Dulu di kantor, ada senior namanya Pak Agus. Hubungan gue sama beliau tu sebel-sayang. Sering saling jadi menyebalkan satu sama lain, tapi tiap ada makanan, selalu disisihkan untuk gue. Tiap istrinya masak makanan enak, selalu diselundupkan cuma untuk gue (soalnya nggak enak sama yang lain karena nggak kebagian). Kalau gue sendirian di ruangan, beliau selalu nungguin karena tahu gue penakut akut.
Gue tahu makanan apa yang beliau boleh makan dan nggak. Hampir setiap hari beliau minta dibelikan fish and fries ke gue karena cuma itu yang bisa beliau makan. Gue selalu ngomel kalau beliau lemburnya bablas karena gue tahu rumahnya jauh, dan beliau sudah nggak lagi bugar.
Beliau tipikal bapak-bapak teduh. Jalannya pelan, tertawanya renyah, kalau ngomel judes banget tapi sepersekian detik lunak lagi.
Ingat banget dulu satu unit ke Dufan, dan beliau cuma ikutin rombongan gue main, nunggu di depan wahana sambil lihatin kita. Kalau di suruh istirahat, nggak mau, bilangnya, “Udah main aja, bapak lihatin kalian.”
Gue nggak peduli sebete apa orang-orang ke beliau kalau menyangkut kerjaan, bagi gue beliau adalah “Bapaknya gue.”
Sampai satu hari beliau meninggal. Di rumah duka, gue memperkenalkan diri ke istrinya, lalu di depan Pak Agus gue janji, “Aku nggak akan lupa sama keluarga kecil Bapak.”
Keluarga kecil yang selalu beliau banggakan. Cerita perjalanan cintanya yang selalu beliau ulang-ulang ke gue tiap jam 5 sore. Kesombongan beliau soal makanan istrinya yang enak. Kebanggaan beliau soal anaknya yang cerdas. Keluarganya kecil, hanya ada istri dan satu anak. Kalau dari cerita si Bapak, mereka berbahagia dalam sunyi.
Sampai hari ini, hubungan gue sama istrinya sangat baik. Dari anaknya masih SMP sampai sekarang sudah kuliah, jalinan silaturahim kita nggak terputus. Kalau ada apa-apa, istrinya selalu menghubungi. Tiap natal, beliau selalu kirim ayam bakar buatan sendiri dan tiap hari raya, gue selalu kirim nastar buatan Mamah.
Begitu terus selama bertahun-tahun.
Lebaran kemarin, istrinya kirim teflon buat Mamah. Katanya tiba-tiba ingat kalau si Mamah suka masak. Tahun kemarin, beliau kirim satu set sprei biru buat gue, katanya biar gue tidur nyenyak 🥹
Gue bersyukur atas ikatan sederhana ini. Simpulnya nggak rumit tapi erat dan nggak terputus meskipun si penghubung utamanya hilang. Sebab setelah kepergian Bapak, kita punya penghubung baru. Kebaikan Pak Agus yang kita lestarikan bersama-sama.
Gue setuju dengan kalimat, “Panjang umur kebaikan.” Orangnya memang mati, tapi baiknya terus hidup di sela-sela kehidupan kita yang masih bernapas di sini.
The OP who filmed this fancam is a fan of another artist but they said that EXO's 'Growl' received the best response from the audience out of all the stages at MMA today! The response was truly insane and their performance was equally as amazing as well 👏🏻
https://t.co/Vf0MyTrU6C
@iyasudadeh_@tang__kira Emg ajg. Makanya gw dr dulu selalu blg pemerintah sama rakyat emg kudu di-reset besar-besaran, skg ini udh gabisa nyalahin pemerintah doang. Ga rakyat, ga pemerintah, semua pada gila. Mana gw rakyat indonesia jg lagi (yg gk gila).
"ta, udah sah ya" suara telfon dari ambu, seorang adik yang kehilangan kakaknya di tragedi 98, seorang ibu yang anaknya turun aksi hari ini, yang pernah dipukulin militer saat aksi aksi lalu. @DPR_RI lo semua berurusan sama doa seorang ibu, kaparat.
@seaoflatte Inget kisah dialog buya hamka sama rang amrik ga? Nih rang amrik awalnya nanya kok waktu dia ke mekah dia masih nemuin tempat maksiat, terus ditanggapi sama buya kalo waktu dia ke amrik dia ga nemuin tempat maksiat. Moral ceritanya mau di tempat mana pun maksiat manusia yg cari.
Ini miriiiippp banget sama kekhawatirannya Abu Dzar Al-Ghifari radiyallahuanh.
Kalo temen2 pernah denger hadits yg bilang bahwa setiap tasbih itu sedekah, tahmid itu sedekah, takbir itu sedekah, itu krn Abu Dzar yang nanya ke Nabi.
Jd ceritanya gini;
@restinyourwings Aku jd inget lagu rap korea, yg liriknya tentang seorang ibu, yg ketika udh punya anak, 'nama'nya sendiri hilang, digantikan jadi ibunya si ini, ibunya si itu... as if she doesn't have her own identity