12/
Ya Allah... Ajarkan kami waraβ. Bukan hanya mampu meninggalkan yang haram, tapi juga menjauh dari segala yang mengeraskan hati dan menjauhkan dari-Mu. Bersihkan niat kami, jaga langkah kami, jangan biarkan dunia menguasai hati kami. Aamiin.
WARAβ β Ketika Hati Memilih untuk Menjaga Diri
1/
Waraβ bukan sekadar meninggalkan sesuatu yang haram. Waraβ adalah ketika seorang hamba mulai berhati-hati terhadap sesuatu yang dapat mengotori hatinya, meskipun manusia mungkin menganggapnya biasa.
11/
Mungkin inilah salah satu bentuk waraβ yang paling indah: Ketika tidak ada manusia yang melihat, tetapi kita tetap memilih meninggalkan sesuatu karena kita tahu... Allah melihat. Dan hati yang hidup tidak butuh manusia untuk mengawasinya.
10/
Pada akhirnya, waraβ adalah seni menjaga jarak. Bukan karena semua yang di dunia ini buruk. Tetapi karena hati mudah berubah. Maka ia berhati-hati memilih apa yang dilihat, didengar, dimakan, diucapkan, dikejar dan dicintainya.
9/
Waraβ bukan berarti meninggalkan dunia. Orang berwaraβ tetap bekerja, mencari nafkah, memiliki harta, menikmati hidup. Tetapi ia tidak membiarkan dunia masuk terlalu dalam ke hatinya. Ia pegang dunia dengan tangan, bukan membiarkannya menguasai hati.
8/
Semakin seseorang mengenal kelemahan dirinya, semakin ia berhati-hati. Nafsu sering tidak mengajak langsung ke dosa besar. Kadang dimulai dari: "Tidak apa-apa." "Semua orang juga." "Sekali saja." Dari situlah kelalaian tumbuh.
7/
Karena itu waraβ bukan tentang membangun citra sebagai orang suci. Waraβ lahir ketika seseorang sadar bahwa Allah melihat yang tersembunyi. Ia menjaga diri bukan karena takut penilaian manusia, tapi karena takut kehilangan kejernihan hubungan dengan Rabb-nya.
6/
Yang menarik, waraβ sering tidak terlihat manusia. Tak ada yang tahu saat seseorang meninggalkan keuntungan meragukan, menahan ucapan, atau mundur dari sesuatu yang bisa ia ambil. Tetapi Allah tahu.