Andai memang Pemerintah sejak awal mau mendengar, ndak perlu mahasiswa tsb harus turun ke jalan untuk unjuk rasa, prof.
Karena pemerintah budek, padahal dulu Presidennya mengemis mandat berkali dgn janji mau mendengar rakyat, makanya mereka mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya untuk berunjuk rasa.
Dan seperti biasa, tak juga akan di dengar, entah sampai kapan, entah menunggu sampai batas apa.
Ternyata cara buat ngebalikin motivasi yang hilang akibat burnout bukan dengan liburan mahal, tapi dengan metode ilmiah bernama NSDR (Non-Sleep Deep Rest).
Kalau boleh usul ke Presiden @prabowo baiknya pilih orang dari luar Kejagung untuk pengganti Febrie sebagai Jampidsus, jika tujuannya bersih2 dan memperbaiki keadaan.
Ada beberapa Kepala Kejaksaan Tinggi yang dikenal bersih dan berprestasi;
- Danang Suryo Wibowo (Kajati Lampung)
- Dr. Abdul Qohar AF, S.H., M.H. (Kajati Jatim)
- Muhibuddin (Kajati Sumut).
Ketiganya saat ini bagus dalam menjalankan Kejaksaan Tinggi, transparan. Mudah2an tokoh yang bersih. Tinggal diperiksa dengan teliti.
Terpenuhi syarat yang ditentukan UU Kejaksaan untuk jabatan Jaksa Agung Muda harus pernah menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi atau Jabatan Setara.
Warganet silahkan kuliti. 😆
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Siapa disini yang belum tahu perbedaan mendasar antara Data Analyst, Data Engineer, dan Data Scientist? Gua akan jelaskan secara singkat.
📊 DATA ANALYST
→ Jawab pertanyaan bisnis pakai data historis
→ Tools: Python, SQL, Excel, Tableau, Power BI
→ Output: insight & dashboard
🔧 DATA ENGINEER
→ Bangun pipeline & infrastruktur data
→ Tools: Python, Spark, dbt, Airflow
→ Output: data yang BERSIH dan siap pakai
🤖 DATA SCIENTIST
→ Bangun model yang prediktif & statistik lanjutan
→ Tools: Python, R, ML frameworks
→ Output: prediksi & automate recommendation
Kira-kira seperti itu perbedaannya. Nah, apakah kalian sebuah persamaan diantara ketiganya ?
“Proses hukum ini panjang, saya ikhlas menjalaninya... tapi kalau ujungnya tuntutan setinggi ini…"
"Ya, Allah... bagaimana anak-anak kami tumbuh tanpa ayahnya nanti...”
“Ibam itu cuma konsultan, bukan pejabat, gak punya wewenang, bahkan gak tanda tangan di SK, tapi kenapa harus Ibam yang menanggung semuanya...?”
“Ya, Allah... dzolim banget... apa, sich, salah Ibam...? memang Ibam udah sejahat apa sama Indonesia.. ?”
Setahun terakhir, Ririe berusaha tetap kuat, sebagai istri, sekaligus ibu dari dua anak yang masih kecil... meski di dalam, Ririe juga lelah dan penuh ketakutan, Ririe tetap berdiri di samping Ibam... dan tetap percaya, keadilan akan menemukan jalannya...
Simak pernyataan Ririe selengkapnya di video ini...
Tolong bantu doakan dan beri dukungan kebebasan untuk Ibam... Terima kasih...
Kami juga mendesak berbagai pemangku kepentingan untuk mempertimbangkan beberapa rekomendasi berikut mengenai pengadaan KRL baru yang sedang berlangsung. #SuratTerbuka#AuditKRLINKA#HariTransportasiNasional
Ibrahim Arief pernah terpilih sebagai 40 Under 40 Fortune Indonesia. Skrng, tragis betul nasibnya..
Via: Fortune
"Biasa dipanggil Ibam, pria lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini telah bekerja pada sejumlah perusahaan teknologi Eropa kala mengejar gelar Master di benua itu dalam program Erasmus Mundus CIMET. Setelah pulang ke Indonesia pada 2016, dia bergabung dengan Bukalapak dan kemudian menduduki posisi VP of Engineering, VP of R&D serta melapor ke CTO dan COO.
