Airmata membuatku buta
Rindu membungkam semua suara
Kubersujud pada langit puisi
Bahwa rindu itu sepi
Tak perlu ada bunyi
Aku terinjak oleh diamku
Dipapah oleh kancah kesendirian
Anganku tak ramai
Hanya tentang nafas tujuan
Perjalanan dan kebersamaan.
Bagiku, pengkhianatan paling kejam adalah tidak menghargai diri sendiri. Salah satunya adalah dengan mengedepankan orang lain, sekalipun hanya melalui pikiran.
~Juz buah depan Ammu Ala‘.
Sedang membuka buku lama, mengingat yang sudah-sudah. Termasuk tentang stoikisme.
Sebagai manusia yang apa adanya, konsep tenang paling sederhana memang terletak pada: “Nikmati diri sendiri. Jangan susah payah untuk menjadi terkesan di hidup orang lain.“
~Depan Sahah Indo.
Luruskan dulu niatnya, meski istilah kata “Dalalah“ nilainya terletak pada Pendengar bukan Pembicara, dan kadang dimaknai salah, tapi setidaknya kau mulai menata maumu itu.
Cerita orang lain kadang suka menggiurkan. Mendorong pendengarnya ingin berada di dalamnya. Namun aku hanya ingin menjadi pelaku utama, di dalam bisikanmu di hadapan Tuhan. Itu saja, dan semoga.
Tapi aku justru berdiri di atas Bidah itu sendiri.
Mengadakan rindu yang teramat syahdu.
Dengan beberapa dalil yang kuambil,
Mematahkan segala argumentasi yang paling terampil.
~Wadi Muluk.
Secara harfiah, aku bukan Pelaku Bidah.
Aku hanya mengulangi rasa yang telah tumbuh,
dengan segenap kerinduan yang tersusun utuh.
Bidah mungkin berputar dalam aturan Tuhan,
yang tak ada contoh sebelumnya,
yang dimurkai oleh garis-garis perjanjian.
Seperti kata Nurudz-dzolam.
Aku percaya bahwa ucapan adalah senjata paling tajam.
Aku bisa menahan lisan. Tapi sering lemah jika menahan tulisan.
Padahal tulisan adalah lisan kedua.
Jika harus dinalar, tulisan lahir dari hati dan perasaan.
Itu artinya, hati dan perasaanku kini bermasalah.
~Pasar Gamaliyah.
Aku tak tau harus berkata apa,
jika hari itu terjadi.
Aku akan malu sejadi-jadinya.
Bahkan rasanya mati lebih sempurna.
Selebihnya aku akan menanti hari itu.
~Simpang x.
Manusia hanya punya satu hati.
Jika itu patah, aku ragu bahwa ia akan hidup dengan empati.
Mungkin, selebihnya ia hanya ikut alur dan ujungnya mati begitu saja.
~Persimpangan masjid Rifai.
Ada banyak hati yang bergantung pada Tuhan.
Tidak sedikit proses yang ditundanya.
Saat itu terjadi padaku,
Aku selalu mengajarkan pada diriku sendiri,
Bahwa akan ada banyak kejutan.
Aku tak resah, tapi jika kali ini gagal, aku akan benar-benar patah.
~Alun-alun Aslan.
Jika engkau mendidik seorang anak laki-laki, berarti engkau telah mendidik satu individu. Namun, jika engkau mendidik seorang anak perempuan, berarti engkau telah mendidik sebuah umat.
Jika engkau mendidik seorang anak laki-laki, berarti engkau telah mendidik satu individu. Namun, jika engkau mendidik seorang anak perempuan, berarti engkau telah mendidik sebuah umat.