Sebagian orang menjadikan buku dan penulis favorit sebagai identitas kepribadian (personality). Akibatnya, saat muncul kritik terhadap karya atau penulis tersebut, pembaca merasa terserang secara personal. Mereka lupa bahwa yang dikritik adalah kualitas karya, bukan selera atau harga diri pembacanya. Jadi, tidak perlu defensif; kritik terhadap sebuah buku bukanlah ejekan terhadap seleramu.
Habis mendigitalisasi 20+ buku langka Indonesia.
Yuk bantu mimin menemukan buku-buku yang jarang ditemui di Indonesia agar bisa mimin bantu digitize (sebelum lulus sekolah 3 bulan lagi 🥲)
Semua diupload perlahan di https://t.co/LBHrUjNEhV
‼️ IPUSNASTORY GIVE AWAY
Daripada sedih ipusnas error mulu, mending kita give away buku aja yaah. Ada dermawan yg mau jajanin buat 2 org terpilih nihh 🥳✨
Rules :
— Follow @ipusnastory
— 🔄 + ❤️ post ini
— Reply wl-mu, max. 150k incl ongkir
End : Sabtu, 7 Feb 2026
Good luck!
Kadang2, pas pulang kerja, aku merasa bosan aja gitu; Biasa aku doomscrolling, YouTube shorts. Sekarang aku malah merasa bersalah... Buang2 waktu saja, gitu rasanya. Takut juga, nanti kemampuan fokus berkurang; Takut nonton propaganda. Aku mikir: Gimana kalau ke cafe? Ah bosan juga. Cafe mulu, pas duduk pun napain? Baca, scrolling... Sama aja akhirnya; Mau ke mall kah? Tapi mall pun isinya begitu2 je, cuma toko2; Penat rasanya keliling. Beli barangkah?
Gimana kalau cari barang di mana2 begitu? Tokopedia? Ah rasanya boros gitu; Konsumerisme. Masalah aku ngobatin bosan dengan belanja? Tak sehat... Dulu pun sudah sering begitu, masa sekarang mau begitu lagi? Alhasil cuma baring2 aja, mikir. Biasanya jalan kaki, tapi jalan kaki pun bosan. Kata orang: Berdamailah dengan bosan! Tapi aku, aku tak mau. Waktu rehat cuma sedikit, masa aku habiskan dengan bosan? Tak lama malam tiba, lalu besok tiba... Kerja lagi. Kalau waktu habis kerja cuma buat melamun, apalah artinya hidup? Cuma kerja lalu melamun kah?