@adityapramoudya akar masalahnya itu dari sistem yg dikelola oleh para pemerintah itu sendiri, so lebih baik pindah negara atau mau berkorban sendiri.?
kalo ini emang bener berarti udah senajis apa hukum di negara ini.?
persetan jika mereka berbicara biaya proses perawatan evakuasi & segala macam, intinya nyawa tidak ada harganya.!
Tolong Saya.ibu saya mengalami kecelakaan kereta api meninggal dunia tapi pihak kepolisian meminta uang 3 juta 500 ribu di katakan oleh pihak desa. Tolong yang mengerti hukum bantu saya😭😭😭kami orang desa yang tidak tau apapun uang Asuransi dari pihak KAI mengatakan 50 juta namun di potong oleh pihak polisi 15 juta berkata untuk biaya transportasi dan uang 3 juta 500. Tolong saya mohon😭nyawa di negri inj seperti ini ya allah.
Tolong bantu saya siapa pun😭😭🙏🙏kecelakaan ibu saya meninggal dunia tertabrak kereta api kami belum menerima apapun jenis pertanggung jawabaan malah kami harus keluar uang di depan sebesar 3 juta 500 untuk proses jasaharja di katakakan oleh prangkat desa dan yang meminta itu polisi setempat dengan rincian uang 15 juta untuk biaya transportasi urus urus oleh polisi dan uang muka di depan 3 juta 500 keluarga kami berduka namun seperti ini ya allah harus keluar uang lagi untuk proses ny
cc : eylisa_liz
Fun Fact Tentang Orang Dewasa:
Semakin dewasa, lingkaran pertemanan makin kecil. Bukan karena sombong. Tapi karena energi sosial juga ada batasnya.
Lo ngerasa gitu gak?
Semakin dewasa, semakin sadar:
Orang yang tepat nggak bikin lo terus hidup dalam tanda tanya.
Nggak bikin lo setiap hari bertanya:
"Dia sebenarnya peduli nggak, sih?"
"Gw salah apa?"
"Gw kurang apa?"
"Dia masih ingin sama gw gak?"
Hubungan yang sehat bukan berarti tanpa masalah.
Tapi ada kejelasan.
Ada komunikasi.
Ada usaha dari dua arah.
Karena kalau seseorang memang ingin mempertahankan lo, dia nggak akan membiarkan lo terus menebak-nebak posisi lo di hidupnya.
Semakin dewasa, gw justru lebih memilih hubungan yang memberi rasa tenang daripada rasa penasaran.
Sebab cinta yang sehat bukan tentang membuat kita terus bertanya.
Tapi membuat kita merasa, "Gw diterima, dihargai, dan nggak harus terus membuktikan diri."
Pada akhirnya, ketenangan sering kali jauh lebih berharga daripada hubungan yang penuh ketidakpastian.
Apa Saja yang Tidak Pernah Diajarkan Saat Lo Menjadi Orang Dewasa?
Pernah nggak, lo lagi belanja kebutuhan rumah terus tiba-tiba kepikiran, "Kok dulu rasanya pengen banget cepat jadi dewasa, ya?"
Waktu kecil, kita diajarin matematika, sejarah, bahkan rumus fisika. Tapi anehnya, nggak ada yang ngajarin gimana menghadapi rasa kehilangan, kecewa sama diri sendiri, atau menerima kalau hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana.
Mungkin itu kenapa banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, padahal lagi berusaha bertahan di dalam.
Kenapa topik ini makin relate sekarang?
Semakin bertambah usia, tantangannya bukan cuma soal cari uang. Tapi lo juga belajar menjaga pikiran tetap waras di tengah ekspektasi yang nggak ada habisnya.
Media sosial bikin kita merasa semua orang sudah sampai di tujuan. Ada yang menikah, naik jabatan, beli rumah, keliling dunia. Sementara kita masih sibuk bertanya, "Apa gw udah di jalan yang benar?"
Padahal, hampir semua orang pernah mempertanyakan hal yang sama.
