Tolong Pelayanan Publik, khuSUsnya Perpanjangan SIM dan STNK buka di hari Sabtu-Minggu!
Masak kita harus ngajuin cuti atau potong gaji dari kantor cuma demi bayar pajak ke Negara?
Sementara Pegawai yang gajinya dari Pajak kita Sabtu/Minggu malah libur!
Kimbek lah…
Pukimak betul kalian ini. Berkelahi dan saling mempermalukan satu sama kalian lalu cipokan didepan kami. Besok-besok jangan lagi gunakan kalimat ‘Kita ini negara hukum’. Kalian menunjukkan ini bukan negara hukum tp ini negara milik nenek klean.
Kenapa para seniman menolak 'keterlibatan' Didit Hediprasetyo, anak Presiden Prabowo, dalam ArtJog 2026? #bbcindonesiamenjelaskan
https://t.co/z6meW4BsWZ
Nah.. siapa tuh yang keberatan sampai mau nuntut ke pengadilan saat MBG mau distop? Padahal ini cuma sementara karena libur. Yang ngamuk gabungan pengusaha. Anak-anak dan ibu hamil mah woles. Sebelum ada MBG juga mereka makan kok.
Jadi MBG untuk siapa?
@BeruntungSukses@MuhadklyAcho Dengan naiknya suku bunga acuan, sektor riil musti sabar juga. Semoga aja makin menguat rupiah nya, mumpung dollar juga lagi melemah.
MOL ROTI BASI (Fermentasi Sederhana Penghidup Tanah)
Dari sisa dapur, jadi penggerak kehidupan tanah.
Banyak yang mengira roti basi itu sampah.
Padahal, kalau difermentasi dengan benar, bisa jadi MOL (Mikroorganisme Lokal) yang bermanfaat untuk tanaman.
Fermentasi ini menghasilkan mikroba baik seperti ragi dan jamur pengurai yang membantu menyuburkan tanah secara alami.
Bahan & Takaran
Roti basi secukupnya (± 3–5 potong)
Air cucian beras → 10 liter
Gula merah / molase → 10 sendok makan
Cara Membuat :
Sobek kecil-kecil roti basi
Masukkan ke dalam wadah tertutup (jangan terlalu rapat)
Tambahkan air cucian beras
Masukkan gula / molase, aduk rata
Tutup wadah (beri sedikit celah udara)
Simpan di tempat teduh selama 7–14 hari
Ciri berhasil :
Muncul jamur putih
Aroma harum seperti tape / roti
Tidak berbau busuk
Dosis & Cara Aplikasi :
Untuk penyiraman tanah :
Encerkan 1:10 – 1:20
(1 bagian MOL : 10–20 bagian air)
Cara pakai :
Siram ke tanah di sekitar akar
Frekuensi : 1–2 kali per minggu
Hindari semprot langsung ke daun (terutama jika masih banyak jamur aktif)
Manfaat untuk Tanaman
Mengaktifkan mikroorganisme tanah
Mempercepat penguraian bahan organik
Membantu pembentukan kompos alami
Meningkatkan kesuburan & struktur tanah
Merangsang pertumbuhan akar
Catatan Penting
Bau harus harum (tape/roti), bukan busuk
Jika muncul warna hitam/hijau pekat sebaiknya tidak digunakan
Ini bukan pupuk utama, tapi booster mikroba tanah
Tanah yang subur bukan hanya soal pupuk,
tapi tentang kehidupan di dalamnya.
Kadang, dari sesuatu yang dianggap “sisa”…
justru lahir energi baru untuk menumbuhkan kehidupan.
Semoga Bermanfaat...🤍💚
Guys, di Hari Buruh 1 Mei 2026, Prabowo hadir langsung di Monas.
Pidato kenegaraan.
Kebijakan baru untuk buruh.
Suasana meriah. Ratusan ribu orang hadir.
Dan di tengah semua itu 350.000 paket sembako dibagikan kepada para buruh.
Beras 2,5 kg, kopi, teh, gula, sarden, minyak goreng.
Kedengarannya manis.
Sampai lo tahu satu hal yang sangat penting:
Tidak ada yang bisa menemukan anggarannya dari mana.
ICW sudah mencari.
Hasilnya nol.
Indonesia Corruption Watch mencatat bahwa ini bukan pertama kali.
Sejak 2025 sampai sekarang sudah empat kali pemerintah melakukan kegiatan bagi-bagi sembako atau bazar serupa 25 Maret 2025 di Kabupaten Bogor, 20 Maret 2026 saat kunjungan presiden ke Sumatera, 28 Maret 2026 bazar di Monas, dan 1 Mei 2026 di Monas lagi.
