Kalian udah nonton drakor original Netflix terbaru, Teach You a Lesson?
FYI, episode 5 terinspirasi dari kisah nyata yang pernah menghebohkan dunia pendidikan Korea Selatan. Seorang guru SD berusia 20-an mengakhiri hidupnya akibat tekanan kerja karena intimidasi wali murid yang berlebihan.
Yuk, kita bahas!
Kasus kematian guru SD Seoi (서이초 교사 사망 사건) menjadi salah satu peristiwa paling mengguncang dunia pendidikan Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Tragedi ini bermula pada 18 Juli 2023, ketika seorang guru perempuan berusia 20-an yang menjadi wali kelas 1 di SD Seoi, Distrik Seocho, Seoul, ditemukan meninggal di ruang persiapan bahan ajar sekolahl sebelum jam masuk siswa.
Pada awalnya, penyebab kematian belum diketahui secara pasti. Namun, kabar tersebut dengan cepat menyebar di kalangan guru dan masyarakat, memicu berbagai spekulasi mengenai tekanan yang mungkin dialami korban selama menjalankan tugasnya sebagai guru. Sehari setelah kejadian, berbagai organisasi guru mulai menuntut penyelidikan menyeluruh. Di media sosial dan komunitas daring, muncul dugaan bahwa korban mengalami tekanan berat akibat keluhan orang tua murid, masalah kedisiplinan siswa, serta penanganan konflik antar siswa di kelasnya.
Kontroversi semakin membesar ketika pihak sekolah mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa korban bukan petugas khusus penanganan kekerasan sekolah dan tidak ada kasus kekerasan sekolah yang dilaporkan secara resmi pada tahun tersebut. Pernyataan itu justru memicu kritik karena dianggap terlalu defensif dan tidak menjawab berbagai pertanyaan yang muncul di masyarakat.
Titik balik kasus ini terjadi pada 21 Juli 2023 ketika Serikat Guru Seoul merilis berbagai kesaksian dari guru-guru yang mengenal korban. Dari kesaksian tersebut terungkap bahwa korban selama beberapa waktu menghadapi tekanan yang cukup besar dari sejumlah orang tua murid. Salah satu peristiwa yang menjadi sorotan adalah "Insiden Pensil", yaitu kejadian ketika seorang siswa menggores dahi siswa lain menggunakan pensil. Setelah insiden tersebut, korban disebut menerima banyak telepon dan keluhan dari orang tua kedua belah pihak. Orang tua siswa tersebut menelepon tanpa henti di nomor pribadinya. Bahkan menurut rekan kerja, korban sempat mempertimbangkan untuk mengganti nomor telepon pribadinya karena merasa terganggu dan tertekan. Orang tua siswa tersebut juga mengunjungi kantor guru dan memberikan komentar pada korban, "Gimana sih kamu ngurus anak-anak?" dan "Kamu gak memenuhi syarat jadi guru!"
Kesaksian lain juga mengungkap bahwa di kelas korban terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan beradaptasi di sekolah dan sering menunjukkan perilaku agresif atau emosional. Salah satu siswa disebut kerap berteriak kepada guru. Rekan-rekan korban juga menyebut bahwa korban sering mengeluhkan beban kerja yang jauh lebih berat dibanding tahun sebelumnya.
Informasi tersebut memicu kemarahan dan simpati besar dari para guru di seluruh Korea Selatan. Pada 22 Juli 2023, ribuan guru mengenakan pakaian hitam dan berkumpul secara sukarela untuk menggelar aksi peringatan dan protes. Mereka menilai kematian guru tersebut bukan sekadar tragedi pribadi, melainkan cerminan dari memburuknya kondisi kerja guru serta melemahnya perlindungan terhadap hak-hak mereka.
Seiring berjalannya waktu, berbagai investigasi dilakukan oleh kepolisian, Kementerian Pendidikan, dan Kantor Pendidikan Seoul. Hasil penyelidikan mengungkap bahwa korban memang menghadapi kombinasi berbagai tekanan. Selain harus menangani siswa yang membutuhkan perhatian khusus, ia juga harus menghadapi banyak pekerjaan administratif dan komunikasi intensif dengan orang tua murid. Beberapa rekan guru bersaksi bahwa korban sering merasa cemas, kelelahan, dan terbebani oleh tanggung jawab yang harus ditanggungnya.
(cont...)