Di sana Ibam, 39, turut membawa perusahaan all-commerce itu untuk tumbuh pesat dan mengubahnya dari perusahaan rintisan kecil menjadi unicorn teknologi yang beroperasi pada berbagai ranah mulai dari e-commerce hingga fintech. Di antara yang menjadi jejaknya di sana adalah pendirian divisi Litbang untuk AI yang mendorong transaksi tahunan tambahan senilai ratusan juta dolar AS.
Pada 2019, dia berlabuh di OVO, salah satu perusahaan fintech terbesar di dalam negeri, dengan tanggung jawab yang meliputi rekrutmen dan pengembangan tim.
Kini dia CTO di Govtech Edu Indonesia, membangun dan mengembangkan sebuah organisasi berisi sekitar 450 orang, serta melahirkan berbagai produk teknologi berskala besar untuk pemerintah Indonesia. Di antara produk-produk itu adalah sebuah superapp yang dapat mempercepat pembelajaran dan pengajaran berkualitas, hingga platform edukasi untuk jutaan siswa.
Ada cerita unik tentangnya saat menimbang pekerjaan di Govtech Edu. Saat itu, dia sebenarnya sedang didekati oleh Facebook, dan ditawari untuk bekerja di luar Indonesia. “Rencana awal saya adalah bertolak ke Eropa dan membangun karier saya di Facebook London,” katanya dikutip dari laman Medium Govtech Edu. “Tetapi, setelah menimbang-nimbang dan melalui proses pengambilan keputusan yang sulit, saya memilih untuk tinggal di Indonesia demi bekerja dengan Govtech Edu.”
> nolak offer perusahaan luar negeri, milih TURUN gaji demi bantu negara
> hasilnya: dituntut 22,5 tahun penjara tanpa bukti aliran dana
emang kaga usah lagi dibantu ini negara
Sebagai engineer Indo yang belajar banyak dari Ibam, baca ini sakit hati rasanya.
Satu-satunya saran buat teman-teman tech di titik ini: usahakan cari jalan untuk berkarier di luar negeri. Kalaupun stay, jauh-jauh dari public sector atau pemerintahan, tetap di private sector.
Teknologi di Indonesia sudah selesai. Investasi terbaik saat ini yang bisa kita berikan buat generasi berikutnya: berkarya sebaik-baiknya di luar negeri dan membangun network seluas-luasnya.
Selamat tinggal keadilan, selamat jalan teknologi Indonesia. Unicorn era was a nice ride.
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Apa udah pernah ada yg bikin studi soal berapa % kemacetan Jakarta itu disebabkan kelakuan pengguna jalan sendiri?
Berhenti sembarangan, muter balik tidak pada tempatnya, lawan arah, terobos lampu merah, dll
Pernah hold $BTC 3 tahun dari harga $63k drop ke $16k balik ke $63k lagi.
Ini IHSG drop dari 9000 ke 7700 masih nothing lah buat lulusan crypto kayak kita.
This is a centralized and regulated market, harusnya rebound very soon.
Teman-teman kita di Aceh sedang mengalami banjir (semoga lekas pulih dan selamat untuk para warga di sana 🤲).
Infrastruktur jalan dan akses komunikasi terputus, banyak yang belum bisa menghubungi sanak saudaranya di sana.
Ramaikan gaes
Cc @SAR_NASIONAL@BNPB_Indonesia
Ampuni dosa ibu ini ya Allah, beliau hanya ingin anak2nya tidak sengsara. Pertemukan mereka di surgaMu. Walau kami tahu itu adalah hakMu dan yang bisa kami lakukan hanyalah memohon kepadaMu, tapi kami tetap mohon kepadaMu
pertemukan mereka kembali
Bersamai mereka lagi
Setiap kali menginjakkan kaki di tanah air pasti teringatkan, memang benar “kita ini bangsa yang besar”
populasi terbesar ke-4 di dunia
luas wilayah terbesar ke-5 di dunia
pulau besar terpadat di dunia
keragaman bahasa dan budaya daerah
sayang banget potensinya
🇮🇩 80 tahun
A month ago, Diogo Jota died an a car accident. The whole world mourned him. His photos were everywhere.
Today Israel killed a soccer star while seeking aid.
No one will hear about him. No one will see his photo. No one will mourn him except for his family and friends.