Baru aja mau beli pecel ayam bebek.
🧕: Aku
👨🍳: Penjual cowok
👩🍳: Penjual cewek
🧕: Mbak, bebeknya tinggal satu ya? (Soalnya di etalase emang cuma ada satu.)
👨🍳: Mau berapa?
🧕: Dua porsi sama nasi, jadi berapa?
👩🍳: Sekian, Mbak.
Terus aku manggil suami yang lagi nunggu di motor buat nanya, "Yank, mau bagian apa?"
👩🍳👨🍳: "Yank" katanya wkwkwk. (Sambil bisik-bisik.)
🧕: Mau paha sama dada ya.
Tiba-tiba suamiku teriak, "Yank, aku mau yang dada, tambah tahu tempe."
👨🍳👩🍳: "Tuh kan, yank lagi." Wkwkwk. (Sambil bisik-bisik lagi.)
🧕: Yaudah, nggak jadi beli deh.
👩🍳: Lah, kenapa Mbak?
🧕: Emang kenapa sih kalian ngetawain aku manggil suami sendiri pakai "yank"?
👩🍳: Enggak kok, itu...
🧕: Enggak apanya? Dari tadi aku perhatiin kalian ketawa-ketawa.
Akhirnya aku langsung nyamperin suami terus naik motor.
👨🍳: Lah kok jadi pergi?
🧕: Tadi kenapa ngejek sambil cekikikan pas aku manggil suami "yank"? Jadi males.
👨🍳: Langsung diem seribu bahasa.
Guys, itu baru pertama kali aku beli di situ, jelas kita juga nggak saling kenal. Nggak etis aja menurutku ngetawain pembeli. Apalagi aku lagi laper, dikit aja kepancing langsung naik emosi.