Maaf, gue salah satu orang yg nggak kirim tako, chat di streaming pun jarang, jarang jg berinteraksi dengan fandom karna gue menikmati tontonan yang mereka berikan, gue menikmati art, clip, dan au dari fandom. Iri? Jls ada, tpi gue buang jauh jauh karna ngerasa itu gk guna
Halo, semuanya. Saya Arjuna Arkana sebagai leader PANDAVVA mendengar pesan, kritik dan masukan dari teman-teman semuanya. Melihat apa yang terjadi kemarin, saya merasa apa yang dilakukan oleh salah satu staff kami Luna merupakan kesalahan yang sangat fatal. Secara personal, saya meminta kepada tim management/staff untuk mencopot jabatan staff yang bersangkutan langsung efektif hari ini. Terakhir, seluruh kegiatan staff dihentikan untuk sementara waktu.
Saat ini akan ada beberapa penyesuaian terhadap aktivitas PANDAVVA hingga seluruh kegiatan kami dapat kembali berjalan normal.
Terima kasih banyak atas perhatiannya. Mohon berikan kami waktu untuk berbenah diri.
Sbnrnya kalo dr gw yah, solusi problem pdvv ini gampang sih, ini konteksny gw asumsi sendiri ya dinamik grupnya. Tinggal bekuin persona staff, jadikan akun staff anon, akun pribadi staff ya gpp tetap stay tp cabut atribut offi dan minimalisir engage soal official di akun pribadi.
Anak anak baik, ayo istirahat sejenak, jika butuh pelukan, saya disini dengan rentangan tangan untuk semua orang.
Terima kasih sudah berusaha membawa keadilan.
Semoga hal baik membersamai kalian 💐
6 Li are arranged by age from youngest to oldest.
Xavier: 23
Rafayel: 24
Caleb: 25
Valko: 26
Zayne: 27
Sylus: 28
(Xavier doesn't actually have a specific age, but the information that he's 23 years old comes from the in-game main story.)
Aku perlu mikir lama buat nulis ini (i'm trying to be mindful),
Dari satu sisi aku paham kalau penyelesaian perlu dilakukan secara internal lebih dahulu, rembukan, meeting, dkk.
Tapi sebagai fans, aku cukup kecewa tidak ada kejelasan mengenai sanksi maupun tindakan yg diambil-
Bisnis Bareng Teman Tanpa Drama, Emang Bisa?
Jangan bisnis sama teman.
Itulah petuah paling sering aku dengar sejak pertama berbisnis belasan tahun lalu.
Lucunya, selama enam tahun terakhir, aku dengan sadar melanggarnya hampir setiap hari. Malahan bisnis ini yang paling sukses dibanding sebelumnya.
Hampir seluruh tim dan vendorku adalah temanku sendiri atau temannya temanku. Kami jarang buka rekrutmen formal seperti korporat pada umumnya.
Bahkan sesama Vtuber, Iben, pernah juga aku ajak di salah satu eventku. Karena, yang kami percaya cuma dua hal: track record dan portofolio.
Karena kasus yang ramai, aku jadi kepikiran, kenapa model ini bisa bertahan sementara banyak yang berakhir dengan drama dan kehilangan teman.
Setelah dipikir lagi, ternyata jawabannya sederhana. Industri kreatif dan event itu dari sananya memang berjalan dengan jaringan kepercayaan.
Hollywood dan industri film kita juga berjalan dengan cara yang sama. Hampir semua production house besar di dunia dimulai dari lingkaran pertemanan yang saling percaya.
Model rekrutmen formal yang pakai lowongan kerja dan interview panjang justru nggak umum di sini, karena lebih cocok untuk korporasi yang butuh standardisasi ketat.
Industri kita ini ritme kerjanya project based dan butuh orang yang bisa langsung nyambung dari pertama ketemu.
Tapi, kenapa sebagian besar orang yang mencoba bisnis bareng teman malah gagal?
Penyebab kegagalan mereka hampir selalu sama.
Mereka merekrut teman hanya karena faktor pertemanan. Ini perbedaan fundamental yang menentukan segalanya.
Filter pertama yang aku pakai selalu kompetensi. Bukan seberapa lama aku kenal mereka atau seberapa sering kami nongkrong bareng.
Kalau portofolionya tidak ada dan track record enggak jelas, ya sudah. Pertemanan kami tetap jalan tapi nggak untuk kerja bareng.
Banyak orang membalik logika ini. Mereka mulai dari status teman, lalu mencari alasan kenapa orang itu cocok untuk posisi yang dibutuhkan. Hal seperti itu yang biasanya bikin semuanya jadi runyam.
Sebagai Show Director dan EO yang sudah lama di industri ini, aku juga sadar kalau kerja yang sifatnya project based,secara natural punya batas yang jelas.
Begitu acara selesai, maka produksi juga selesai.
Kondisi bikin kita nggak bingung, kapan menentukan posisi sebagai teman, kapan berposisi sebagai rekan kerja. Karena, setiap proyek punya awal dan akhir yang jelas.
Faktor lain yang sering diremehkan adalah betapa kecilnya komunitas ini. Di lingkaran EO dan PH di Indonesia, banyak orang yang saling kenal. Ketika seseorang masuk ke dalam timku, dia mendapatkan tekanan sosial yang besar.
Mereka bukan cuma harus menjaga nama mereka di mataku, tapi juga di seluruh ekosistem. Sekali mengecewakan, maka sulit memperbaiki nama baik. Itulah realitas industri yang berbasis reputasi.
Namun ada satu hal paling susah yang sering jadi titik lemah dari hubungan kerja ini. Hal itu adalah kemampuan untuk tetap berbicara jujur dan keras waktu ada hal yang tidak beres.
Justru karena berteman, godaan untuk menghindari konfrontasi itu sangat besar. Orang cenderung pura-pura nggak lihat kalau ada sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi. Mereka lebih memilih menjaga hubungan personal daripada standar profesional.
Kebiasaan seperti itu yang pelan-pelan membunuh kerja sama tim. Yang berhasil adalah mereka yang bisa memisahkan dua dunia itu dengan sadar. Di luar pekerjaan kita adalah teman, tapi di dalam proyek kita profesional.
Kalau membuat kesalahan fatal, ya berhenti mempekerjakan orangnya, dan cari pengganti.
Memang, kedua belah pihak harus dewasa untuk mengerti perbedaan ini.
Jadi, kalau kamu sedang berpikir untuk mengajak teman masuk ke dalam proyek, pikirkan lagi. Apakah kamu merekrut dia karena kemampuannya atau karena sungkan untuk menolak?
Kalau jawabannya karena sungkan, mungkin petuah itu memang benar untuk kamu. Kalau jawabannya karena kemampuan, selamat datang di model kerja yang sudah berjalan lama jauh sebelum ada istilah startup culture.
smoga abis ini pandavva dan pandavvarna banyak diterpa kabar baik, dijauhkan dri anomali baik luar maupun dalam lingkup mereka, semoga hidup damai, sentosa, sukses, berjaya, dan itulah pokoknya, aamiin!