@dina_sulaeman Ideologisasi Tragedi Karbala & spiritualisme Imam Husain adalah pembelajaran & pembuktian tertinggi Iran dalam melawan hegemoni global yg tdk adil & menindas..
إن كان لديك عائلةٌ تُحبك، وبعضُ الأصدقاء الطيبين، وطعامٌ على المائدة، وسقفٌ فوق رأسك، فأنتَ أغنى ممّا تتصوّر.
Jika kamu memiliki keluarga yang menyayangimu, beberapa teman baik, makanan di meja, dan atap di atas kepalamu, kamu lebih kaya daripada apa yang kamu bayangkan.”
Jadilah Singa Meski Diam
Pernahkah kau merasa dijauhi, tanpa tahu sebabnya, hingga angin bisik-bisik membawa kabar: ada yang menyebar cerita tak benar tentangmu? Dan yang paling menyakitkan bukan fitnahnya, tapi bahwa mereka yang kau anggap teman justru percaya—tanpa pernah bertanya. Tanpa tabayun.
Tapi jangan biarkan hatimu dikendalikan oleh penilaian mereka. Kehormatanmu tak lahir dari mulut orang lain, tapi dari ketulusanmu menjalani hidup.
Dan jika mereka menjauh hanya karena satu sisi cerita, bersyukurlah. Mungkin itu cara Allah membersihkan lingkaranmu. Pertemanan yang sejati tak tumbang hanya karena desas-desus.
Ingatlah pepatah lama:
“Teman sejati tak butuh penjelasan. Musuh pun tak akan percaya meski kau beri seribu alasan.”
Maka bila ada yang langsung percaya kabar buruk tanpa pernah mencarimu, ucapkan Alhamdulillah—ternyata dia bukan temanmu. Ia hanya penonton yang menunggu adeganmu jatuh, dan saat itu datang, ia bertepuk tangan paling keras.
Sebagaimana bait hikmah yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i:
أَمَا تَرَى الأَسَدَ تُخْشَى وَهِيَ صَامِتَةٌ؟
وَالكَلْبُ يُخْسَى لَعَمْرِي وَهُوَ نَبَّاحُ
“Tidakkah kau lihat, singa ditakuti meski diam?
Sedangkan anjing diusir, demi hidupku, walau menggonggong nyaring.”
Bait ini mengajarkan: diamnya orang mulia bukan kelemahan. Dan suara keras bukan selalu pertanda kebenaran.
Tak semua yang dekat itu benar-benar teman. Kadang mereka tak peduli apakah cerita itu benar atau salah. Mereka diam-diam hanya menunggu dirimu jatuh dan segera menjauh. Itulah kualitas pertemanan mereka.
Tak perlu dijelaskan.
Tak perlu diluruskan kepada yang tak berniat mendengarkan.
Biarkan saja…
Ada yang pergi tanpa perlu dimengerti,
karena persahabatan itu tak lagi berarti,
dan kehadirannya pun tak pernah sungguh menyertai. Tak perlu disimpan di dalam hati.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Panggung Ego
Ilmu itu cahaya. Tapi tidak semua yang tampak bercahaya benar-benar menerangi. Kadang, yang kita kira ilmu hanyalah kilau dari ego yang dipoles rapi.
Dulu, para ulama belajar ilmu untuk memperbaiki jiwa. Mereka menangis karena takut tak mengamalkan apa yang mereka tahu. Hari ini, banyak yang belajar demi menang debat, tampil di forum, mengejar konten di medsos, atau sekadar tampak cerdas di panggung sandiwara kehidupan.
Padahal ilmu yang sejati seharusnya melunakkan, bukan mengeraskan. Membuatmu tunduk, bukan menundukkan. Tapi entah mengapa, semakin tinggi gelar, kok semakin sulit menerima nasihat. Semakin luas bacaan, justru semakin sempit dada terhadap perbedaan. Ada apa, ya?
