan dikunci oleh Geng SOP
Saya dapat info bhw Jokower yang ada dalam pemerintahan sedang membangun kolaborasi dg koruptor yg lari ke luar negeri untuk membangun partai untuk dijadikan sayap kedua Geng SOP setelah Partai dinasti Solo yg sudah untuk mengepung PS.
Bahkan sudah mulai berhasil menempatkan orang-orang mereka di BUMN dan mulai berhasil.
Temen temen bantu doakan Semoga segera mendapatkan keadilan untuk anak nya 🤲😭
Bikin sesak napas baca isi curhatan si ibu :
Bagi mereka yang punya kuasa, kasus ini mungkin bisa ditepis begitu saja dengan alasan 'tidak ada bukti digital'.
Tapi bagi kami keluarga miskin, derita fisik dan batin yang dialami Rahma (kejadian di Kab. INHIL) adalah kenyataan pahit yang nyata. Rahma sudah mengadu ke guru sambil menangis saat kakinya diinjak dan perutnya dipukul dengan gagang sapu.
Namun perlindungan yang didapat hanya sebatas kata 'nanti'. Sebulan terbaring dengan kaki membengkak dan menghitam hingga pembuluh darahnya tersumbat,
pihak sekolah bahkan tidak pernah datang menjenguk. Dokter mendiagnosis adanya cedera trauma/memar akibat benturan yang menyebabkan penyumbatan pembuluh darah.
Kini, setelah 1 tahun lebih berjuang, penyakitnya menjalar hingga ke jari tangan. Bagi kalian yang menuduh kami mengarang cerita demi donasi: kejam sekali kalian!
Kami tidak minta musibah ini, kami hanya ingin Rahma sembuh kembali. Kami bersuara karena keadilan tidak boleh hanya tajam ke bawah!
Seperti dugaan saya sebelumnya bhw setelah Presiden @prabowo menyentuh Oligarki maka serangan balik geng SOP (Solo, Oligarki, dan Parcok) akan meningkat.
Dana Oligarki, Judol, dan Narkoba, dan penyelundupan sepertinya akan meluncur keras utk gerakan jatuhkan @prabowo dan naikkan Gibran.
Kisah ironis dan menyesakkan dada ini dialami oleh seorang Guru Besar Universitas Indonesia bernama Profesor Raldi Artono Koestoer.
Melihat tingginya angka kematian bayi prematur dari keluarga miskin yang tidak mampu membayar biaya sewa inkubator rumah sakit yang sangat mahal, ia menggunakan kecerdasannya untuk merakit inkubator bayi portabel berteknologi canggih namun sangat hemat listrik.
Hebatnya, ia sama sekali tidak mengomersialkan alat penopang kehidupan tersebut, melainkan meminjamkannya secara gratis kepada ribuan ibu miskin di berbagai pelosok daerah.
Namun bukannya diberi medali penghargaan atau dana bantuan riset oleh negara, gerakan mulia sang profesor justru mendapat tamparan keras dari sistem birokrasi.
Pada tahun 2016, pemerintah melalui kementerian terkait mendadak menegur dan mencoba menghentikan operasional peminjaman inkubator tersebut.
Alasannya sangat kaku, alat penyelamat nyawa itu dianggap melanggar aturan karena belum memiliki sertifikat izin edar dan Standar Nasional Indonesia layaknya produk alat medis komersial buatan pabrik raksasa.
Tuntutan untuk mengurus perizinan yang memakan biaya sangat mahal dan proses yang rumit tentu tidak masuk akal untuk sebuah proyek amal yang dijalankan secara swadaya.
Ironi menyedihkan ini sempat memancing kemarahan publik secara luas, memperlihatkan bukti nyata bagaimana sebuah inovasi jenius anak bangsa yang murni bergerak untuk misi kemanusiaan justru nyaris dicekik mati oleh aturan kertas di negerinya sendiri.
DI TENGAH GEMURUH RUANGAN, SUARA TEGAS IBU:
“SAYA USAHA SENDIRI… MODAL SENDIRI… TANPA CAMPUR TANGAN PEMERINTAH".
TAPI BEGITU BERHASIL… TIBA-TIBA MEREKA DATANG MINTA PAJAK.”
Ia mewakili jutaan pengusaha yang membangun dari nol dengan keringat dan tekad.
@KangDien_Wae Iya betul umkm pontang panting mati2an cari modal,begitu usaha misal bangkrut emang pemerintah bantu kagak kan,giliran sukses minta pajak wkwkwk
Di tengah gemuruh ruangan, suara tegas Ibu Anik menggema jernih: “Saya usaha sendiri… modal sendiri… tanpa campur tangan pemerintah.