ICW sudah mencari informasi anggaran di situs pemerintah dan situs pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Tidak ada. Nihil. Tidak ketemu.
Bulog mengklaim semua anggaran berasal dari "bantuan Presiden" yang dikelola oleh Sekretariat Negara.
Bulog hanya pelaksana teknisnya.
Tapi berapa nilainya?
Dari pos anggaran mana?
Mekanisme pengadaannya bagaimana?
Siapa yang menentukan penerimanya?
Tidak ada yang bisa menjawab karena tidak ada yang bisa ditemukan secara publik.
Empat masalah yang ICW soroti dan ini bukan lebay:
Pertama, anggaran yang tertutup membuka ruang korupsi.
Dan ini bukan teori kosong preseden buruknya sudah ada.
Bansos Covid-19 oleh Kemensos pernah jadi kasus korupsi besar yang menyeret menteri.
Polanya mirip: kegiatan besar, momen tertentu, distribusi masif, transparansi minim.
Kedua, tertutupnya informasi anggaran mencederai prinsip transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.
Uang negara bukan uang pribadi yang bisa dibelanjakan tanpa pertanggungjawaban publik.
Ketiga, pembagian sembako dalam momen kunjungan pejabat atau peringatan hari besar berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan politik dan pencitraan.
Ini yang paling sensitif karena sangat sulit memisahkan mana yang genuine kepedulian sosial dan mana yang kalkulasi elektoral ketika tidak ada transparansi sama sekali.
Keempat, tidak ada kejelasan mekanisme penentuan penerima manfaat.
Siapa yang dapat dan siapa yang tidak? Kriterianya apa?
Kalau tidak ada sistem yang jelas, potensi ketidaktepatan sasaran sangat besar dan yang paling sering terjadi, yang dapat adalah yang dekat dengan penyelenggara, bukan yang paling membutuhkan.
Yang paling ironis dari seluruh cerita ini:
Ini terjadi di Hari Buruh.
Hari di mana jutaan pekerja Indonesia memperingati hak-hak mereka yang masih banyak belum terpenuhi. Upah layak.
Perlindungan kerja.
Kepastian tidak di-PHK sembarangan.
Dan respons pemerintah di hari itu adalah membagikan sembako yang anggarannya tidak bisa ditemukan publik sambil berpidato tentang keberpihakan kepada rakyat.
Bagi-bagi sembako Rp50.000 per paket kepada buruh yang butuh kepastian kerja dan upah layak jangka panjang bukan solusi.
Itu pereda sesaat.
Dan kalau anggarannya tidak transparan itu bahkan bukan sekadar pereda sesaat yang tidak efektif. Itu potensi masalah hukum yang serius.
ICW mendesak satu hal yang sangat sederhana:
Kementerian Sekretariat Negara segera membuka informasi anggaran belanja sembako 2025-2026.
Bukan meminta program dihentikan.
Bukan menuduh korupsi secara langsung.
Hanya meminta transparansi yang seharusnya menjadi standar dasar pengelolaan uang negara.
Kalau memang anggarannya bersih dan prosedurnya benar apa yang ditakutkan dari membuka informasinya?
Justru ketidaktransparanan itulah yang menimbulkan kecurigaan.
Bukan ICW yang menciptakan masalah.
ICW hanya menunjukkan lubang yang sudah ada.
anggaran bansos tidak di ceritakan
anggaran keluar negri juga tidak di certiakan
besok besok ada anggaran apalagi nih
350.000 paket sembako dibagikan di Hari Buruh. Anggarannya tidak bisa ditemukan publik.
Ini sudah terjadi empat kali dalam satu setengah tahun.
Dan Sekretariat Negara belum memberikan penjelasan apapun.
Presiden boleh hadir di Hari Buruh.
Presiden boleh membagikan bantuan kepada pekerja.
Tapi semua itu harus dilakukan dengan uang yang bisa dipertanggungjawabkan secara publik dengan angka yang bisa ditemukan, proses pengadaan yang bisa ditelusuri, dan penerima manfaat yang bisa diverifikasi.
Kalau tidak maka bagi-bagi sembako di Hari Buruh bukan bentuk kepedulian kepada pekerja.
Itu pencitraan dengan uang yang tidak jelas asalnya.
Dan itu jauh lebih berbahaya dari sekadar tidak punya kebijakan sama sekali.
Ketiga Tanaman Ini Terlihat Sama Tapi Berbeda
1. Kemangi (Ocimum × africanum)
Ciri khas:
Daunnya kecil, halus, dan berwarna hijau cerah.
Aroma wangi khas, agak citrus dan segar.