Hal-hal yang ternyata baru dipelajari setelah dewasa
1. Nggak semua orang akan tetap bersama kita.
Pertemanan bisa berubah. Hubungan bisa selesai. Dan itu bukan selalu karena ada yang salah.
2. Hidup nggak harus selalu punya jawaban.
Kadang kita cuma perlu tetap melangkah meski belum tahu arahnya.
3. Bahagia nggak selalu datang dari pencapaian besar.
Bisa jadi dari pulang kerja tanpa beban, ngobrol sama orang tersayang, atau tidur nyenyak setelah hari yang melelahkan.
Hal sederhana yang bisa mulai lo lakukan:
*Berhenti membandingkan timeline hidup dengan orang lain.
*Rayakan progres kecil, bukan cuma hasil besar.
*Beri ruang buat diri sendiri untuk gagal tanpa merasa menjadi orang gagal.
Karena menjadi dewasa bukan tentang tahu semuanya. Tapi tentang belajar menerima bahwa kita akan terus belajar.
Kalau ada satu pelajaran yang paling berharga saat dewasa, mungkin ini:
Kita nggak harus sempurna untuk tetap bertumbuh.
Kalau tulisan ini relate, share ke teman lo yang mungkin lagi ada di fase yang sama. Dan yuk, diskusi di kolom komentar: pelajaran apa yang baru lo pahami setelah menjadi orang dewasa?
Semakin dewasa, gw mulai menerima satu kenyataan yang dulu paling sulit diterima:
Gak semua perpisahan berarti gagal.
Dulu gw selalu mengira kalau sebuah hubungan berakhir, berarti ada yang kurang.Kurang berjuang.
Kurang sabar.Atau kurang mencintai.
Ternyata hidup tidak sesederhana itu.
Ada hubungan yang selesai bukan karena cintanya habis
.
Tapi karena dua orang yang dulu berjalan berdampingan, perlahan punya tujuan yang berbeda.
Yang satu ingin bertahan.Yang satu ingin berubah.Yang satu ingin membangun masa depan yang sama.Yang satu menemukan jalan yang berbeda.
Dan tidak semua perbedaan bisa disatukan hanya dengan rasa cinta.
Kadang, mencintai juga berarti menerima bahwa tidak semua orang ditakdirkan menemani kita sampai akhir cerita.
Bukan karena mereka orang yang jahat.Bukan karena kita kurang baik.
Tapi karena setiap orang punya waktu, arah, dan perjalanan hidupnya masing-masing.
Melepaskan memang menyakitkan.
Tapi memaksa dua orang tetap bersama ketika mereka sudah berjalan ke arah yang berbeda, sering kali justru lebih menyakitkan.
Kadang, akhir dari sebuah hubungan bukan bukti bahwa cinta itu gagal.
Melainkan bukti bahwa hidup terus bergerak, dan tidak semua orang ditakdirkan berjalan di jalan yang sama selamanya.
Semakin dewasa, semakin sadar : Ketulusan itu gak perlu dibuktikan setiap hari
Dulu rasanya setiap kali ada salah paham, gw buru-buru menjelaskan.
Setiap kali usaha gw gak dihargai, gw pengen menunjukkan kalau niat gw sebenarnya baik.
Padahal...
Orang yang benar-benar mengenal lo gak akan menilai lo dari satu hari yang buruk.Atau dari satu chat yang telat dibalas.Atau dari satu kesalahan yang gak disengaja.
Mereka akan melihat polanya.
Apakah selama ini lo konsisten hadir.Apakah selama ini lo tulus.Apakah selama ini lo berusaha.
Karena karakter dibangun dari kebiasaan, bukan dari satu momen.
Kalau seseorang hanya melihat satu kesalahan lalu melupakan seratus kebaikan yang pernah lo lakukan...
Mungkin yang kurang bukan ketulusan lo.Tapi kesempatan yang mereka berikan untuk benar-benar mengenal siapa diri lo.