Robohnya Pesantren Kami
Musibah runtuhnya Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo bukan sekadar ambruknya beton dan besi. Ini runtuhnya kelalaian yang disembunyikan di balik jargon keikhlasan. Takdir memang kuasa Tuhan, tapi kelalaian adalah pilihan manusia.
Kita sering berlindung di balik kalimat “sudah takdir”, seolah-olah Tuhan yang disalahkan atas kecerobohan kita. Padahal Allah memberi akal untuk menghitung beban, memberi aturan demi keselamatan, dan ilmu agar kita tak membangun di atas kesalahan. Bila itu diabaikan lalu kita menyebutnya “musibah”, bukankah itu bentuk kezaliman terhadap amanah-Nya?
Masalah kita juga ada pada cara berpikir: menganggap rencana bisa diganti niat baik, prosedur diganti doa, dan keselamatan digadaikan demi percepatan. Kita ingin mendirikan pesantren tapi lupa bahwa pondok bukan hanya tempat mengaji, tapi rumah bagi akal sehat. Pesantren harus menjadi tempat yang nyaman dan aman.
Di antara reruntuhan itu, ada darah yang berserak, tubuh yang remuk, air mata dan jeritan. Santri datang mencari cahaya, bukan untuk terkubur di reruntuhan pondok.
اللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّانِ، وَاجْعَلْ دِمَاءَهُمْ شَهَادَةً عَلَى طُهْرِ نِيَّاتِهِمْ، وَعَلِّمْنَا أَنْ نَبْنِيَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ نَبْنِيَ بِالطُّوبِ وَالْإِسْمَانْتِ.
رَبَّنَا، لَا تَجْعَلْ غَفْلَتَنَا سَبَبًا فِي هَلَاكِ الْأَبْرَارِ، وَلَا تَكْتُبْنَا مِنَ الْمُقَصِّرِينَ الَّذِينَ يَقُولُونَ “قَدَرُ اللَّهِ” وَقُلُوبُهُمْ تَعْلَمُ أَنَّهُمْ فَرَّطُوا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ دُمُوعَ أُمَّهَاتِهِمْ مِفْتَاحًا لِرَحْمَتِكَ، وَآهَاتِ آبَائِهِمْ سُلَّمًا يَرْتَقُونَ بِهِ إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ.
“Ya Allah, angkatlah derajat para santri yang gugur di sisi-Mu, jadikan darah dan debu mereka sebagai saksi kesucian niat mereka. Ajarkan kepada kami untuk membangun dengan ilmu sebelum kami membangun dengan bata dan semen. Jangan biarkan kelalaian kami menjadi sebab hancurnya jiwa-jiwa suci. Jangan catat kami sebagai hamba yang mudah berlindung di balik kata takdir padahal kami tahu kami telah lalai. Ya Allah, jadikan air mata ibu-ibu mereka kunci rahmat-Mu, dan keluh kesah para ayah mereka tangga menuju surga-Mu yang penuh kedamaian.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
@raflimeriah berarti untuk yang tidak melakukan self-claim sebagai casual, harusnya tidak ada masalah dengan perlakuan mereka atas sepatu mereka sendiri khan ya?