Batangnya lunak.
Bunga berwarna putih kehijauan.
Pagi....
Happy weekend....
Suburkan Tanah dengan Daun Bambu.
Daun bambu bisa dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik dan silika yang membantu memperbaiki struktur tanah serta mendukung kesehatan tanaman.
Berikut 3 cara paling efektif :
1. Mulsa Daun Bambu (Paling Mudah)
Langsung jadi penutup tanah.
Langkah :
Kumpulkan daun bambu kering
Tebarkan di sekitar tanaman (tebal 5–10 cm)
Biarkan membusuk alami
Manfaat :
-Menjaga kelembapan tanah
-Mengurangi gulma
-Menyuburkan tanah secara bertahap
-Mendukung aktivitas mikroorganisme tanah
2. Kompos Daun Bambu
Karena daun bambu tinggi karbon, sebaiknya dicampur bahan kaya nitrogen.
Langkah :
Cacah daun bambu
Campur dengan bahan basah (rumput, sisa dapur, kotoran ternak)
Tambahkan sedikit tanah/kompos lama
Jaga kelembaban (tidak becek)
Aduk seminggu sekali
Siap dalam 1–2 bulan
Ciri kompos matang :
-Warna hitam kecoklatan
-Tidak berbau
-Tekstur remah
3. Rendaman Daun Bambu (POC ringan)
Lebih berfungsi sebagai stimulan mikroba dan nutrisi tambahan ringan.
Caranya :
Masukkan daun bambu ke wadah
Tambahkan air hingga terendam
Tutup longgar
Fermentasi 7–14 hari
Saring & encerkan (1:10)
Gunakan dengan cara disiram ke tanah.
Tips Supaya Lebih Cepat Subur :
-Campur dengan kotoran kambing
-Tambahkan MOL (nasi basi/gula merah)
-Cacah lebih kecil agar cepat terurai
Hasilnya :
•Tanah lebih gembur
• Akar lebih kuat
• Mikroorganisme meningkat
• Tanaman lebih sehat & hijau
Semoga Bermanfaat....🙏
Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon )
Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut
Saya kasih tahu sebab dan alasannya
Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000,
Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena
Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi
Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang)
Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan.
Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah.
Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal.
Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi
Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin
Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi
Panen manual (biaya tenaga kerja).
Pengemasan yang layak.
Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota).
Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya.
Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi.
Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan
Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli.
Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan.
Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton.
Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang
Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga.
Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total.
Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi
Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel.
Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah.
Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Saya punya perspektif yang agak berbeda soal makan-makan di tempat orang meninggal ini. Perspektif ini muncul saat nenek saya meninggal beberapa tahun yang lalu, dan konteksnya pun sebenarnya agak berbeda dengan yang ditulis Mas Bardan ini, sebab keluarga kami merasa tidak direpotkan perkara tenda dsb karena tendanya milik RT sehingga tidak perlu menyewa, dan yang memasang pun juga para tetangga. Kami juga tidak terlalu terbebani dengan masalah uang, sebab di daerah saya, para pelayat yang datang umumnya memberikan santunan. Uang itulah yang nantinya akan digunakan untuk menyuguh tetangga yang hadir.
Saya pribadi merasa kehadiran para tetangga di malam hari (kami menyebutnya lek-lekan) itu benar-benar memberikan penghiburan yang besar bagi saya yang sedang berduka. Saya jadi merasa ditemani. Kedukaan yang saya rasakan itu jadi sedikit berkurang saat tahu banyak tetangga yang mau hadir meluangkan waktunya untuk mendoakan nenek saya. Saya jadi merasa almarhum nenek saya disayang oleh banyak orang.
Bagi saya, itu semacam pesan hangat yang sangat berarti.
Oh ya, sebagai tambahan, walau sudah mendapatkan uang layatan, keluarga saya tetap keluar uang. Sebab uang layatan dari tetangga itu sebenarnya hanya cukup untuk menjamu para tetangga untuk satu atau dua malam saja, sedangkan malam-malam setelahnya (Tidak semua keluarga menggelar lek-lekan sampai 7 hari, sebagian hanya 3 hari) ya dari kocek pribadi. Tapi itu pun tidak banyak, sebab menunya sekadar nasi lesah dan teh hangat.
Saya dan keluarga menganggap uang yang kami keluarkan itu sebagai semacam ongkos tali kasih, sebab selama proses pemulasaraan jenazah, nyaris semuanya dibantu oleh tetangga. Yang memandikan nenek saya, yang mengafani, yang menggalikan kuburnya, yang mencarikan bambu penutup liangnya, yang merangkaiakan bunga ambyang-ambyangnya, yang mengurus kerandanya, semuanya dilakukan oleh tetangga, dan mereka tidak dibayar sama sekali.
