Mungkin, Tuhan ingin meluruskan kesalahpahamanku tentang apa itu hidup. Hasil akan simultan dengan proses yang dilalui. Dewasa memang tidak mendewasakan, jika telat sadar.
Salah mengartikan kerja keras dan ketekunan dengan dalih keberuntungan. Setelah 25 tahun hidup baru sadar, kenapa saat kecil dulu, diri ini bisa mencapai setiap keinginan yang dituju.
Menjelang Ramadhan, bukannya menyiapkan diri untuk ibadah. Malah benturin NU dan Muhammadiyah.
Sebagai adik, kita tu hormat sama Muhammadiyah. Kalau boleh cium tangan, kami akan sungkem bolak balik. Mereka aja yg gak mau. 😃
Bayangkan, saat mau puasa, kami persilakan kakak kami duluan.
Waktunya Tarawih, kami juga rela pulang belakangan.
Kakak Muhammadiyah bikin kampus, warga NU kami suruh kuliah di sana.
Meskipun ketika kami bikin pesantren jarang yang mau mondok di mari.
NU dan Muhammadiyah lahir dari guru yang sama. Satu milih dakwah di kota satunya di desa.
Itulah kenapa Jumlah Follower kita berbeda 😎
Muhammadiyah kita tau intelek. Tapi, ngga pernah mengaku intelek dan membodohkan orang lain. Mereka mengajak maju bareng; bangun sekolah, bangun rumah sakit.. sehat dan pintar.
Kasihan, ibarat anak itik, mereka dibuat menunggu diberi makan apa, menunggu diajak kemana, menunggu perintah mandi jam berapa, dll. Mereka jadi pribadi yang tidak otonom dan merdeka, akan sulit bertahan hidup dengan kodratnya masing-masing.
Banyak orang hebat!, tapi berhenti merasa hebat jika ingin membuat orang lain hormat. Semua respect dengan mereka2 yg hebat di organisasi ini, tapi jangan terobsesi menjadi patron. Itu secara tidak sengaja akan menjadi gesekan baru bagi mereka yg tidak ada hubungannya.
Becik ketitik olo ketoro. Becikmu ketok becik lak awamu dadi bolo, olo mu ra ketoro lak awamu dadi bolo. Kiro2 iki mungkin sing tak rasakno, atau sebagian orang merasakan. Akhir e enek sing left dan enek sing bertahan masio tertatih.