Tapi begitu berhasil… tiba-tiba mereka datang minta pajak.” Ia bukan sekadar bicara.
Ia mewakili jutaan pengusaha yang membangun dari nol dengan keringat dan tekad. Kisah sukses yang dibayar mahal dengan “pajak mendadak”.
Apakah ini bentuk keadilan yang seharusnya?
#KisahPengusahaSejati
Stop.....wak ✋️✋️✋️
Kalian harus lihat ini💔
Warga Kelurahan Nagahuta, Kecamatan Siantar Marimbun, Kota Pematangsiantar dihebohkan dengan penemuan seorang wanita tanpa identitas yang tergeletak lemas di area perkebunan milik warga.
Saat ditemukan, kondisi wanita tersebut sangat memprihatinkan dan diduga kuat mengalami kelaparan ekstrem.
sumatera gabung singapore, kalimantan join malaysia, sulawesi join philippine, bali-ntb join australia, ntt join timor leste, papua merdeka jadi negara sendiri.
Kemarin ksad tanya Film PESTA BABI itu duit dari mana ?
Sekarang gantian rakyat nanya juga boleh dong
MOBIL MOBIL APARAT INI MEWAH MEWAH KIRA KIRA DUIT DARI MANA ???
Note: sumber foto BMW APARAT dari bang @rahmatsn
Nemu bapak ini di fesnuk lagi jualan soft copy materi pembelajaran bahasa Jepang yang beliau susun. Real aseli guru bahasa Jepang, karena beliau buka les juga. Siapa tau ada yang butuh, bisa langsung kontak bapaknya atau mampir ke fesnuknya beliau
Guys, Rocky Gerung baru ngomong sesuatu soal Purbaya di depan ribuan mahasiswa ITB dan kalimatnya menurut gue paling telak dan paling jujur yang pernah diucapkan soal posisi Menteri Keuangan kita.
Bukan dari ekonom.
Bukan dari analis.
Dari filsuf.
Dan justru itu yang bikin kalimatnya paling menancap.
Kalimatnya sederhana.
Tapi sangat keras:
"Pak Purbaya itu dia cuma kasir.
Mana ada kasir menghasilkan growth."
Selesai. Tiga kalimat.
Tapi gue mau bedah ini lebih dalam karena ini jauh lebih penting dari yang kelihatan di permukaan.
Apa maksud Rocky dan kenapa ini sangat relevan:
Rocky tidak sedang menghina Purbaya sebagai manusia.
Dia sedang mengoreksi sesuatu yang fundamental soal bagaimana kita memahami ekonomi dan bagaimana pemerintah sedang menyesatkan rakyat dengan narasi yang salah.
Menteri Keuangan adalah penjaga kas negara.
Dia yang mengatur anggaran masuk dan keluar.
Dia yang memastikan utang tidak meledak.
Dia yang menjaga fiskal tetap sehat.
Tapi dia bukan yang menciptakan pertumbuhan. Pertumbuhan lahir dari kementerian teknis yang produktif perindustrian, perdagangan, kelautan, perikanan.
Pertumbuhan lahir dari pabrik yang berproduksi, dari nelayan yang bisa melaut, dari petani yang bisa menjual hasil panennya dengan harga yang adil.
Tapi yang terjadi sekarang adalah semua orang dari Prabowo sampai media membebankan ekspektasi pertumbuhan 6% kepada seorang kasir.
Dan ketika kasir tidak bisa menghasilkan pertumbuhan padahal memang bukan tugasnya untuk melakukan itu dia disalahkan.
Rakyat kecewa.
Presiden tidak puas.
Market tidak percaya.
Padahal pertanyaan yang sebenarnya harus diajukan adalah:
Di mana kementerian teknis yang seharusnya menghasilkan pertumbuhan itu?
Kementerian Perindustrian yang seharusnya menumbuhkan manufaktur tapi kontribusi manufaktur terhadap GDP kita turun dari 30% menjadi 18%.
Deindustrialisasi terjadi diam-diam selama bertahun-tahun.
Kementerian Perdagangan yang seharusnya membuka pasar tapi investor asing semakin ragu masuk karena kepastian hukum yang berubah-ubah.
Regulasi EV yang tiba-tiba mau dikenakan pajak setelah sebelumnya bebas pajak.
Komisi ojek online yang dipaksa turun ke 8% sehingga platform bleeding.
Kementerian Kelautan dan Perikanan yang potensinya luar biasa tapi realisasinya masih jauh dari optimal.
