Mengapa narasi "Reformasi Jilid 2" itu cacat nalar? Karena fokusnya cuma pada meruntuhkan, tanpa pernah matang merencanakan cara membangun kembali. Kita butuh evolusi sistem yang cerdas dan berkelanjutan, bukan sekadar hobi meriset ulang tatanan setiap kali ada yang gak cocok.
"Reformasi Jilid 2" adalah bukti nyata kemunduran berpikir. Kalau reformasi pertama dinilai belum sempurna, obatnya adalah evaluasi dan perbaikan, bukan malah mengulang siklus kerusakan yang sama dari nol lagi. Jilid 2 itu cuma buat buku, bukan buat nasib bangsa.