Bukayo Saka TAK PERNAH SEMBUH: Perombakan di Balik Layar
Dan Sheldon, jurnalis The Athletic, menulis sebuah kabar yang cukup bikin saya kaget dan berpikir. Sheldon merangkum informasi yang dibagikan oleh pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, perihal kondisi Bukayo Saka.
Jadi, Tuchel bilang kalau Bukayo Saka tidak bisa berlatih selama dua hari berturut-turut. Saka, menurut penuturan Tuchel, belum sepenuhnya sembuh dari cedera Achilles. Pemain berusia 24 tahun ini mengalami cedera Achilles pada Maret 2026. Dan sejak saat itu, Saka bermain dengan menahan rasa sakit.
“Playing through the pain.” Adalah kalimat yang dipakai oleh Tuchel. Informasi dari Tuchel ini membuka sebuah tabir yang sangat menyedihkan. Bahwa Saka, yang mendapat beban tanggung jawab “menggendong tim”, tak pernah bermain dengan kebugaran 100%.
Saya jadi mengingat lagi performa Saka musim ini, selepas Maret sampai final Liga Champions kemarin. Saya menulis ini dengan dada yang terasa berat, apalagi ketika membayangkan apabila Saka bisa bermain full 90 menit plus 30 menit babak tambahan, mungkin nasib kita berbeda.
Saka, di puncak kebugaran, kita tahu seperti apa yang bisa dia berikan. Namun, ternyata, performanya yang tidak konsisten, disebabkan oleh kondisi bermain dengan menahan rasa sakit.
Jadi, our starboy, bermain menahan rasa sakit. Dia, tetap bermain, meski tahu dirinya akan lama sembuh. Sebuah kondisi yang menyedihkan dan memprihatinkan.
Perombakan di balik layar
Menyusul informasi yang dibagikan oleh Tuchel perihal kondisi Bukayo Saka, Arsenal melakukan perombakan di balik layar. Khususnya di aspek medis, guna merespons buruknya catatan cedera pemain kunci Arsenal musim lalu.
Tahukah kamu, klub juara di Liga Inggris, kehilangan pemain karena cedera di rata-rata 600 sampai 800 hari. Musim lalu, ketika menjadi juara, Arsenal kehilangan pemain kunci di 1.297 hari.
Jadi, sebelum membeli atau menjual pemain, manajemen Arsenal melakukan perbaikan yang sudah seharusnya.
Kita tahu kalau “the best ability is availability”. Selain tersedia, para pemain kunci juga harus berada dalam kondisi kebugaran 100%.
Pemain, yang turun berlaga dengan pain killer, berpotensi mengalami penundaan kesembuhan. Bahkan, cedera yang dialami, bisa semakin parah.
Oleh sebab itu, Arsenal baru saja memecat Dr. Zafar Iqbal. Dia adalah kepala medis Arsenal yang sudah bekerja dari 2023. Sebagai penggantinya, Arsenal merekrut Arnaldo Abrantes dari Aston Villa.
Abrantes adalah mantan atlet (sprinter), yang pernah berlaga di nomor 100m and 200m di Olimpiade 2008 dan 2012. Kepala medis dari Portugal ini mendapat status “highly-rated medical specialist”.
Jadi, transfer pertama Arsenal di musim panas kali ini bukan pemain, melainkan seorang ahli medis. Ini jadi pengingat bahwa kesuksesan sebuah tim tidak hanya ditentukan di atas lapangan hijau, tapi juga di balik layar yang fans tak melihatnya.
Kerja-kerja tak kelihatan ini kadang justru lebih menentukan. Salah satunya memastikan pemain kunci tetap bugar, ditangani dengan baik ketika cedera, dan tidak kambuh lagi.
Semoga jadi rekrutan yang tepat…
#COYG
Arsenal pecat head of medical Dr Zafar Iqbal. Apakah ini buntut dari di keluarkan nya Jurian Timber di timnas Belanda ? Sebelum di Arsenal, Dr Zafar pernah bekerja di Crystal Palace, Liverpool dan Tottenham.
☑️ Nama akun ada “City”
☑️ Foto profil pemain City
☑️ Bio tentang City
☑️ Banner stadion City
☑️ Notifikasi Arsenal nyala 24 jam
Isi timeline:
80% Arsenal
15% Arsenal
5% sisanya mengeluh kenapa Arsenal dibahas terus
Arsenal rents free 😛