Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
“EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah
𝐘𝐨𝐠𝐲𝐚𝐤𝐚𝐫𝐭𝐚: 𝐊𝐨𝐭𝐚 𝐏𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐁𝐞𝐫𝐛𝐮𝐝𝐚𝐲𝐚 𝐀𝐭𝐚𝐮 𝐈𝐛𝐮𝐤𝐨𝐭𝐚 𝐏𝐫𝐨𝐬𝐭𝐢𝐭𝐮𝐬𝐢 𝐓𝐞𝐫𝐬𝐞𝐥𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠?
> Jogja selalu diagungkan sebagai kota pelajar berhati nyaman, tapi realitasnya menyimpan kemunafikan industri lendir yang menolak mati.
> Gang 3 Sosrowijayan alias Sarkem adalah monumen dosa kolonial. Meski resmi ditutup pemerintah tahun 2018, praktiknya cuma pindah ke hotel murah.
> Tengok pinggiran rel barat Stasiun Tugu, kawasan Bong Suwung. Kelas bawah menjajakan diri di bantaran remang-remang dengan tarif super murah.
> Uang senilai Rp45.000 hingga Rp65.000 ditukar dengan layanan syahwat kilat di tempat terbuka yang kotor dan rawan penyakit mematikan.
> Sisi paling ironis dari "kota pelajar" adalah menjamurnya mahasiswi kampus ternama yang nyambi jadi PSK demi gaya hidup atau melunasi UKT.
> Mereka menjajakan tubuh via Twitter, MiChat, dan Instagram untuk melayani teman sekelas, wisatawan hidung belang, hingga pejabat berduit.
> Lokalisasi fisik mungkin berlagak ditertibkan, tapi smartphone di tanganmu adalah lokalisasi digital baru yang beroperasi 24 jam nonstop tanpa tersentuh.
> Jogja terbuat dari rindu, pulang, atau sekadar desahan palsu berbayar?