Ongkos yang kalau dihitung-hitung, bahkan lebih kecil dari biaya pengurusan pemakaman umum.
Maka, suguhan makanan itu kami niatkan sebagai bentuk terima kasih paling sederhana kepada para tetangga yang sudah ikut meluangkan waktunya untuk membantu proses pemakaman nenek saya.
Dalam konteks itulah saya jadi sukar untuk menganggap buruk tradisi makan-makan di tempat layatan.
Sekali lagi, tentu ini konteksnya terbatas dan subjektif, sebab pasti tidak semua orang punya lingkungan dengan tradisi tolong-menolong yang kental dan sebaik di lingkungan tempat tinggal saya, sehingga pasti membutuhkan ongkos sosial yang jauh lebih besar.
Akar Gantung Beringin
Kapan Boleh Dipotong dan Kenapa Tidak Sembarangan.
Akar gantung pada pohon beringin sering dianggap mengganggu estetika atau aktivitas di bawahnya.
Padahal, baik menurut ilmu titen Jawa maupun sains modern, akar gantung adalah bagian vital dari sistem hidup pohon.
Ilmu Titen Jawa Dipangkas Boleh, Diputus Jangan
Dalam titen Jawa ada prinsip:
ngrawat dudu nglarani
(merawat itu bukan menyakiti)
Artinya, akar gantung boleh ditata, tetapi :
tidak dipotong habis sekaligus
tidak diputus tanpa alasan jelas
tidak dilakukan saat pohon sedang lemah.
Orang tua dulu biasa menunggu :
musim kemarau ringan
atau saat pohon tidak sedang berbuah lebat
Tujuannya agar pohon tidak mengalami guncangan hidup.
Kapan Akar Gantung Boleh Dipotong Secara Ilmiah?
Secara sains, pemotongan akar gantung boleh dilakukan jika memenuhi kondisi berikut :
1. Belum menyentuh tanah
Akar gantung yang masih menggantung di udara dan belum menjadi akar penopang:
boleh dipangkas ringan
dilakukan bertahap
tidak lebih dari sebagian kecil jumlah akar
2. Mengganggu keselamatan publik
Dalam konteks tata kota :
menghalangi jalur pejalan kaki
menutup rambu atau penerangan
berisiko tersangkut kendaraan atau manusia
Pemotongan dilakukan selektif, bukan massal.
3. Untuk perawatan struktur pohon
Pada beberapa kasus, pemangkasan ringan justru membantu :
mengarahkan pertumbuhan
mencegah beban berlebih di satu sisi
menjaga keseimbangan tajuk
Namun harus dilakukan oleh tenaga berpengalaman (arborist), bukan asal potong.
Kapan Tidak Boleh Dipotong?
Baik titen maupun sains sepakat, akar gantung tidak boleh dipotong jika :
sudah menyentuh tanah dan berfungsi sebagai penyangga
jumlahnya banyak dan menopang tajuk besar
pohon sudah tua
dilakukan sekaligus dalam satu waktu
Pemotongan drastis meningkatkan risiko :
pohon stres
cabang patah
bahkan tumbang
Edukasi Pertanian Membaca Tanda Kesehatan Pohon
Dalam dunia pertanian dan kehutanan :
banyaknya akar gantung menandakan pohon sehat dan aktif tumbuh
akar gantung sedikit atau mati bisa jadi tanda stres lingkungan
Petani dan perawat pohon membaca akar gantung sebagai indikator keseimbangan air, tanah, dan nutrisi.
Edukasi Tata Kota Beringin sebagai Infrastruktur Hijau
Di tata kota modern, beringin diperlakukan sebagai :
peneduh alami
pengendali iklim mikro
penyangga tanah ruang publik
Akar gantung adalah bagian dari infrastruktur hijau, bukan gangguan.
Penataan dilakukan dengan prinsip :
keselamatan manusia
kesehatan pohon
keberlanjutan ruang kota
Bukan dengan memangkas habis demi kerapian sesaat.
Titik Temu Titen dan Sains
Apa yang disebut leluhur sebagai :
“ojo dipedhot sembarangan”
dalam sains berarti :
intervensi harus berbasis fungsi dan risiko.
Keduanya bertemu pada satu tujuan: menjaga keseimbangan.
Akar gantung beringin boleh ditata,
tetapi harus dihormati.
Karena ia bukan pengganggu,
melainkan penopang umur panjang pohon dan ruang hidup manusia.
Semoga Bermanfaat...🙏
#TitenJawa
#IlmuTiten
#AkarGantung
#Beringin