Gw baru dapet insight yg lumayan nampar dari seorang psikiater.
Kalau lo ngerasa punya pattern kayak gini:
• Gampang banget baper
• Refleks menyendiri/ngilang pas lagi stres
• Perfeksionis parah, TAPI di saat yang sama hobi banget nunda kerjaan...
pantes ya pahala memaafkan itu tidak terbatas. bayangin kita yang ngerasain sakitnya, nangisnya, gemeterannya, emosinya, seseknya, sakit kepalanya, kena mentalnya, trus issuenya, tapi kita juga yang harus bisa memaklumi. sedangkan orang yang jadi masalahnya bisa dengan mudah hidup tenang, dan melanjutkan hidup setelahnya.
Sebetulnya do'anya itu itu saja, tapi semoga Allah kabulkan:
Ya Allah,
Cukupkan rezekiku tanpa membuatku lupa bersyukur. Lapangkan jalanku tanpa membuatku jauh dari-Mu. Berikan aku rezeki yang tidak hanya membuat hidupku lebih mudah, tetapi juga bisa membuat hidup orang-orang di sekitarku lebih baik.
Dan ketika Engkau memberiku lebih, semoga hatiku tetap rendah. Semoga aku tidak sibuk menghitung apa yang belum kumiliki, sampai lupa menghargai begitu banyak yang sudah Engkau titipkan.
banyak orang bertahan cuma karena “masih sayang” padahal sayang aja ga cukup buat hubungan yang sehat. we all deserve to be respected, appreciated, protected, heard, and chosen consistently. cinta yang tepat ga bikin kamu kehilangan diri sendiri atau harus terus buktikan kalau kamu layak dicintai.
instead, it gives you peace, confidence, and space to grow.
cinta bukan cuma bilang “aku sayang kamu”. tapi soal gimana kamu diperlakukan setiap hari: dihormati, didengar, diprioritaskan, didukung, dan selalu diperjuangin. hal yang dulu dianggap “kebanyakan maunya”,
ternyata emang ada sama orang yang tepat.
cuz at the end of the day, being loved is beautiful, tapi being valued and consistently cared for baru bikin hubungan worth it. love shouldn’t make you lose yourself. it should make you feel more like yourself.
orang yang udah dibebasin tapi tetep gaberani macem-macem karena punya mindset "udah dikasih kepercayaan jadi gaboleh ngecewain" you are the best version of person ever.
dulu aku pernah cinta sama orang sampe 100% tapi kemudian pas ditinggalin rasanya beneran sakit banget. setelah itu janji sama diri sendiri kalo gak mau lagi ngasih cinta 100% ke seseorang. karna aku percaya siapa yang menunjukkan cintanya lebih banyak, maka dia yang akan kalah.
tapi setelah nonton suatu poadcast, ada suatu kalimat yang bikin aku sadar “aku akan tetap mencintai seseorang 100% dan aku akan tetap melakukan yang terbaik buat dia. kalo emang dia ninggalin aku dan nyakitin aku, setidaknya aku gak menyesal karna udah melakukannya sepenuh hati”
disini aku sadar, bener juga ya. yang penting kita tulus gak setengah”. kalau disakitin berarti dia bukan ditakdirin buat kita.
aku dulu sempat ngejalin hubungan sama seseorang yg honestly "he is a good person, but he is not a good lover".
sometimes dia terlalu peduli sama perasaan orang lain, sampai lupa buat consider perasaan pasangannya sendiri.
dan selama sama dia, i always felt like i was the easiest person to put aside or leave behind. lucunya, aku bisa lihat dia care banget sama orang-orang di sekitarnya. but somehow, he didn't know how to love the person who loved him the most.
gak pernah sekalipun di hidupku aku menyesal jadi orang yg kecintaan. at least im trying until i can’t do it anymore.
karna kalau dibalas dengan cinta yg sama, alhamdulillah.
enggak pun, it’s never be my loss. dan kalopun endingnya gak bareng lagi, langkahku akan sangat amat ringan karna selama ini udah se mengusahakan itu.
today’s affirmation :
'mulai september, oktober, november dan desember akan dipenuhi keberkahan, ketenangan hati, rezeki yang lancar, hal-hal baik, dan kabar yang membahagiakan.' 🤍✨️
Inget ya gaisss, semua tentang waktu. Allah akan memberikannya disaat kita betul-betul layak memilikinya. Maka bersabarlah, karena segala sesuatu hadir tepat pada waktunya. (QS. Al-Fatir:13)
mulai menerima kenyataan kalo gua emang sekurang itu, nothing special, nothing be proud of me and not suitable for anyone, makanya ga heran selama, ini ga pernah ada yang bersyukur punya gua dan selalu sepelein tentang gua.
isn’t it strange that we choose Surah Al-‘Asr to keep our prayer short, when the Surah itself is reminding us that time is slipping away and we are already at loss?