Entah sejak kapan kita lebih sibuk membicarakan siapa yang salah di dunia, dan siapa yang selamat di akhirat, ketimbang siapa yang paling bermanfaat untuk sesama. Kita lebih senang menilai cara orang lain sujud, daripada mengukur seberapa khusyuk kita sendiri berdiri di hadapan-Nya.
Di panggung kehidupan ini, ilmu kerap jadi alat untuk mengukur orang lain—bukan menimbang diri sendiri. Padahal ilmu itu seperti air: ia hanya mengalir ke tempat yang rendah. Hati yang tinggi tak akan mampu menampungnya.
Jika yang kita cari dari ilmu adalah panggung, maka kita akan terus gelisah: merasa kurang dihargai, kurang dikenal, kurang disebut. Tapi jika yang kita cari adalah terang bagi hati, cukup satu ayat yang menyentuh, atau satu hikmah yang mengubah arah hidup kita.
Karena ilmu tanpa kebijaksanaan justru menjauhkan kita dari sesama—dan dari rahmat-Nya.
Dan kini, saya pun harus bertanya kepada diri ini:
Apakah yang dicari dari ilmu? Terang bagi hati, atau panggung bagi ego?
Kasih, ilmu tanpa mahabbah darimu hanyalah sirāj yang redup cahayanya, yang menutupi nūr wajahku dan mengaburkan basirah mataku…
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Kawan,
Selalu ada ujian sebelum memperoleh kenikmatan, dan selalu ada pantangan ketika sudah dalam kenikmatan. Maka nikmatilah ujian & pantangan itu dengan Sabar & Senyum.
Kapitan Merah 🍷⚘
Pedang Pembunuh Naga
Puasa Ramadhan mengasah ketajaman jiwamu agar dapat membunuh naga yang bersemayam di dalam dirimu yang selalu condong pada dunia.
"Nia naga urui lete rombia
Kuru epamana hatu intane
Kuru epamana hatu intano
Ing amana duniae".
Kapitan Merah 🍷⚘
PUASA DIAM
Tanda ini jg ada pada Zakaria, kataNya" selama tiga hari kau tak kan bertutur" (Maulana Rumi).
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu, kamu tdk bercakap2 dng manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat". [QS 19:10].
Prinsip Filsafat Stoik: Memahami bahwa dalam hidup ini tidak ada yang kekal, tak terkecuali orang tercinta, sahabat, harta, jabatan & reputasi. Fokus pada apa yang bisa dikendalikan dari pilihan tindakan & sikap kita. Syukuri apa yang ada & Jadilah diri sendiri ⚘
Rahasia DIAM: syahdan, manakala malaikat mengajukan 'keberatan", jg iblis menolak serta membanggakan diri dihadapan Adam as & Allah Swt atas anugerahnya sebagai khalifah di muka bumi. Adam as memilih DIAM. Tapi Allah swt yang langsung menjadi pembela dan juru bicara Adam
ANJING & ULAR
Jangan memelihara ular dengan cara memanjakan perutnya dengan daging. Suatu saat ketika Anda berhenti memberi daging ia akan balik menelanmu. Peliharalah Anjing, tak peduli ia najis & kotor, Anjing tak akan pernah menggonggong & menggigit tuannya meskipun lapar.
Kota Singkawang, kota ikonik di Kalimantan Barat dengan sejarah, budaya dan tradisi yang unik perjumpaan antara budaya Cina, Melayu, dan Dayak. Di sela-sela kegiatan pemulihan gambut, menyempatkan waktu utk memulihkan tenaga & pikiran dng secangkir kopi di Kafe Tiam Rusen 1955.
Wisata sejarah ke Istana Watzikhubillah Kesultanan Sambas, Kalimantan Barat. Salah satu jejak arkeologi kejayaan Islam di nusantara pada masanya..
#MisiRestorasiGambut#PulihkanGambut#KapitanMerah