Itu yang seharusnya ditagih.
Bukan Purbaya yang memang tugasnya jaga kas bukan cetak pertumbuhan.
Dan ini yang paling miris:
Purbaya sudah berulang kali bilang "fundamental kita kuat, rupiah kita undervalued, kita sedang ekspansi."
Tapi dolar tetap ngacir ke Rp17.600.
IHSG tetap ambruk.
Market tidak percaya.
Rating agency downgrade outlook kita dari stable ke negatif.
Rocky bilang Purbaya "disiksa oleh keinginan rakyat untuk melihat pertumbuhan" dan itu sangat tepat. Orang yang salah jabatan dipaksa menanggung beban yang bukan tugasnya.
Dan ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi dia yang jadi kambing hitam dari masalah yang sebenarnya ada di tempat lain.
Dan sambungkan ini dengan apa yang Prabowo bilang hari yang sama:
"Kalau tidak beres, copot. Sederhana."
Pertanyaannya sangat sederhana:
Kalau Purbaya yang salah kenapa kementerian teknis yang tidak menghasilkan pertumbuhan tidak dicopot?
Kalau Purbaya yang tidak kompeten kenapa orang-orang di sektor riil yang seharusnya menggerakkan ekonomi tidak ditagih?
Atau jangan-jangan lebih mudah menyalahkan kasir daripada mengakui bahwa masalahnya ada di arsitektur kebijakan yang lebih besar?
Dan Rocky kasih satu poin lagi yang sangat penting:
"Tradisi berpikir di universitas begitu masuk dalam birokrasi berubah menjadi hierarki.
Tidak mungkin ada inovasi dari dalam birokrasi."
Ini menjelaskan segalanya.
Kenapa orang pintar yang masuk ke pemerintahan akhirnya diam.
Kenapa yang berani justru dihukum.
Kenapa Nadiem yang mencoba inovasi berakhir dengan tuntutan 27 tahun.
Kenapa yang pandai menunduk justru yang bertahan dan dipuji.
Birokrasi tidak mendesain dirinya untuk menghasilkan pertumbuhan.
Birokrasi mendesain dirinya untuk mempertahankan hierarki.
Dan selama itu yang terjadi pertumbuhan 6% hanya akan menjadi angka di slide presentasi bukan kenyataan yang dirasakan rakyat di dompet mereka.
Rocky Gerung benar.
Purbaya bukan masalahnya.
Purbaya adalah kasir yang dipaksa berperan sebagai mesin pertumbuhan sementara mesin pertumbuhan yang sesungguhnya tidak berjalan dengan benar.
Tapi yang lebih besar dari soal Purbaya adalah ini:
kita sedang hidup dalam sistem yang menghukum keberanian, memproteksi loyalitas,
dan membebankan ekspektasi kepada orang yang salah jabatan sementara yang seharusnya bertanggung jawab terlindungi oleh hierarki yang tidak bisa diganggu gugat.
Dan selama sistem itu tidak berubah mau ganti Purbaya dengan siapapun, mau klaim pertumbuhan berapa persen pun dolar akan tetap ngacir.
Market akan tetap tidak percaya.
Dan rakyat akan tetap merasakan hidupnya makin sempit.
Waduh, investor mulai berani teriak!
Sedang beredar surat terbuka dari Kamar Dagang Tiongkok (CCC Indonesia) langsung buat Presiden. Isinya benar-benar tamparan keras buat wajah birokrasi kita!
Bayangin aja, mereka terang2an bongkar borok yg dihadepin investor/pengusaha di lapangan:
1. Pungli & Pemerasan: Mereka mengeluhkan adanya praktik korupsi dan pemerasan oleh oknum berwenang yang sudah sangat mengganggu operasi bisnis.
2. Ada denda kehutanan "rekor" sebesar US$180 juta yang dijatuhkan secara sepihak dan dianggap berlebihan.
3. Kebijakan nikel berubah-ubah mendadak sampai bikin biaya produksi melonjak 200%
4. Birokrasi korup. ada masalah, saluran resmi macet, tapi kalau lewat perantara dan pake pelicin baru masalah bisa beres.
Gimana mau ekonomi tumbuh 8% kalau investor aja merasa dirampok dan ga ada kepastian hukum?. Nasib jutaan pekerja sekarang di ujung tanduk karena ketidakmampuan pemerintah menjaga iklim usaha yang bersih. Mana ini Bowo katanya mau sikat korupsi, jangan sampai Indonesia dicap sebagai sarang pungli internasional
surat terbuka dari CCCI bisa dibaca selengkapnya di: https://t.co/yOgVQdAKWr