@CulesxSone @KAMGajelas @Boediantar4 yg disebutkan diatas itu jelas berkontribusi untuk mendukung kegiatan militer israel, ini bisa di riset scr umum kok. sementara yg diboikot publik, blm ada data kontribusi aktif untuk kegiatan militer israel, jd, kegiatan boikot tidak berdampak pada operasional militer israel
@InasaF@mukalu_jauh@Dongoevsky sepengalaman beli head, semua tipe raket (team, mp, tour, pro) harganya sama semua. hanya dibedakan dari berat raket dan headsize (ukuran kepala). dan harga 4 jutaan di tennis emang uda mahal banget. sementara di padel, harga segitu masuk kategori middle, premiumnya di 5-6 jt
@redhoyasa@Dongoevsky faktanya, Nadal bermain padel setelah tidak lagi kompetitif di arena tennis dan tidak lagi memenangkan turnamen apapun. Djokovic yg relatif usianya sama belum menyentuh padel karena masih kompetitif di turnamen level tertinggi, ntah tahun depan
@cokparcokk@pasifisstate polisi begini itu ngapain yah? udah jelas itu undang-undangnya akan menguntungkan “rival ekonomi dan kekuasaannya” malah konfrontasi sama mahasiswa. itung2an ekonomis, untungnya polisi ini apa bela2in ribut di tema besar UU TNI? ngebongkar judi sabung ayam punya TNI aja di dor
@Elp123181872@The_RedsIndo justru itu poinnya, di fase kepelatihan sebelumnya. situasi proses dr nol itu sudah dilewati dan menginjak fase hasil. tp di cut off selepas kemenangan lawan saudi. dan kita diminta untuk percaya proses (kembali) dg argumen baru dua hari ? dipaksa meromantisasi proses (lagi) ?
Saat Pak Harto pegang kekuasaan pasca 1966, pemilu dijadwalkan sblm Juli 1968 tp gak jd, dan baru digelar 1971, dg peserta baru yaitu Golkar. Didukung birokrasi dan ABRI, Golkar menang 62,8 persen. Hanya Partai NU di belakangnya yg lumayan, yaitu 18 persen, smntr PNI 6,9 dan Parmusi 5,3 persen. Ini konsolidasi kedua Orde Baru pasca pembantaian PKI (langkah pertama).
@re4l_4kun@dekade_08@realfedinuril di uu perbantuan tni, bisa dilakukan dalam domain komando kepolisian. dalam keadaan tidak genting dan tidak ada giat masyarakat di Jakarta yg mengerahkan sdm polri dalam jumlah besar, pelibatan pasukan TNI mengamankan gedung seperti diunggah @realfedinuril perlu dipertanyakan
@Najazi731 @rizzy_sol @lutfie_kal @Ndrewstjan sepanjang baca ga ada reply-an yg bilang Indonesia baik-baik saja. Justru ini menekankan bahwa situasi sosial ekonomi Jepang itu tidak baik-baik saja. kalo mau dibikin sinonimnya dengan Indonesia, berarti kedua negara memang tidak baik-baik saja
@ilhamardhinug@kegblgnunfaedh Sepertinya mayoritas media arus utama/mainstream yang tersetifikasi dewan pers rerata menyoroti soal standar keamanan dan mitigasi risiko yg rendah dari bangunan tersebut, bahwa ada profil korban itu bagian dari indepth report journalism. Beda konteks dg bahasan warganet
@jebreeetmedia @firzieidris kalo berangkatnya dari kuantiti bermain di klub, berarti pemain-pemain liga 1 indonesia yg mayoritas diambil. karena beberapa langganan timnas yg mentas di luar, rerata minim minute play. ga hanya arhan. nathan, justin, walsh, hubner adalah pengisi bangku cadangan
@fkhriirwn@idextratime tapi dengan kehadiran PK, justru potential minute play buat menantu anggota dpr itu makin kecil. PK kemungkinan lebih memberi ruang diaspora ketimbang pengembangan pemain “pure blood”
@gilabola_ina@batinjiwaraga persoalan ada di politik kebijakan. kepala daerah, sebagian berorientasi pada politik mercusuar. sehingga menara gadingnya (stadion) dibangun namun infrastruktur pendukung tidak masuk blue print utama. akhirnya yg dikejar adalah yg noticeable oleh publik alih-alih fungsionalnya
@abigaelnde@el_avraham@justjall sikap reflektof dan emotif masyarakat kita mudah masuk dalam game plan politik yg didesain secara propagandis. ini soal win or lose by de Jure. faktanya demikian. tp kita sering terjebak kenikmatan semu oleh gempita sentimen negatif “sekadar sosmed”